Perahu yang Tak Pernah Kandas: Romo Mangun dan Panggilan Pendidikan Kita

Akademisi yang percaya teknologi harus inklusif. Mengajar di Universitas Sanata Dharma, meneliti tentang teknologi pendidikan. Menulis untuk berbagi, berkarya untuk negeri. Percaya bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari FX Risang Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kepada Romo Y.B. Mangunwijaya, yang perahunya masih berlayar dalam hati kita semua.
Air danau makin meninggi. Entah sudah berapa desa tenggelam di sini. Ketika Joko Pinurbo menulis puisi "Perahu" pada 1999 sebagai persembahan untuk Romo Y.B. Mangunwijaya yang baru saja berpulang, ia tanpa sadar memberikan cermin yang tepat untuk merefleksikan tema Hari Kebangkitan Nasional 2025: "Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat". Di tengah gegap gempita perayaan ke-117 tahun kebangkitan, pertanyaan mendasar muncul: apakah kita benar-benar bangkit bersama, atau justru membiarkan perahu-perahu kepahlawanan sejati tenggelam dalam gelombang birokrasi dan politik simbolik?

Logo Kebangkitan dan Ironi Kenyataan
Logo Harkitnas 2025 menampilkan angka 117 yang "tegas dan kokoh", pilar kebangsaan yang kuat, dan lengkungan emas yang menggambarkan gerakan bangkit yang "fleksibel namun kuat". Namun, di balik simbolisme visual yang indah itu, kita perlu bertanya: seberapa tegaskah komitmen kita untuk mengangkat mereka yang sudah terbukti menjadi pilar kebangsaan sejati?
Romo Mangun dan Frans Seda adalah dua contoh "pilar kebangsaan" yang sesungguhnya. Mereka bukan sekadar simbol dalam logo, melainkan manusia yang telah membuktikan dedikasi nyata untuk Indonesia. Namun, proses pengakuan mereka sebagai Pahlawan Nasional justru mempertontonkan betapa rumitnya sistem birokrasi kita, seolah-olah kepahlawanan harus diukur dengan tumpukan dokumen berlapis, bukan dengan dampak nyata bagi masyarakat.
Pak Guru yang Menyeberang di Era "Bangkit Bersama"
"Setelah sembahyang dan menghitung cahaya lampu di kejauhan, pada tengah malam ia memutuskan pergi ke seberang. Di sana anak-anak sudah tak sabar menunggu dan ingin segera mendapat oleh-olehnya: buku tulis, pensil dan kisah-kisah petualangan yang biasa ia dongengkan dengan jenaka..."
Puisi Joko Pinurbo menggambarkan sosok pendidik sejati yang rela menyeberangi zona nyaman demi anak-anak yang membutuhkan. Ini adalah cerminan sempurna dari semangat "Bangkit Bersama". Romo Mangun tidak menunggu instruksi dari pusat atau anggaran dari pemerintah. Ia bangkit dan bergerak sendiri, lalu mengajak orang lain untuk bangkit bersama.
Ketika tema Harkitnas 2025 mengajak kita untuk "bangkit dari berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun lingkungan," kita patut bertanya: apakah kita sudah meneladani cara Romo Mangun bangkit dari tantangan? Ia tidak sekadar berbicara tentang kemiskinan, tetapi tidur di gubuk bersama warga Kali Code. Ia tidak sekadar mengkritisi sistem pendidikan, tetapi menciptakan Sekolah Eksperimental Mangunan yang menjadi alternatif nyata.
Titik Perubahan atau Titik Stagnasi?
Logo Harkitnas 2025 menyebut "bola merah" sebagai simbol "titik penggerak perubahan". Namun, dalam kasus pengusulan pahlawan, bola merah itu justru terasa mandek di tengah rantai birokrasi yang panjang. Frans Seda telah dua kali diusulkan (2012 dan 2023) namun belum mendapat penetapan. Lima buku dokumen tebal telah disusun, empat seminar telah digelar, 16 karya tulisnya telah didokumentasikan. Namun, "titik perubahan" itu masih terhalang di meja-meja birokrasi.
Romo Mangun, yang baru diusulkan tahun ini, mungkin akan menghadapi jalan yang sama. Padahal, jika kita sungguh-sungguh menginginkan "Indonesia Kuat", bukankah seharusnya kita lebih cepat dalam mengakui dan meneladani mereka yang telah membuktikan cara membangun kekuatan itu?
Gotong Royong Simbolik vs Gotong Royong Substansial
Tema "Bangkit Bersama" dan simbol "gotong royong" dalam logo Harkitnas 2025 terdengar sangat inspiratif. Namun, kita perlu jujur menilai: seperti apa gotong royong yang sesungguhnya kita praktikkan?
Romo Mangun menunjukkan gotong royong yang sesungguhnya. Ketika pemerintah ingin menggusur Kampung Code, ia tidak berpidato tentang gotong royong, tetapi langsung bergotong royong dengan warga untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. Ketika anak-anak jalanan membutuhkan tempat belajar, ia tidak menunggu program dari pusat, tetapi bergotong royong dengan komunitas untuk mendirikan sekolah.
"Meskipun agak gentar sebenarnya, ia meluncur juga bersama sarung dan capingnya." Inilah gotong royong sejati: berani meluncur bersama, menghadapi ketidakpastian bersama, dan jika perlu, tenggelam bersama demi tujuan yang lebih mulia.
Masa Depan yang Terancam Tenggelam
"Sebelum sampai di seberang, ia memutuskan mundur ke tengah. Seluruh kawasan telah dijaga aparat dan cukup sulit mendapatkan tempat mendarat."
Bait ini menjadi metafora yang sangat akurat untuk menggambarkan kondisi reformasi pendidikan dan sosial di Indonesia. Berkali-kali kita mencoba "menyeberang" menuju perubahan substansial, namun sering terhenti di tengah karena terbentur birokrasi, kepentingan politik, atau sistem yang kaku.
Logo Harkitnas 2025 memang menampilkan "garis horizontal biru" yang melambangkan "arah ke depan dan pandangan jauh ke masa depan". Namun, bagaimana kita bisa memandang jauh ke masa depan jika kita masih kesulitan mengakui jasa-jasa masa lalu? Bagaimana kita bisa bergerak maju jika proses pengusulan seorang pahlawan saja harus melalui lorong birokrasi yang berliku selama bertahun-tahun?
Panggilan untuk Benar-Benar Bangkit Bersama
"Pak Guru memang sudah datang. Sayang ia tak juga bangun dan tak akan bangun lagi. Tapi anak-anak, yang ingin segera mendapat oleh-olehnya, tak akan mengerti batas antara tidur dan mati."
Di sinilah letak panggilan untuk kita semua di Hari Kebangkitan Nasional 2025 ini. Romo Mangun dan Frans Seda memang telah "tidur", namun semangat dan visi mereka tidak boleh ikut "mati". Anak-anak Indonesia masih menunggu "oleh-oleh" berupa pendidikan yang memerdekakan, ekonomi yang berkeadilan, dan kepemimpinan yang berpihak pada rakyat.
Jangan biarkan tema "Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat" hanya menjadi hiasan di spanduk dan backdrop acara. Jadikanlah itu panggilan untuk naik perahu bersama, menyeberangi zona nyaman, dan membawa perubahan nyata.
Bagi para pendidik, saatnya bertanya: apakah kita sudah menjadi "Pak Guru" yang rela menyeberang demi anak-anak yang membutuhkan? Bagi para pembuat kebijakan, saatnya merefleksikan: apakah kebijakan Anda benar-benar mencerminkan semangat gotong royong, ataukah masih terjebak dalam ego sektoral?
Bagi para pemuda, momentum Harkitnas ke-117 ini adalah undangan untuk menjadi generasi yang tidak hanya "bangkit" dalam slogan, tetapi bangkit dalam aksi nyata. Tidak usah menunggu diangkat menjadi pahlawan. Mulailah menjadi pahlawan di lingkungan masing-masing.
Kebangkitan yang Autentik
"Barangkali ia sendiri sebuah perahu. Yang dimainkan anak-anak piatu. Yang berani mengarungi mimpi dan menyusup ke belantara waktu."
Inilah definisi kebangkitan yang sesungguhnya: menjadi "perahu" bagi orang lain, berani mengarungi mimpi-mimpi besar, dan menyusup ke belantara waktu untuk menciptakan perubahan yang bermakna.
Romo Mangun telah menunjukkan bahwa kebangkitan nasional yang autentik tidak dimulai dari atas dengan slogan-slogan megah, melainkan dari bawah dengan aksi-aksi kecil namun konsisten. Dari gubuk di Kali Code, ia membuktikan bahwa satu orang yang berkomitmen bisa mengangkat martabat ribuan orang.
Frans Seda membuktikan bahwa kebangkitan ekonomi dimulai dari kebijakan yang berani dan visi yang jauh ke depan. Meski tidak populer saat itu, keputusannya untuk menstabilkan inflasi dan membangun infrastruktur ekonomi menjadi fondasi bagi kemajuan Indonesia di masa-masa berikutnya.
Undangan Menyeberang di Hari Kebangkitan
Air danau sistem birokrasi kita memang makin meninggi. Makin banyak "desa" nilai-nilai kemanusiaan yang tenggelam. Namun, di Hari Kebangkitan Nasional ke-117 ini, kita diundang untuk tidak sekadar menjadi penonton di tepi danau.
Naiklah perahu bersama Romo Mangun. Beranikan diri menyeberanggi zona nyaman. Bawa "pensil dan buku tulis" kepada mereka yang membutuhkan. Jangan menunggu pengakuan atau gelar. Mulailah dari sekarang, dari tempat Anda berada, dengan segala sumber daya yang Anda miliki.
"Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah maria. Seperti hidup yang karam ke dalam doa."
Romo Mangun dan Frans Seda mungkin telah kandas dalam sistem birokrasi kepahlawanan, namun semangat mereka terus berlayar dalam hati kita. Dan mungkin, itulah makna "Bangkit Bersama" yang sesungguhnya: ketika setiap orang memutuskan untuk menjadi perahu bagi orang lain, tanpa menunggu pengakuan, tanpa mengejar gelar, melainkan bergerak karena panggilan nurani.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-117. Semoga bangsa ini benar-benar bangkit, tidak dalam logo dan tema yang indah, melainkan dalam semangat dan tindakan nyata yang mengubah hidup sesama.
Untuk Romo Mangun dan Frans Seda, yang perahu kepahlawanan mereka tak pernah kandas dalam ingatan dan harapan kita.
Salam Cerdas dan Humanis.
