Konten dari Pengguna

Upaya Pencegahan Kerusakan Pada Pemindangan di Tambaksari oleh Mahasiswa UNDIP

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rosid Mustaqim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Sosialisasi dan Edukasi untuk Mencegah Food Deterioration dalam Aplikasi Menjaga Mutu Ikan Segar Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Sosialisasi dan Edukasi untuk Mencegah Food Deterioration dalam Aplikasi Menjaga Mutu Ikan Segar Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal

Sosialisasi dan Edukasi untuk Mencegah Food Deterioration dalam Aplikasi Menjaga Mutu Ikan Segar Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal –Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro kembali menunjukkan perannya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program bertajuk “Penerapan Iptek untuk Peningkatan Produksi Budidaya Perikanan dan Pengolahan Ikan sebagai Upaya Mendukung Ketahanan Pangan”. Salah satu lokasi kegiatan KKN berada di Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, sebuah wilayah yang dikenal memiliki potensi besar dalam bidang perikanan dan pengolahannya.

Potensi tersebut diwujudkan dalam berbagai bentuk usaha, seperti tambak ikan dan usaha pengolahan ikan pindang yang dijalankan secara mandiri oleh masyarakat. Namun, di balik potensi tersebut, masyarakat juga menghadapi berbagai tantangan yang berpengaruh terhadap efisiensi dan kualitas produksi. Salah satu permasalahan yang cukup menonjol ialah menurunnya mutu ikan akibat proses pemindangan yang kurang higienis dan tidak efisien dari segi waktu, serta tingginya populasi lalat di sekitar tempat produksi. Hal ini menjadi faktor penyebab utama terjadinya food deterioration atau penurunan mutu pangan secara cepat pada produk ikan pindang.

Menanggapi kondisi tersebut, Rosid Mustaqim, mahasiswa dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, mengambil inisiatif untuk melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Edukasi untuk Mencegah Food Deterioration dalam Aplikasi Menjaga Mutu Ikan Segar. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga interaktif dan aplikatif, dengan tujuan membantu masyarakat memahami dan menerapkan langkah-langkah sederhana namun efektif dalam menjaga mutu ikan hasil olahan mereka.

Dalam sesi sosialisasi yang dihadiri oleh pelaku usaha pengolahan ikan dan ibu-ibu rumah tangga yang bekerja di sektor ini, Rosid memaparkan berbagai faktor penyebab utama food deterioration, termasuk kontaminasi mikroba, paparan udara terbuka yang berkepanjangan, suhu lingkungan yang tinggi, serta penanganan pascapanen yang tidak sesuai standar higienitas. Ia juga menjelaskan bahwa banyaknya lalat yang berkerumun di area pemindangan menjadi salah satu penyebab kontaminasi silang dan mempercepat kerusakan ikan.

Pemaparan Materi oleh Rosid Mustaqim terkait Sosialisasi dan Edukasi untuk Mencegah Food Deterioration dalam Aplikasi Menjaga Mutu Ikan Segar

Sebagai solusi, diperkenalkan beberapa pendekatan berbasis teknologi sederhana dan tradisional, antara lain:

1. Penerapan Rantai Dingin (Cold Chain) Skala Kecil

Dengan menggunakan kotak pendingin sederhana dan es batu, ikan yang telah dibersihkan dapat disimpan sementara untuk memperlambat aktivitas mikroba sebelum dimasak. Ini menjadi langkah awal penting dalam mempertahankan kesegaran ikan sebelum proses pemindangan dimulai.

2. Penggunaan Penutup Kasa dan Jaring Anti-Lalat

Untuk mencegah lalat hinggap dan bertelur di permukaan ikan, masyarakat didorong untuk menutupi area kerja dengan kain kasa atau jaring halus. Metode ini terbukti efektif mengurangi kontak langsung dengan serangga tanpa perlu bahan kimia.

3. Pemanfaatan Aroma Alami sebagai Pengusir Serangga

Penggunaan daun pandan, serai, dan jeruk purut yang memiliki aroma tajam ditunjukkan sebagai pengusir lalat alami yang murah dan mudah diperoleh di sekitar lingkungan desa.

4. Manajemen Waktu Produksi yang Efisien

Proses pemindangan yang memakan waktu terlalu lama seringkali menyebabkan ikan terpapar udara terbuka terlalu lama. Oleh karena itu, Rosid mendorong sistem kerja berbasis batch kecil agar setiap tahap pemrosesan dapat selesai dalam waktu yang lebih singkat dan higienis.

5. Pengemasan Sederhana Berbasis Modified Atmosphere Packaging (MAP)

Sebagai bagian dari edukasi, dijelaskan pula konsep dasar dari MAP yang mampu memperlambat pertumbuhan mikroba melalui pengaturan atmosfer dalam kemasan. Meskipun teknologi ini umumnya digunakan di industri besar, namun prinsip dasarnya dapat disederhanakan dalam bentuk pengemasan kedap udara yang dilakukan secara manual.

Kegiatan ini disambut antusias oleh warga, terutama kelompok ibu-ibu pengolah ikan yang merasa metode yang disampaikan sangat aplikatif dan bisa diterapkan meskipun dengan keterbatasan alat. Bahkan beberapa peserta menyatakan minat untuk memulai pengemasan ikan secara mandiri dan menyesuaikan jam kerja agar pemindangan selesai lebih cepat dan bersih.

Dalam penutup sesi, Rosid juga menyampaikan pentingnya menghubungkan konsep mutu pangan dengan aspek ekonomi dan keberlanjutan usaha. Mutu produk yang lebih baik tidak hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga memperpanjang masa simpan ikan sehingga memperluas pasar dan menekan potensi kerugian akibat produk rusak. Dengan memperhatikan aspek kebersihan, suhu, waktu, dan pengemasan, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan industri pangan lokal yang kompetitif.

Leaflet materi yang disampaikan oleh Rosid Mustaqim
Leaflet materi yang disampaikan oleh Rosid Mustaqim