Konten dari Pengguna

Merayakan Guru dengan Waras: Melampaui Upacara, Menemukan Manusia

FX Risang Baskara

FX Risang Baskara

Akademisi yang percaya teknologi harus inklusif. Mengajar di Universitas Sanata Dharma, meneliti tentang teknologi pendidikan. Menulis untuk berbagi, berkarya untuk negeri. Percaya bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FX Risang Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan November tahun ini terasa berbeda, setidaknya di atas kertas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak lagi sekadar menetapkan tanggal 25 November sebagai hari keramat, melainkan mendaulat satu bulan penuh sebagai "Bulan Guru Nasional". Sebuah inisiatif yang megah, lengkap dengan logo hati emas yang melambangkan ketulusan, siluet guru yang membimbing murid, dan palet warna-warni yang menjanjikan kegembiraan.

Tema tahun ini, "Guru Hebat, Indonesia Kuat", terdengar gagah. Ia menggema di setiap surat edaran, terpampang di spanduk-spanduk sekolah, dan disisipkan dalam setiap pidato pejabat. Namun, di balik kemegahan visual dan narasi heroik ini, saya mengajak kita untuk berhenti sejenak. Melepaskan kacamata birokrasi dan menatap wajah pendidikan kita dengan mata telanjang.

Apakah "Bulan Guru" ini akan menjadi momentum kebangkitan sejati profesi guru, ataukah hanya akan berakhir sebagai festival ritualitas tahunan yang bising di media sosial namun sunyi di ruang kesejahteraan?

Di Balik Spanduk Emas. Sumber: Ilustrasi generatif DALL·E, OpenAI.

Di Antara Apresiasi dan Ironi Administratif

Membaca Pedoman Penyelenggaraan Bulan Guru Nasional 2025, saya melihat niat baik yang tulus. Ada upaya sistematis untuk mengangkat moral guru melalui berbagai kanal: mulai dari "Anugerah Guru" untuk tokoh masyarakat, hingga kampanye digital #TerimaKasihGuruku yang mengajak murid membuat konten kreatif. Ada dorongan untuk berbagi praktik baik, webinar peningkatan kompetensi, hingga kunjungan media ke sekolah-sekolah.

Ini adalah langkah maju. Pengakuan publik itu penting. Validasi sosial itu (juga) perlu.

Namun, sebagai seorang pendidik, saya tidak bisa menampik rasa getir yang menyelinap. Kita merayakan "Guru Hebat" dengan pakaian adat di lapangan upacara , menyanyikan "Hymne Guru" dengan khidmat, sementara di saat yang sama, ribuan guru honorer masih menanti kepastian status dengan gaji yang seringkali lebih rendah dari tarif parkir di mal. Kita mendorong guru untuk berinovasi dan menginspirasi, tetapi kita sering lupa bertanya: sudahkah kita membebaskan mereka dari belenggu administrasi yang mencekik?

Pedoman HGN 2025 menyerukan agar guru menjadi "pendidik profesional dan bermartabat". Tapi martabat itu bukan hanya soal piagam penghargaan. Martabat adalah tentang jaminan sosial, tentang ruang gerak otonom di kelas, dan tentang perlindungan dari kriminalisasi yang kian marak. Merayakan guru tanpa membereskan masalah fundamental ini ibarat memoles cat pada dinding yang retak strukturnya. Indah dipandang sesaat, namun rapuh di dalam.

Menagih Makna di Balik "Guru Hebat"

Apa definisi "Hebat" dalam tema tahun ini? Panduan visual menggambarkan guru sebagai sosok yang inovatif, humanis, dan inklusif. Guru diharapkan tidak hanya mengajar, tapi menjadi "pengganti orang tua" yang membentuk karakter manusia seutuhnya.

Ini adalah beban ekspektasi yang luar biasa berat. Di era disrupsi teknologi dan krisis moral, guru diminta menjadi superhero tanpa jubah. Mereka harus menguasai AI, menangani bullying, memahami kurikulum yang terus berubah (seperti transisi ke "Berdampak"), sambil tetap tersenyum ramah dan penuh kasih sayang.

Saya khawatir, jika kita tidak hati-hati, narasi "Guru Hebat" ini justru bisa menjadi racun. Ia bisa menjadi alat untuk menormalisasi overwork (kerja berlebih). Seolah-olah guru yang hebat adalah guru yang tidak pernah lelah, yang selalu siap 24 jam, yang mengorbankan kesejahteraan pribadinya demi "pengabdian".

Kita perlu merebut kembali definisi "Hebat". Guru hebat (tentu) bukanlah martir. Guru hebat adalah profesional yang sehat secara mental, sejahtera secara finansial, dan merdeka secara intelektual. Guru hebat adalah mereka yang berani berkata "tidak" pada kebijakan yang tidak masuk akal, demi melindungi hak belajar murid-muridnya.

Dalam konteks "Bulan Guru", kehebatan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa viral konten TikTok yang mereka buat bersama murid atau bahka rekan guru lainnya, melainkan dari seberapa dalam mereka mampu menyentuh nalar dan nurani anak didiknya di ruang-ruang kelas yang sunyi dari sorotan kamera.

Humanisme di Tengah Hiruk-Pikuk Digital

Salah satu poin menarik dalam panduan tahun ini adalah dorongan masif untuk aktivitas digital. Ada tagar #GuruHebatIndonesiaKuat, ada ajakan membuat video apresiasi, ada live Instagram "Ngopi Bareng Bu Nunuk". Kemendikdasmen tampaknya sangat sadar bahwa medan pertempuran persepsi hari ini ada di layar gawai.

Namun, di sinilah letak paradoksnya. Kita ingin memanusiakan pendidikan, seperti kata Ki Hadjar Dewantara, tapi kita merayakannya dengan metrik-metrik algoritma.

Saya (pastinya) tidak anti-digital. Saya dosen teknologi pendidikan. Tapi saya rindu pada perayaan yang lebih membumi. Saya membayangkan, alih-alih hanya berlomba membuat reels terbaik, kepala sekolah dan dinas pendidikan meluangkan waktu satu hari saja untuk benar-benar mendengarkan keluh kesah guru tanpa penghakiman. Saya membayangkan "Bulan Guru" diisi dengan roundtable jujur tentang kesehatan mental guru, bukan sekadar webinar satu arah yang mengejar sertifikat.

Humanisme pendidikan tidak bisa diwakili oleh emoticon hati di kolom komentar. Ia hadir dalam sapaan tulus di gerbang sekolah, dalam kesabaran menghadapi murid yang lambat belajar, dan dalam keberanian membela rekan sejawat yang diperlakukan tidak adil.

Guru Hebat yang Manusiawi. Sumber: Ilustrasi generatif DALL·E, OpenAI.

Harapan: Dari Seremonial Menuju Substansial

Meskipun kritik saya terkesan tajam, saya tetaplah seorang optimis. Saya melihat Bulan Guru Nasional 2025 ini sebagai sebuah pintu masuk, bukan tujuan akhir.

Penetapan satu bulan penuh memberikan kita waktu nafas yang lebih panjang. Jika 25 November adalah puncaknya, maka 29 hari lainnya adalah kesempatan kita untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan substansi.

Bagi rekan-rekan guru, jadikan bulan ini momentum untuk merawat diri dan kolega. Rayakan pencapaian-pencapaian kecil Anda yang tak tercatat di rapor. Kebanggaan profesi tidak harus menunggu pengakuan menteri; ia tumbuh dari binar mata murid yang akhirnya mengerti satu konsep sulit berkat kesabaran Anda.

Bagi orang tua dan masyarakat, mari kita terjemahkan #TerimaKasihGuruku menjadi tindakan nyata. Berhenti membebankan seluruh kegagalan pengasuhan kepada sekolah. Dukung guru ketika mereka mendisiplinkan anak dengan wajar. Kepercayaan Anda adalah apresiasi tertinggi bagi mereka.

Dan bagi pembuat kebijakan, dengarlah pesan tersirat di balik lagu "Terima Kasih Guruku" yang akan dinyanyikan serentak nanti. Di balik lirik yang syahdu itu, ada tuntutan akan keadilan. "Indonesia Kuat" hanya akan menjadi slogan kosong jika pondasinya (para guru) dibiarkan rapuh. Gunakan momentum Bulan Guru ini bukan untuk memanen pujian, tapi untuk menanam kebijakan yang berpihak.

Perayaan Hari Guru Nasional 2025 dengan segala kemeriahannya (seragam adat, logo emas, dan kampanye digitalnya) adalah sebuah simbol. Dan simbol hanya akan bermakna jika ia merujuk pada realitas yang lebih baik.

Mari kita pastikan, ketika spanduk-spanduk Bulan Guru diturunkan pada 30 November nanti, yang tersisa bukan hanya sampah visual, melainkan semangat baru yang menyala di dada setiap pendidik. Semangat bahwa profesi ini, dengan segala luka dan lelahnya, adalah profesi yang paling mulia dan paling krusial bagi masa depan peradaban kita.

Selamat merayakan Bulan Guru. Mari rayakan dengan kritis, dengan gembira, dan dengan kepala tegak.

Salam Cerdas dan Humanis.