Konten dari Pengguna

Disorganized Attachment: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Disorganized Attachment. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Disorganized Attachment. Foto Unsplash.

Dalam hubungan dekat, tidak semua orang merasa aman dan tenang saat bersama pasangan. Ada yang justru diliputi rasa takut, bingung, dan sulit mempercayai orang yang dicintai. Pola seperti ini sering berkaitan dengan Disorganized Attachment, yaitu gaya keterikatan yang tidak teratur dan membingungkan, terutama saat hubungan terasa mengancam.

Disorganized Attachment pada Orang Dewasa

Disorganized Attachment pada orang dewasa menggambarkan pola kedekatan yang kacau: kebutuhan akan hubungan sangat kuat, namun rasa takut terhadap kedekatan juga besar. Berbeda dengan secure attachment yang ditandai rasa aman, atau anxious dan avoidant yang masih punya pola jelas, gaya ini cenderung campur aduk dan sulit diprediksi. Pola yang muncul sejak masa kanak-kanak dapat berlanjut dan tampak jelas dalam hubungan romantis.

Menurut Ramona L. Paetzold dan rekan dalam artikel “Disorganized Attachment in Adulthood: Theory, Measurement, and Implications for Romantic Relationships” yang diterbitkan di Review of General Psychology pada 2015, disorganized attachment pada dewasa ditandai oleh rasa takut terhadap figur attachment romantis. Ketakutan ini dapat memunculkan dorongan yang saling bertentangan, yaitu ingin mendekati pasangan untuk memperoleh dukungan saat distress, tetapi sekaligus merasa takut dan ingin menjauh. Artikel tersebut menggambarkan pola ini sebagai perilaku yang kontradiktif, membingungkan, bahkan tampak kacau atau tidak koheren dalam hubungan romantis.

Teori dan Cara Mengukurnya

Secara teoretis, disorganized attachment dipahami sebagai hasil dari pengalaman kedekatan yang bercampur antara rasa aman dan rasa takut. Di satu sisi, figur dekat dibutuhkan sebagai sumber kenyamanan, sementara itu juga diasosiasikan dengan ancaman atau ketidakpastian. Peneliti biasanya mengukur pola ini melalui kuesioner tentang pengalaman romantis, cara merespons konflik, dan seberapa jauh seseorang merasa bingung dengan kedekatan emosional.

Artikel Paetzold dkk. yang sudah disebutkan sebelumnya menjelaskan bahwa pengukuran disorganized attachment pada dewasa penting karena pola ini merupakan konstruk yang berbeda dari attachment anxiety dan attachment avoidance.

Kajian tersebut menekankan bahwa disorganization melibatkan kebingungan, ketakutan, kurangnya kepercayaan, serta perilaku yang kontradiktif dalam relasi dekat. Pola ini diperkirakan dapat memberi kontribusi khusus dalam memahami dinamika hubungan romantis, termasuk ketidakstabilan perilaku, kesulitan menavigasi hubungan, dan rendahnya kepuasan relasi.

Pengaruhnya terhadap Hubungan Romantis

Dalam hubungan, orang dengan pola ini sering memandang pasangan sebagai sosok yang sekaligus menenangkan dan mengancam. Di satu sisi ada keinginan kuat untuk dekat, sedangkan di sisi lain muncul dorongan menjauh saat merasa terlalu rentan. Kondisi ini dapat memicu dinamika tarik-ulur yang melelahkan bagi kedua belah pihak.

Artikel Paetzold dkk. menjelaskan bahwa disorganized attachment pada dewasa berkaitan dengan rasa takut terhadap pasangan romantis, kebingungan dalam menavigasi hubungan, kurangnya kepercayaan, serta perilaku yang kontradiktif antara ingin mendekat dan ingin menjauh.

Kajian tersebut juga menyebut bahwa kemarahan dalam hubungan dapat meningkatkan frekuensi konflik dan mendorong strategi konflik yang kurang efektif, sementara individu dengan pola disorganisasi diperkirakan memiliki kepuasan hubungan yang lebih rendah karena sulit membangun ikatan yang koheren dan saling percaya.

Ciri Disorganized Attachment pada Orang Dewasa

Ciri Disorganized Attachment pada orang dewasa terlihat dari cara seseorang memaknai kedekatan, merespons konflik, dan mengelola rasa takut dalam hubungan. Pola ini sering tidak langsung tampak di awal, namun muncul kuat ketika hubungan mulai serius atau memasuki fase penuh tekanan. Mengenali ciri-cirinya membantu memahami dinamika batin yang dialami, bukan sekadar menilai diri “terlalu dramatis” atau “terlalu sensitif”.

Tanda Psikologis dan Emosional

Secara psikologis, ada kesulitan menggabungkan kebutuhan akan kedekatan dengan dorongan melindungi diri. Seseorang bisa merasa sangat ingin dipeluk dan ditemani, namun beberapa saat kemudian merasa panik dan ingin menjauh. Reaksi emosional tampak tidak teratur: sangat melekat, lalu tiba-tiba dingin atau memutus kontak tanpa penjelasan jelas.

Kebingungan identitas relasional juga sering muncul, misalnya tidak yakin apa peran diri dalam hubungan, atau terus-menerus ragu apakah pasangan benar-benar bisa dipercaya. Pengalaman traumatis atau relasi masa lalu yang penuh ketakutan dapat memperkuat pola ini, sehingga setiap tanda konflik kecil terasa mengancam.

Pola Perilaku dalam Hubungan Sehari-hari

Dalam keseharian, pola ini bisa muncul lewat sinyal campur aduk kepada pasangan. Seseorang bisa mengirim banyak pesan saat merasa cemas, lalu menolak bertemu ketika pasangan merespons terlalu dekat. Saat konflik, reaksinya dapat ekstrem: membeku dan tidak bisa bicara, panik berlebihan, atau bersikap kontradiktif antara ingin putus dan takut ditinggalkan.

Kesulitan mempercayai pasangan berjalan berdampingan dengan ketakutan besar akan penolakan. Di satu sisi, ada kecurigaan bahwa pasangan akan menyakiti atau meninggalkan, di sisi lain ada ketergantungan emosional yang kuat. Mengenali pola seperti ini menjadi langkah awal untuk mencari bantuan profesional, membangun cara berelasi yang lebih aman, dan memberi ruang pemulihan bagi diri sendiri maupun pasangan.

Kesimpulan

Disorganized Attachment menggambarkan gaya keterikatan yang penuh kebingungan, terutama dalam hubungan romantis. Kebutuhan akan kedekatan dan dorongan melindungi diri saling bertabrakan, sehingga emosi dan perilaku kerap berubah-ubah. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang pasangan, merespons konflik, dan merasakan kepuasan dalam hubungan.

Meskipun begitu, pola ini bukan label yang mengikat selamanya. Dengan menyadari ciri Disorganized Attachment, seseorang bisa mulai memahami akar reaksinya, berdialog lebih jujur dengan pasangan, dan bila perlu berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Perubahan mungkin tidak instan, namun langkah kecil untuk mengenali dan merawat luka lama dapat membuka peluang terciptanya hubungan yang lebih aman dan hangat.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta