Konten dari Pengguna

Materi Kimia Hijau: Prinsip dan Contoh Penerapannya

Ragam Info

Ragam Info

Ragam Info

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi materi kimia hijau - Sumber: pixabay.com/bdyczewski
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi materi kimia hijau - Sumber: pixabay.com/bdyczewski

Materi kimia hijau merupakan salah satu pendekatan dalam ilmu kimia. Fokusnya adalah pada desain produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan penggunaan dan pembentukan zat berbahaya.

Tujuannya adalah untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Jadi, penting untuk memahami materi ini dengan baik.

12 Prinsip pada Materi Kimia Hijau

Ilustrasi materi kimia hijau - Sumber: pixabay.com/jdn2001cn0

Berdasarkan buku Buku Ajar IPA KIMIA Implementasi Kurikulum Merdeka SMA/MA FASE E, Juremi, (2024), materi kimia hijau didasarkan pada 12 prinsip yang dikembangkan oleh Paul Anastas dan John Warner pada tahun 1998.

Berikut adalah prinsip-prinsip dan contoh penerapan yang dilakukan.

  1. Mencegah Limbah: Desain proses kimia yang meminimalkan limbah.

    Contoh: Menggunakan reaksi kimia yang menghasilkan produk akhir tanpa produk samping yang tidak diinginkan.

  2. Maksimalkan Ekonomi Atom: Desain reaksi sehingga sebagian besar atom dari bahan awal berakhir dalam produk akhir.

    Contoh: Sintesis asam adipat dari glukosa melalui biokatalisis.

  3. Menggunakan Metode Sintesis yang Kurang Berbahaya: Pilih rute sintesis yang menggunakan dan menghasilkan zat yang tidak atau kurang berbahaya.

    Contoh: Penggunaan karbon dioksida superkritis sebagai pelarut daripada pelarut organik beracun.

  4. Desain Produk yang Lebih Aman: Desain bahan kimia dan produk agar mereka efektif tetapi dengan toksisitas minimal.

    Contoh: Pengembangan pestisida alami yang tidak berbahaya bagi manusia atau hewan peliharaan.

  5. Menggunakan Pelarut dan Kondisi Reaksi yang Lebih Aman: Pilih pelarut dan kondisi reaksi yang tidak berbahaya.Contoh: Penggunaan air atau etanol sebagai pelarut daripada pelarut organik beracun.

  6. Meningkatkan Efisiensi Energi: Desain proses kimia untuk meminimalkan konsumsi energi.

    Contoh: Menggunakan katalis enzimatik pada suhu dan tekanan ruang untuk mengurangi kebutuhan energi.

  7. Menggunakan Sumber Daya Terbarukan: Pilih bahan baku yang berasal dari sumber daya terbarukan.

    Contoh: Menggunakan biomassa atau bahan-bahan alami sebagai bahan baku kimia daripada bahan baku petrokimia.

  8. Menghindari Derivatisasi yang Tidak Perlu: Hindari penggunaan langkah tambahan yang tidak diperlukan yang dapat menghasilkan limbah lebih banyak.

    Contoh: Langsung menggunakan bahan awal dalam reaksi tanpa perlu modifikasi yang tidak perlu.

  9. Menggunakan Katalis: Memanfaatkan katalis untuk meningkatkan selektivitas dan efisiensi reaksi.

    Contoh: Menggunakan enzim sebagai katalis dalam produksi obat-obatan.

  10. Desain untuk Degradasi: Desain produk agar mereka dapat terurai menjadi zat-zat yang tidak berbahaya setelah digunakan.

    Contoh: Plastik biodegradable yang dapat terurai menjadi bahan yang tidak berbahaya di lingkungan.

  11. Analisis secara Real-time untuk Mencegah Polusi: Mengembangkan metode untuk memantau dan mengendalikan proses secara real-time untuk mencegah pembentukan produk samping yang berbahaya.

    Contoh: Sensor online yang memantau reaksi kimia dan mengatur kondisi reaksi untuk meminimalkan pembentukan limbah.

  12. Mengurangi Potensi Kecelakaan: Desain bahan kimia dan proses yang mengurangi risiko kecelakaan seperti ledakan, kebakaran, dan tumpahan.

    Contoh: Menggunakan bahan kimia dengan titik nyala tinggi untuk mengurangi risiko kebakaran.

Materi kimia hijau merupakan pendekatan yang holistik dan proaktif dalam mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan industri kimia. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, industri kimia dapat bergerak menuju praktik yang aman bagi lingkungan serta manusia. (DNR)

Baca Juga: Contoh Bahan Kimia Anorganik yang Dapat Mengakibatkan Pencemaran Lingkungan