Konten dari Pengguna

Avoidant Attachment: Pengertian dan Ciri-ciri Gaya Kelekatan Menghindar

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi avoidant attachment. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi avoidant attachment. Foto Unsplash.

Hubungan manusia memang penuh warna. Salah satu dinamika yang sering muncul adalah adanya perbedaan cara seseorang membangun kedekatan, salah satunya melalui avoidant attachment. Istilah ini merujuk pada pola kelekatan yang membuat seseorang cenderung menghindari keintiman emosional.

Memahami apa itu avoidant attachment dan ciri-cirinya akan membantu mengenali serta mengelola relasi dengan lebih bijak.

Pengertian Avoidant Attachment

Avoidant attachment merupakan salah satu gaya kelekatan yang sering ditemukan pada orang dewasa.

Menurut Shelly Patricia Hartono dan Maria Nugraheni Mardi Rahayu dalam penelitian “Dinamika Psikologis dalam Hubungan Jarak Jauh: Gaya Kelekatan Cemas dan Menghindar sebagai Prediktor Kepuasan Hubungan pada Dewasa Awal”, gaya kelekatan menghindar ditandai dengan kecenderungan menjaga jarak emosional, menghindari keintiman, tidak terlalu bergantung pada pasangan, serta lebih nyaman mempertahankan kemandirian dalam hubungan.

Dalam penelitian tersebut, individu dengan kelekatan menghindar dijelaskan cenderung “tidak percaya dengan pasangannya, menjaga jarak untuk dekat dengan pasangannya, menghindari keintiman, dan cenderung menghindari konflik dalam hubungan.”

Definisi gaya kelekatan menghindar

Avoidant attachment adalah pola kedekatan yang ditandai dengan kecenderungan menghindari keintiman emosional. Orang dengan pola ini biasanya merasa tidak nyaman jika terlalu dekat atau tergantung secara emosional pada pasangan.

Bagaimana avoidant attachment berkembang

Pola kelekatan ini umumnya terbentuk sejak masa kanak-kanak, terutama jika individu tumbuh dalam lingkungan yang kurang responsif terhadap kebutuhan emosional. Seiring waktu, mereka belajar untuk mengandalkan diri sendiri dan menjaga jarak agar tidak merasa rentan.

Ciri-ciri Avoidant Attachment

Mengenali ciri avoidant attachment dapat membantu Anda memahami pola hubungan yang mungkin terjadi. Ciri-ciri ini biasanya tampak jelas dalam interaksi sehari-hari.

Sikap Dingin atau Menjaga Jarak

Seseorang dengan avoidant attachment sering kali tampak cuek atau menjaga jarak, bahkan dalam hubungan yang dekat. Mereka merasa nyaman membatasi kedekatan dan jarang menunjukkan rasa rindu atau membutuhkan perhatian lebih.

Sulit Mengekspresikan Emosi

Orang dengan gaya kelekatan menghindar cenderung kesulitan membagikan perasaan terdalamnya. Mereka lebih memilih menyimpan emosi sendiri dan enggan terbuka, sehingga komunikasi emosional dengan pasangan bisa terasa kaku.

Ketergantungan pada Diri Sendiri

Sikap mandiri menjadi ciri utama. Mereka menolak terlalu bergantung pada pasangan atau orang lain, bahkan saat menghadapi masalah. Rasa percaya diri tinggi, namun kadang membuat hubungan terasa berjarak.

Dampak Avoidant Attachment pada Hubungan

Pola avoidant attachment dapat memberi efek nyata pada kualitas hubungan. Individu dengan gaya kelekatan ini kerap merasa cukup dengan dirinya sendiri, sehingga sulit membangun keintiman yang sehat.

Pengaruh terhadap kepuasan hubungan

Masih dari penelitian yang sama, dijelaskan bahwa gaya kelekatan menghindar berhubungan negatif secara signifikan dengan kepuasan hubungan. Individu dengan gaya kelekatan ini cenderung menghindari konflik, kurang berkomunikasi secara intens, menjaga jarak emosional dari pasangan, dan mengalami kesulitan membangun kedekatan emosional yang stabil.

Kesimpulan

Avoidant attachment merupakan gaya kelekatan yang membuat seseorang cenderung menjaga jarak dan menghindari keintiman emosional. Ciri-cirinya antara lain sikap dingin, kesulitan mengekspresikan emosi, dan ketergantungan pada diri sendiri. Memahami pola ini penting agar Anda dapat menjalani hubungan yang lebih sehat dan mengenali kebutuhan emosional diri sendiri maupun pasangan.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta