Antisosial Adalah: Pengertian dan Penyebab Perilaku Antisosial
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perilaku antisosial sering kali menimbulkan pertanyaan di masyarakat karena dampaknya yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini tidak sekadar menggambarkan seseorang yang suka menyendiri, melainkan berkaitan dengan tindakan yang menyimpang dari norma sosial. Pemahaman yang lebih dalam mengenai antisosial sangat penting agar masyarakat dapat mengenali dan menghadapinya secara tepat.
Pengertian Antisosial
Perilaku antisosial merujuk pada seperangkat perilaku yang bertentangan dengan peraturan atau norma yang berlaku di masyarakat (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019 dalam Perilaku Antisosial: Faktor Penyebab dan Alternatif Pengentasannya, mengutip Gaik dkk., 2010). Individu yang menunjukkan perilaku antisosial cenderung selalu berselisih dengan masyarakat dan mengalami kesulitan menghadapi lingkungan sosialnya, karena ketidakmampuannya mengembangkan kesetiaan terhadap seseorang, kelompok, maupun aturan yang berlaku (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Frick (2016, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019) menjelaskan bahwa indikator perilaku antisosial meliputi perilaku yang melanggar hak orang lain seperti agresi, vandalisme, dan pencurian, atau perilaku yang melanggar norma kemasyarakatan yang sesuai usia, seperti membolos dan melarikan diri dari rumah. Definisi ini sejalan dengan tinjauan ilmiah internasional yang menyatakan bahwa perilaku antisosial adalah istilah luas yang mencakup berbagai bentuk perilaku destruktif yang merugikan orang lain atau melanggar hak orang lain, termasuk kekerasan, agresi, perusakan properti, pencurian, pelanggaran hukum, serta bentuk pelanggaran norma lain seperti perilaku mengganggu, manipulasi, berbohong, dan penipuan dalam pengertian yang paling luas (Burt, S. A., Genetic and Environmental Influences on Antisocial Behavior, dalam National Institutes of Health/PMC, 2012).
Ciri-ciri Perilaku Antisosial
Seseorang yang menunjukkan perilaku antisosial dapat dikenali dari beberapa ciri khas. Dewi (2015, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019) menambahkan bahwa perilaku antisosial ditandai dengan adanya perilaku maladjustment seperti minder, senang mendominasi, egois, senang menyendiri, serta kurang peduli terhadap orang lain dan norma. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk perilaku ini bisa berupa pelanggaran aturan, penyerangan fisik terhadap teman, vandalisme atau pengerusakan fasilitas dan barang orang lain, hingga tindakan menarik diri dari lingkungan (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Penyebab Perilaku Antisosial
Fortin (2003, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019) membagi faktor penyebab perilaku antisosial menjadi empat bagian, yaitu faktor pribadi (personal risk factors), faktor keluarga (family risk factors), faktor yang berkaitan dengan sekolah (school-related risk factors), dan faktor sosial (social risk factors).
Faktor Individu
Faktor pribadi berupa sifat kekanak-kanakan dan rendahnya kepedulian kepada orang lain turut mendorong munculnya perilaku antisosial (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Faktor Keluarga
Faktor keluarga menjadi faktor yang paling dominan mendorong perilaku antisosial. Perceraian orang tua, pola asuh otoriter dan permisif, maupun pola asuh yang saling bertolak belakang antara kedua orang tua menjadi penyebab awal munculnya perilaku antisosial pada anak (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019). Gaik dkk. (2010, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019) mengungkapkan bahwa orang tua menjadi faktor penting dalam perilaku antisosial anak, berkaitan dengan bentuk pendisiplinan melalui berteriak, mengancam, ketidakkonsistenan, kurangnya kehangatan orang tua, dan pola asuh yang tidak efektif. Anak dari keluarga bercerai atau orang tua tunggal berisiko lebih tinggi mengembangkan perilaku antisosial dibandingkan anak dari keluarga yang utuh (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Faktor Sekolah dan Lingkungan Sosial
Selain faktor keluarga, faktor yang berkaitan dengan sekolah — seperti pergaulan yang buruk dengan teman di sekolah, perasaan bosan, dan penolakan dari teman sekelas — serta faktor sosial berupa lingkungan pertemanan yang kurang baik turut memperbesar risiko perilaku antisosial (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019). Selain faktor keluarga, gender juga berperan; anak laki-laki memiliki kecenderungan dan frekuensi yang lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku antisosial dibandingkan anak perempuan (Margando & Dias, 2013, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Dampak Perilaku Antisosial
Berikut dampak perilaku antisosial dala berbagai aspek.
Dampak Terhadap Individu dan Masyarakat
Perilaku antisosial berdampak buruk baik bagi pelaku maupun lingkungan sekitarnya. Perilaku melanggar peraturan seperti membolos dan terlambat mengikuti pelajaran berdampak pada tertinggalnya materi pelajaran dan penurunan prestasi akademik. Perilaku penyerangan fisik dan vandalisme merugikan teman-teman yang menjadi korban serta menimbulkan kerugian bagi sekolah karena merusak fasilitas. Sementara itu, perilaku menarik diri berdampak pada rasa percaya diri dan menimbulkan perasaan terasingkan pada pelaku (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Upaya Pencegahan dan Penanganan
Penanganan perilaku antisosial memerlukan keterlibatan berbagai pihak, yaitu peserta didik itu sendiri, orang tua, guru bimbingan dan konseling, wali kelas, guru kelas, teman-teman, dan pihak terkait lainnya (Loeber, 1990, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019). Alternatif penanganan yang dapat dilakukan antara lain pembinaan berulang kali oleh guru BK, konseling, bimbingan klasikal, kolaborasi dengan orang tua untuk menerapkan pola asuh yang sesuai, kolaborasi dengan wali dan guru kelas untuk pengawasan dan pemberian nasihat, dukungan dari teman-teman, serta penerapan metode hadiah (rewards) dan hukuman (punishment) (Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Kazdin (1995, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019) menemukan bahwa anak-anak dengan perilaku antisosial mengalami penurunan perilaku bermasalah setelah menjalani perawatan berupa kombinasi konseling dengan pendekatan kognitif dan perilaku (cognitive-behavioral), didukung pula oleh peran aktif anak, orang tua, dan keluarga. Byrd, Loeber, dan Pardini (2013, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019) menjelaskan bahwa metode hadiah dan hukuman mengambil prinsip pengondisian klasik, di mana pelanggaran norma diberi hukuman agar anak memahami konsekuensi negatif, sementara perilaku baik diberi hadiah berupa pujian atau barang agar anak terkondisikan untuk berperilaku baik.
Selain pendekatan di atas, tinjauan berbasis bukti internasional turut merekomendasikan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Contingency Management (CM) sebagai alternatif penanganan perilaku antisosial pada peserta didik (Brazil dkk., 2016, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019).
Kesimpulan
Perilaku antisosial adalah seperangkat perilaku yang bertentangan dengan aturan atau norma sosial yang berlaku dan dapat merugikan banyak pihak. Penyebab perilaku antisosial meliputi empat faktor utama, yaitu faktor pribadi, faktor keluarga, faktor yang berkaitan dengan sekolah, dan faktor sosial, yang saling berinteraksi dan berkontribusi dalam membentuk perilaku tersebut (Fortin, 2003, dikutip dalam Sari, Fadhilah, & Susilo, 2019). Dengan memahami ciri serta dampaknya secara tepat, masyarakat, keluarga, dan sekolah dapat mengambil langkah pencegahan yang efektif, seperti pembinaan berkelanjutan, kolaborasi lintas pihak, serta pendekatan konseling dan perilaku, agar perilaku antisosial tidak berkembang lebih luas.