Dari Tahu Kotak ke Tahu Bulat: Perubahan Itu Pasti Ada
Tulisan dari Rahman Tanjung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"tahu bulat, digoreng dadakan, lima ratusan, enak, enaaaak…” suara jingle pedagang tahu bulat itu pasti juga pernah anda dengar.
Kalau dulu kita kenal yang namanya tahu baik itu mentah atau sudah digoreng pasti bentuknya kotak atau persegi. Lalu, pernah gak sih terlintas di benak anda tahu yang biasanya bentuk kotak atau persegi, tapi sekarang banyak dijual tahu yang bentuknya bulat, bahkan cukup banyak pembelinya.
Di sini tentunya saya tidak akan menceritakan tentang pedagang tahu bulat atau membagikan resep membuat tahu bulat. Yang menarik di sini adalah tentang perubahan yang terjadi pada tahu tersebut.
Ya perubahan, menurut saya perubahan itu pasti ada di segala bidang. Bahkan mungkin anda pernah mendengar kalimat yang menyatakan bahwa satu-satunya hal yang pasti terjadi dalam kehidupan di dunia ini adalah perubahan.
Ada beberapa definisi perubahan dalam KBBI, yaitu: hal (keadaan) berubah, peralihan, pertukaran. Sehingga perubahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi berubah, beralih atau adanya pertukaran kondisi, kualitas dan atau nilai, baik ke arah positif maupun negatif.
Jenis perubahan
Menurut KH. Marsudi Syuhud, seorang tokoh NU, mengatakan bahwa dalam kehidupan kita sebagai manusia terdapat dua jenis perubahan, yaitu: perubahan yang memaksa kita untuk berubah atau attaghyiir al-ijbary dan perubahan yang direncanakan atau attaghyiir al-ikhtiyary.
Contoh dari jenis perubahan yang memaksa kita berubah adalah kondisi wabah COVID-19 saat ini, yang terpaksa mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia dan menyesuaikan dengan keadaan yang ada saat ini, misalnya saja terkait metode pembelajaran yang awalnya lebih banyak tatap muka (klasikal) saat ini beralih melalui daring.
Contoh lainnya adalah ketika pemerintah mengimplementasikan program konversi minyak tanah ke gas LPG, mau tidak mau sebagian besar ibu-ibu harus mengubah kebiasaan memasak dengan menggunakan gas LPG.
Dalam jenis perubahan yang direncanakan, kita sebagai manusia pasti ingin memperbaiki atau mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik, misalnya dari segi ekonomi atau pendidikan. Dalam rangka memperbaiki taraf hidup tersebut, tentu harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, termasuk menyusun suatu rencana. Contoh lain ketika diimplementasikan dalam suatu perusahan yang ingin maju, juga harus mempersiapkan sumber-sumber daya pendukung baik dari segi kualitas maupun kualitas.
Perubahan dan siklus perubahan
Dalam kehidupan, perubahan itu pasti adanya dan setiap kehidupan di dunia ini pasti memiliki siklus. Menurut Hurlock (2000), tahapan siklus kehidupan manusia, dimulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa muda, dewasa, tua, dan lanjut usia. Dalam setiap tahapan perubahan siklus tersebut, pasti akan terjadi perubahan, baik apa perubahan fisik maupun perilaku.
Ketika seorang anak yang akan beranjak remaja, tentu kedua orang tuanya berusaha mempersiapkan segala sesuatunya agar si anak siap dengan perubahan yang akan terjadi ketika dia beranjak remaja dan menuju dewasa. Mulai dari mempersiapkan pendidikannya, mengajarkan tentang perilaku yang baik, membekali dengan norma agama dan lain sebagainya.
Dalam dunia bisnis atau pemasaran, ada suatu siklus yang dikenal dengan istilah Product Life Cycle (daur hidup produk). Assauri (2004) mengatakan bahwa siklus daur hidup produk terbagi menjadi empat tahapan, yaitu: tahap pengenalan (introduction), tahap pertumbuhan (growth), tahap pematangan (maturity) dan tahapan penurunan (decline). Misalnya saja ketika suatu perusahaan yang sudah memasuki siklus pertama produknya, yaitu pengenalan, tentunya menginginkan agar ada pertumbuhan atas produk tersebut.
Dalam rangka mengubah kondisi dari siklus awal ke siklus kedua, perusahaan harus mempersiapkan dan menyusun strategi yang tepat. Misalnya saja dengan penambahan biaya promosi agar produknya makin dikenal dengan masyarakat dan bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, penjaminan kualitas produk juga harus diperhatikan agar menanamkan kesetiaan pelanggan yang merasakan puas atas manfaat produk yang kita tawarkan.
Perubahan dan inovasi
Berbicara tentang perubahan pasti tak akan lepas dari istilah inovasi, karena pada dasarnya inovasi merupakan suatu proses perubahan yang baru atau memberi nilai tambah terhadap suatu produk atau kegiatan menuju ke arah perbaikan. Inovasi menurut Everett M. Rogers (2003), merupakan sebuah ide, gagasan, objek, dan praktik yang dilandasi dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau pun kelompok tertentu untuk diaplikasikan atau pun diadopsi.
Untuk melakukan inovasi, dibutuhkan juga suatu pemikiran yang kreatif, yang mengacu pada kemampuan untuk memunculkan gagasan atau ide yang unik dan juga bermanfaat sehingga bisa menyelesaikan suatu masalah atau menghasilkan solusi baru untuk masalah tersebut. Ketika tahu goreng yang biasa dijual dalam bentuk kotak kemudian muncul makanan tahu dalam bentuk bulat yang diberikan berbagai macam rasa, hal tersebut merupakan salah satu bentuk inovasi yang dilandasi kreativitas, karena memberikan sentuhan baru yang berbeda dengan tahu goreng pada umumnya.
Bersiap dalam menghadapi perubahan
Sebagian besar orang atau organisasi yang melakukan suatu perubahan tentunya ingin lebih baik lagi, sehingga agar perubahan yang kita inginkan berjalan dengan baik, tentunya harus mempunyai perencanaan yang matang, mempersiapkan sumber daya-sumber daya pendukung dan jangan ragu untuk memulainya. Karena kita tidak akan tahu perubahan yang kita lakukan berhasil atau tidak bila tidak dilakukan.
Fenomena perubahan tahu kotak menjadi tahu bulat adalah salah satu contoh yang patut untuk kita tiru. Perubahan bentuk, ukuran dan rasa baru pada tahu mencerminkan kreativitas dan peningkatan kualitas SDM tukang tahu dalam menghadapi bisnis yang senantiasa berubah.
Maka, jangan ragu untuk berubah menjadi lebih baik, karena perubahan itu pasti ada dan harus dari diri kita yang memulainya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Ar-Ra’d ayat 11, yang artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”

