Konten dari Pengguna

Taruh Dulu HP-nya, Kita Sedang dalam Satu Meja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reyhanun Dzahabiyyah Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pexels: Lima pemuda sedang bersantai di dalam ruangan, mengobrol, dan menggunakan ponsel di sebuah kafe di Jakarta.
zoom-in-whitePerbesar
Pexels: Lima pemuda sedang bersantai di dalam ruangan, mengobrol, dan menggunakan ponsel di sebuah kafe di Jakarta.

Coba ingat nongkrong terakhirmu, lima orang duduk satu meja di kafe, es americano dan es kopi susu mulai berkeringat, dan camilan yang hanya disentuh sekilas. Tidak bertengkar, juga tidak terasa canggung. Hanya saja, semua kepala menunduk menatap masing-masing layar yang ada di genggaman tangan mereka. Sesekali ada yang tertawa pelan, bukan karena celetukan teman di depannya tetapi karena video yang lewat di beranda ponselnya.

Datang untuk bertemu tetapi yang ada adalah berbagi ruang sambil berselancar sendiri-sendiri. Satu meja, lima layar. Anehnya, kita menganggap itu normal. Ada istilah phubbing, merupakan gabungan kata phone dan snubbing yang artinya kebiasaan mengabaikan lawan bicara demi ponsel. Kita jarang menyebut diri sendiri sebagai pelakunya, padahal tanpa disadari kita semua pernah melakukannya sekaligus menjadi korbannya.

Hadir di Meja, Absen di Percakapan

Masalahnya bukan pada niat. Hampir tidak ada yang sengaja ingin menyakiti temannya dengan sekadar mengecek notifikasi yang ada di ponsel. Namun, pesan yang sampai ke lawan bicara seringkali sama, rasanya ada yang ada di layar itu lebih menarik daripada yang duduk di depannya. Bisa saja tidak benar, tetapi rasanya memang begitu. Dalam pertemanan, rasa sering lebih berpengaruh daripada niat.

Kedekatan tidak dibangun dari seberapa sering kita saling mengirim pesan, melainkan dari kualitas kebersamaan. Obrolan yang seru itu punya ritme, ketika tawa yang tiba-tiba pecah, kalimat yang dipotong karena antusias, cerita yang melebar jauh dari topik awal. Semua itu butuh perhatian utuh. Begitu perhatian terbelah, ritmenya putus. Teman bercerita, kita menjawab "oh iya?" sambil menggulir layar, dan cerita yang mau dibuka ke arah lebih dalam justru berhenti di permukaan.

Ada juga hal-hal kecil yang hanya terjadi ketika kita benar-benar hadir. Kontak mata, wajah yang berubah saat teman menyebut sesuatu yang berat, hening yang nyaman sebelum seorang akhirnya berkata, “Sebenarnya aku lagi capek banget.” momen seperti ini jarang muncul di tengah distraksi. Ia datang ketika ruang kosong dibiarkan kosong.

Baterai Habis, Obrolan Semakin Hidup

Saya pernah merasakannya sendiri. Suatu hari, ketika berkumpul baterai ponsel kami hampir habis bersamaan. Tanpa ponsel di tangan, tidak ada lagi yang bisa dijadikan pelarian sehingga perhatian kami sepenuhnya tertuju pada satu sama lain. Hasilnya diluar dugaan, obrolan mengalir semakin seru, pembahasan bergerak dari hal-hal ringan ke topik yang lebih dalam. Selain itu, kami melakukan permainan apa pun yang dapat dilakukan tanpa ponsel. Malam itu, kedekatan terasa tumbuh begitu nyata. Ia bukan hasil rencana tetapi buah dari kehadiran yang utuh.

Dari pengalaman tersebut, dapat dilihat dalam perspektif Randal Collins pada teori interaction ritual chains. Menurutnya, kedekatan dan solidaritas tumbuh ketika orang berkumpul secara fisik, berbagi fokus perhatian yang sama dan merasakan suasana emosi yang sama. Maka dari situ, akan lahir apa yang ia sebut energi emosional seperti rasa antusias, percaya diri dan ketertarikan satu sama lain. Ponsel bekerja sebaliknya, karena dapat memecah fokus perhatian ke banyak arah sekaligus.

Tentu, tulisan ini bukan ajakan untuk membuang jauh ponsel dari pandangan. Adanya ponsel justru membuat kita dapat menjaga hubungan dengan mereka yang berada jauh dari kita. Akan berbagi kabar duka dan bahagia dalam hitungan detik, bahkan merencanakan pertemuan itu sendiri.

Mulai dari Hal Kecil untuk Nongkrong Lebih Hidup

Permasalahan muncul ketika ponsel menggeser orang yang duduk persis di depan kita. Keberadaannya tidak perlu dibenahi, melainkan kapan dan bagaimana kita memakainya. Memperbaikinya tidak perlu dilakukan secara drastis. Beberapa kebiasaan kecil dapat dicoba untuk perubahan dalam nongkrong berikutnya.

Pertama, phone stack. Semua ponsel ditumpuk di tengah meja dengan layar menghadap ke bawah. Siapa pun yang pertama kali meraih ponselnya harus mentraktir yang lain. Kedengarannya sepele, tetapi aturan sederhana ini sering mengubah suasana, dan biasanya justru mengundang tawa.

Kedua, sepakati jam bebas gadget. Satu jam pertama pertemuan tanpa ponsel sudah cukup. Setelah itu, silakan foto makanan atau balas pesan yang menumpuk.

Ketiga, kalau memang ada urusan mendesak, bilang dulu. "Aku cek HP sebentar ya, lagi nunggu kabar penting." Kalimat sederhana itu membuat teman tahu bahwa kita tidak sedang mengabaikan mereka.

Tidak perlu menunggu semua orang setuju untuk menaruh ponsel lebih dulu. Yang terpenting, mulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Pada akhirnya, hadir sepenuhnya adalah bentuk perhatian paling sederhana yang bisa kita beri kepada teman. Tidak butuh biaya, tidak butuh kata-kata indah, hanya kesediaan meletakkan sesuatu yang selalu ada di genggaman. Notifikasi akan selalu menunggu. Teman yang sedang ingin bercerita, belum tentu.

Jadi, kapan terakhir kali kamu ngobrol sampai lupa cek hp? Kalau jawabannya sudah lama, mungkin inilah saatnya menaruhnya dulu.