Konten dari Pengguna

Deindividuation: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Deindividuation. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Deindividuation. Foto Unsplash.

Fenomena komentar kasar dan saling serang di media sosial sering terasa sulit dikendalikan. Banyak orang yang biasanya sopan dalam kehidupan sehari-hari, tiba-tiba berani menulis hinaan tajam saat bersembunyi di balik akun anonim. Kondisi inilah yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai deindividuation.

Apa Itu Deindividuation?

Dalam psikologi sosial, deindividuation adalah kondisi ketika seseorang merasa kehilangan identitas pribadi saat berada dalam kerumunan, sehingga lebih mudah melanggar norma yang biasanya ia patuhi. Di media sosial, “kerumunan” ini muncul dalam bentuk kolom komentar, grup, atau akun yang diikuti banyak orang. Identitas yang kabur dan rasa menjadi bagian dari massa membuat kontrol diri melemah.

Menurut Ari Wicaksono dan Irwansyah dalam artikel jurnal ilmiah berjudul “Fenomena Deindividuasi dalam Akun Anonim Berita Gosip Selebriti di Media Sosial Instagram” yang diterbitkan di Profetik Jurnal Komunikasi pada 2017, deindividuasi terjadi ketika kadar identitas diri seseorang menurun dan individu terdorong bergabung dalam suatu kelompok. Artikel ini menjelaskan bahwa anonimitas dalam kelompok dapat menurunkan self-awareness dan self-regulation, sehingga akun anonim lebih berani bertindak di luar norma sosial, menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya, serta menggunakan caption atau komentar yang bersifat memojokkan.

Memahami deindividuation menjadi relevan di era akun anonim dan gosip selebriti, karena banyak konflik di media sosial berawal dari suasana “ramai-ramai menyerang” yang muncul tanpa disadari.

Deindividuation dalam Akun Anonim Gosip Selebriti di Instagram

Akun anonim gosip selebriti berfungsi seperti panggung besar tempat ribuan orang berkumpul dan menonton isu yang sama. Pengguna hadir dengan nama samaran, foto profil tidak jelas, dan hampir tanpa konsekuensi sosial langsung. Kondisi ini memperkuat deindividuation karena identitas pribadi tertutup oleh topeng anonim.

Dalam suasana seperti itu, komentar yang muncul sering berisi body shaming, penghinaan, hingga penyebaran rumor yang belum tentu benar.

Masih dari artikel jurnal ilmiah “Fenomena Deindividuasi dalam Akun Anonim Berita Gosip Selebriti di Media Sosial Instagram” karya Ari Wicaksono dan Irwansyah, deindividuasi dalam akun anonim dapat terlihat dari menurunnya self-regulation dan self-awareness pengguna. Artikel tersebut menjelaskan bahwa akun anonim dan follower dapat menunjukkan interaksi negatif, seperti ujaran kasar, ujaran kemarahan, komentar yang menyudutkan selebriti, serta perilaku di luar norma sosial karena identitas diri tidak jelas di mata lingkungan sekitar.

Ciri-Ciri Deindividuation di Media Sosial

Ciri deindividuation di media sosial terlihat dari perubahan cara seseorang berbicara dan bersikap ketika berada di ruang online yang ramai. Identitas pribadi terasa kabur, rasa tanggung jawab terhadap ucapan melemah, dan keberanian melanggar norma sosial meningkat. Orang yang biasanya berhati-hati bisa berubah menjadi agresif saat merasa tidak akan dikenali.

Di sisi lain, suasana kerumunan digital membuat individu lebih mudah terseret arus komentar tanpa berpikir panjang. Dampaknya tidak ringan. Korban bisa mengalami tekanan psikologis, rasa terhina, hingga enggan tampil di ruang publik. Iklim komunikasi digital pun menjadi lebih keras dan jauh dari diskusi yang sehat.

Indikator Deindividuation pada Pengguna Akun Anonim

Beberapa indikator deindividuation pada akun anonim antara lain penggunaan bahasa yang jauh lebih agresif dibanding saat memakai identitas asli. Pengguna cenderung mudah ikut-ikutan komentar negatif tanpa mengecek kebenaran informasi. Sementara itu, selebriti atau tokoh publik sering diperlakukan seolah “bukan manusia” yang punya perasaan, sehingga hinaan ekstrem dianggap wajar.

Masih dari artikel jurnal yang disebutkan sebelumnya, pola komentar pada akun gosip anonim menunjukkan adanya penurunan self-awareness dan self-regulation pada sebagian follower. Artikel tersebut menjelaskan bahwa anonimitas dapat memberi rasa aman bagi pelaku, sehingga muncul interaksi negatif seperti ujaran kasar, ujaran kemarahan, komentar yang menyudutkan personal selebriti, serta keberanian bertindak di luar norma sosial.

Kesimpulan

Deindividuation membantu menjelaskan mengapa perilaku orang di media sosial bisa sangat berbeda dari keseharian mereka. Ketika identitas pribadi tertutup oleh anonimitas dan kerumunan, sebagian orang merasa bebas melanggar norma dan menulis komentar yang menyakiti. Memahami konsep deindividuation membuat kita lebih waspada terhadap perubahan sikap saat berada di ruang digital yang ramai.

Dengan kesadaran itu, pengguna bisa menahan diri sebelum ikut arus komentar, terutama di akun gosip dan ruang anonim lain. Mengelola perilaku online secara lebih sadar menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental semua pihak dan menciptakan ekosistem media sosial yang lebih sehat, meski deindividuation tetap ada di balik layar.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Psikologi Sosial: Memahami Perilaku dalam Interaksi