Hantavirus, MV Hondius Pesiar, dan Penyelidikan WHO

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rakeysha Yulita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wabah Hantavirus MV Hondius mengguncang dunia kesehatan global pada Mei 2026. Di atas kapal pesiar mewah yang seharusnya membawa wisatawan menikmati ekspedisi Antarktika, tiga orang meninggal dunia dan sedikitnya empat lainnya sakit kritis—bukan karena badai atau kecelakaan laut, melainkan karena virus yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan gudang tua, hutan, dan hewan pengerat di pedalaman.
WHO kini sedang berpacu dengan waktu untuk memahami sesuatu yang belum pernah terdokumentasi sebelumnya: Apakah Hantavirus ini kini bisa menular dari manusia ke manusia?
Kronologi Wabah di MV Hondius
Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda berangkat dari Ushuaia, Argentina, sekitar 20 Maret 2026, membawa sekitar 150–170 penumpang dan kru dari berbagai negara. Rute ekspedisinya melewati kawasan Antarktika, Kepulauan Falkland, South Georgia, dan pulau-pulau terpencil di Atlantik Selatan, termasuk Tristan da Cunha, salah satu pulau berpenghuni paling terpencil di dunia yang diketahui menjadi habitat berbagai spesies hewan pengerat.
Kasus pertama yang terkonfirmasi adalah pasangan suami istri asal Belanda berusia 69 dan 70 tahun, yang keduanya meninggal dunia. Satu kematian lagi menyusul warga Jerman. Hingga 6 Mei 2026, WHO mengonfirmasi tujuh kasus terkonfirmasi atau terduga Hantavirus di atas kapal, dengan satu pasien asal Inggris masih dirawat intensif di Johannesburg, Afrika Selatan.
Mengapa Dugaan Penularan Antarmanusia Menjadi Alarm Serius?
Dalam sejarah epidemiologi Hantavirus, penularan dari manusia ke manusia adalah pengecualian yang sangat langka, bukan norma. Hampir semua kasus di seluruh dunia terjadi karena seseorang menghirup partikel aerosol dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi, terutama di ruang tertutup seperti gudang atau rumah yang jarang dibersihkan.
Satu-satunya strain Hantavirus yang secara ilmiah terdokumentasi dapat menular antarmanusia adalah virus Andes strain yang berasal dari Amerika Selatan, khususnya Argentina dan Chile. Kasus MV Hondius dimulai di Ushuaia, Argentina, dan melewati pulau-pulau di Atlantik Selatan. WHO pada 5 Mei 2026 mengungkapkan bahwa dugaan penularan antarmanusia terjadi di antara kontak sangat dekat, seperti pasangan suami istri yang berbagi kabin. Dugaan keterlibatan strain Andes masih dalam proses konfirmasi laboratorium.
Apa Itu Hantavirus dan Mengapa Tingkat Kematiannya Tinggi?
Hantavirus adalah kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang menyebabkan dua sindrom klinis utama. Di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia, jenis yang dominan adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang menyerang pembuluh darah dan ginjal. Di Amerika, jenis yang lebih umum adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyebabkan paru-paru terisi cairan akibat kebocoran vaskular yang masif.
Tingkat kematian (CFR) bervariasi sangat signifikan, tergantung strain. Menurut Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, RI Aji Muhawarman, CFR Hantavirus berkisar antara 5–15%, tergantung strain-nya. Namun, untuk strain Andes yang diduga terlibat dalam kasus MV Hondius, data dari Argentina menunjukkan CFR bisa mencapai 32%—lebih dari tiga kali CFR COVID-19 pada awal pandemi.
Situasi di Indonesia Perlu Waspada, Tidak Perlu Panik
Terdapat pertanyaan yang langsung muncul di benak banyak masyarakat Indonesia: Apakah virus ini sudah ada di sini? Jawabannya, ya, tapi dalam skala yang sangat terbatas dan terkontrol. Pada pertengahan 2025, Kemenkes RI melaporkan delapan kasus Hantavirus tipe HFRS di empat provinsi Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Semua pasien dilaporkan sembuh.
Di Indonesia, reservoir utama virus ini adalah tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus tanezumi) bukan hewan eksotis yang jarang ditemui. Risiko paparan ada, terutama di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi buruk. Namun, strain yang ada di Indonesia adalah tipe HFRS, bukan strain Andes yang diduga terlibat dalam kasus kapal pesiar dan diketahui bisa menular antarmanusia.
Evakuasi Dramatis dan Polemik Diplomatik
Pada 6 Mei 2026, tiga pasien berhasil dievakuasi dari kapal di Cape Verde dan diterbangkan ke Belanda dengan prosedur ketat—pasien dibungkus rapat dengan perlindungan khusus untuk mencegah potensi penularan selama penerbangan. Sementara itu, 149 penumpang dari 23 negara akhirnya dievakuasi ke Kepulauan Canary, Spanyol, meski sempat ditolak karena kekhawatiran warga setempat.
Polemik diplomatik ini menyoroti satu kelemahan nyata dalam sistem respons kesehatan global: belum ada protokol standar internasional untuk menangani wabah penyakit infeksius di atas kapal pesiar yang berada di perairan internasional. Lalu, siapa yang bertanggung jawab? Negara bendera kapal, negara terdekat, atau WHO? Kasus MV Hondius kemungkinan besar akan mendorong pembahasan serius tentang kesenjangan regulasi ini.
