Latar Belakang Revolusi Hijau dan Dampaknya di Indonesia

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Revolusi Hijau merupakan sebuah perubahan revolusioner dalam dunia pertanian yang dimulai pada pertengahan abad ke-20. Revolusi ini membawa perubahan besar dalam produksi pangan dunia. Jadi menjadi sangat penting untuk tahu latar belakang Revolusi Hijau.
Menurut buku Dari Revolusi Neolitik hingga Pertanian Kuno, Mikael Eskelner (hal:2), Revolusi Hijau adalah serangkaian inisiatif penelitian, pengembangan, dan transfer teknologi, antara tahun 1940-an dan akhir 1970-an. Hal ini meningkatkan produksi pertanian di seluruh dunia, terutama di akhir tahun 1960-an.
Latar Belakang Revolusi Hijau yang Menarik Diketahui
Sebetulnya apa yang menjadi latar belakang Revolusi Hijau? Latar belakang dilaksanakannya Revolusi Hijau sebagai cara meningkatkan produktivitas pertanian adalah adanya kekhawatiran terjadinya kelaparan dan kemiskinan yang disebabkan tidak seimbangnya tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat dengan pertumbuhan pertanian yang lambat.
Revolusi Hijau adalah sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan produksi pangan dunia agar dapat mengimbangi pertumbuhan populasi yang cepat.
Revolusi hijau dimulai oleh seorang pakar agronomi, Norman Borlaug, yang berhasil menciptakan varietas baru benih gandum pada 1940-an, lalu membudidayakannya di Meksiko.
Norman Borlaug juga mempromosikan penggunaan pupuk kimia dan sistem irigasi modern. Dalam kurun waktu dua dekade, Meksiko yang awalnya negara pengimpor gandum pun mampu meningkatkan dua kali lipat produksi gandumnya hingga menjadi swasembada dan pengekspor gandum.
Revolusi hijau pun mulai diterapkan di negara lain, seperti India, Pakistan, Turki, dan negara lainnya, termasuk Indonesia.
Baca juga: Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Bagi Masyarakat
Dampak Revolusi Hijau bagi Indonesia
Program revolusi hijau di Indonesia dimulai pada masa orde baru melalui program Bimas (Bimbingan Massal) dan Panca Usaha Tani. Program ini memberi dorongan pada para petani dengan upaya berikut ini:
Menggunakan bibit unggul
Pemupukan
Pemberantasan hama dan penyakit
Pengairan
Perbaikan cocok tanam
Program Bimas kemudian berkembang menjadi program Intensifikasi Massal (Inmas). Melalui program Inmas ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan subsidi bibit unggul, pupuk, pestisida, dan teknologi lainnya.
Sejak Indonesia menjalankan program revolusi hijau, Indonesia mampu swasembada beras. Lantas, apa saja dampak Revolusi Hijau bagi Indonesia?
1. Dampak Positif
Menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan besar dunia pada dekade 1980-an.
Meningkatnya kesejahteraan petani.
Menguatnya perekonomian pedesaan.
Meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Membuka kesadaran masyarakat pedesaan akan pentingnya adaptasi teknologi.
2. Dampak Negatif
Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dan pestisida yang tidak ramah lingkungan.
Penggunaan teknologi modern dalam usaha tani yang belum merata menimbulkan kesenjangan.
Munculnya kapitalisasi dalam sektor pertanian.
Latar belakang Revolusi Hijau memberikan manfaat yang besar dan membawa perubahan signifikan dalam sektor pertanian Indonesia. Tentunya meskipun memberikan dampak positif seperti peningkatan produksi padi dan keamanan pangan, tetapi tantangan dan dampak negatif juga perlu diatasi. (VAN)
