Konten dari Pengguna

Ekspektasi Sosial Hubungan: Pengertian dan Analisis Berdasarkan Studi Terkini

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ekspektasi sosial hubungan. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ekspektasi sosial hubungan. Foto Unsplash.

Dalam hubungan sehari-hari, kita sering membawa harapan tertentu terhadap orang lain. Ada yang berharap selalu didengarkan saat bercerita, ada yang ingin dihargai dalam pertemanan, ada juga yang merasa kecewa ketika orang terdekat tidak hadir saat dibutuhkan. Harapan-harapan seperti ini sering kali muncul tanpa disadari, tetapi sangat memengaruhi cara seseorang menilai hubungan sosialnya.

Inilah yang disebut sebagai ekspektasi sosial hubungan. Secara sederhana, ekspektasi sosial hubungan adalah harapan seseorang terhadap bagaimana orang lain seharusnya bersikap, merespons, dan hadir dalam sebuah relasi. Harapan ini bisa muncul dalam hubungan dengan keluarga, pasangan, teman, rekan kerja, maupun lingkungan sosial yang lebih luas.

Apa Itu Ekspektasi Sosial Hubungan?

Ekspektasi sosial hubungan bukan hanya soal ingin punya banyak teman atau sering bertemu orang lain. Lebih dari itu, konsep ini berkaitan dengan kualitas hubungan yang diharapkan seseorang. Misalnya, seseorang tidak hanya ingin punya teman, tetapi juga ingin merasa dipahami. Seseorang tidak hanya ingin punya pasangan, tetapi juga ingin merasa dihargai, didukung, dan dilibatkan dalam kehidupan bersama.

Karena itu, seseorang bisa saja terlihat punya banyak relasi, aktif di media sosial, sering bertemu orang, atau punya keluarga di sekitarnya, tetapi tetap merasa kesepian. Hal ini bisa terjadi ketika hubungan yang dimiliki tidak sesuai dengan harapan emosional dan sosial yang ia butuhkan.

Menurut Samia C. Akhter-Khan dan rekan-rekan dalam artikel protokol penelitian berjudul “Development of the Social Relationship Expectations Scale: protocol for a multi-country, multi-method observational study” yang diterbitkan di BMJ Open, ekspektasi terhadap hubungan sosial menjadi penting untuk dipahami karena dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang merasa kesepian. Kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya jumlah hubungan, tetapi juga dapat muncul ketika hubungan yang ada tidak memenuhi harapan seseorang.

Definisi Ekspektasi Sosial Hubungan

Ekspektasi sosial hubungan dapat dipahami sebagai harapan seseorang terhadap bentuk hubungan sosial yang dianggap cukup, bermakna, dan diinginkan. Harapan ini bisa berbeda pada setiap orang. Ada orang yang merasa cukup dengan hubungan yang tidak terlalu intens, sementara orang lain membutuhkan kedekatan emosional yang lebih dalam.

Perbedaan ini wajar karena ekspektasi sosial dipengaruhi oleh banyak hal. Pengalaman masa lalu, kepribadian, kondisi kesehatan, status sosial ekonomi, serta lingkungan budaya dapat membentuk cara seseorang memandang hubungan sosial. Nilai dan norma dalam masyarakat juga ikut memengaruhi apa yang dianggap sebagai hubungan yang baik, layak, atau ideal.

Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang hangat mungkin terbiasa melihat dukungan emosional sebagai bagian penting dari relasi. Sebaliknya, orang yang terbiasa mandiri sejak kecil mungkin memiliki standar berbeda tentang seberapa banyak dukungan yang ia harapkan dari orang lain.

Komponen Utama Ekspektasi Sosial

Dalam kerangka Social Relationship Expectations, terdapat beberapa hal yang dapat membentuk harapan seseorang dalam hubungan sosial. Pertama adalah ketersediaan kontak sosial. Artinya, seseorang berharap ada orang lain yang bisa dihubungi, ditemui, atau hadir ketika dibutuhkan.

Kedua adalah dukungan. Dalam hubungan yang sehat, seseorang biasanya berharap tidak harus menghadapi semua hal sendirian. Dukungan bisa berupa perhatian, bantuan, nasihat, atau sekadar kehadiran orang lain di masa sulit.

Ketiga adalah kedekatan emosional. Hubungan sosial tidak hanya dinilai dari seberapa sering seseorang berinteraksi, tetapi juga dari apakah ia merasa dipahami dan didengarkan. Banyak orang merasa kesepian bukan karena tidak punya teman, tetapi karena merasa tidak ada yang benar-benar mengerti dirinya.

Keempat adalah pengalaman menyenangkan bersama orang lain. Relasi yang baik juga sering terbentuk dari momen sederhana, seperti tertawa bersama, berbagi minat, melakukan aktivitas yang sama, atau menikmati waktu dengan orang lain.

Kelima adalah kesempatan untuk berkontribusi. Manusia tidak hanya ingin menerima dukungan, tetapi juga ingin merasa berguna. Dalam banyak hubungan, seseorang ingin merasa bahwa kehadirannya berarti bagi orang lain.

Keenam adalah rasa dihargai. Seseorang membutuhkan hubungan yang membuatnya merasa bernilai, dilibatkan, dan tidak diabaikan. Ketika rasa dihargai ini tidak terpenuhi, hubungan yang secara fisik tampak dekat pun bisa terasa kosong.

Analisis Ekspektasi Sosial dalam Hubungan

Ekspektasi sosial hubungan penting untuk dipahami karena banyak konflik dan kekecewaan dalam relasi sebenarnya berawal dari harapan yang tidak terpenuhi. Seseorang mungkin merasa kecewa karena temannya tidak memberi kabar, pasangan tidak cukup peka, atau keluarga tidak memberi dukungan seperti yang diharapkan.

Namun, masalahnya, tidak semua harapan ini selalu dikomunikasikan dengan jelas. Kadang seseorang berharap orang lain “seharusnya mengerti”, padahal pihak lain belum tentu memahami kebutuhan tersebut. Akibatnya, muncul jarak emosional, rasa tidak dihargai, atau perasaan bahwa hubungan tersebut tidak lagi memuaskan.

Dalam konteks yang lebih luas, ekspektasi sosial juga berkaitan dengan kesepian. Seseorang bisa tetap merasa sendiri meskipun sering berinteraksi dengan orang lain, apabila interaksi tersebut tidak memenuhi kebutuhan emosionalnya. Karena itu, memahami ekspektasi sosial dapat membantu seseorang melihat dengan lebih jujur: apakah ia benar-benar kekurangan hubungan, atau sebenarnya hubungan yang ada belum memenuhi kebutuhan tertentu?

Struktur Internal Ekspektasi Sosial

Struktur ekspektasi sosial hubungan dapat dilihat dari beberapa dimensi utama, seperti ketersediaan orang lain, dukungan, kedekatan, kesenangan, kontribusi, dan penghargaan. Dimensi-dimensi ini menunjukkan bahwa hubungan sosial bukan hanya soal “ada atau tidak ada orang”, tetapi juga soal bagaimana hubungan itu dirasakan.

Artikel Akhter-Khan dan rekan-rekan menjelaskan bahwa Social Relationship Expectations Scale sedang dikembangkan untuk mengukur ekspektasi sosial secara lebih sistematis. Artinya, alat ukur ini bertujuan membantu memahami bagian mana dari hubungan sosial yang paling penting bagi seseorang dan bagian mana yang mungkin belum terpenuhi.

Hal ini penting karena setiap orang bisa memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada orang yang paling membutuhkan dukungan emosional. Ada yang lebih membutuhkan rasa dihargai. Ada pula yang sebenarnya merasa kesepian karena tidak lagi merasa memiliki peran bermakna dalam hidup orang lain.

Pentingnya Pengukuran Ekspektasi Sosial

Mengukur ekspektasi sosial penting karena rasa kesepian atau ketidakpuasan dalam hubungan tidak selalu mudah dijelaskan. Seseorang mungkin tahu bahwa ia merasa kosong, tetapi tidak tahu bagian mana dari relasinya yang membuatnya merasa demikian.

Dengan memahami ekspektasi sosial, seseorang dapat mengenali kebutuhan relasinya dengan lebih jelas. Misalnya, apakah ia membutuhkan lebih banyak waktu bersama orang lain, komunikasi yang lebih terbuka, dukungan emosional, atau rasa dihargai dalam hubungan.

Bagi peneliti dan praktisi, pengukuran ini juga dapat membantu merancang pendekatan yang lebih tepat. Tidak semua orang yang merasa kesepian membutuhkan solusi yang sama. Ada yang membutuhkan perluasan jaringan sosial, ada yang membutuhkan perbaikan kualitas hubungan, dan ada pula yang perlu menyesuaikan harapannya agar lebih realistis.

Implikasi Penelitian Terbaru

Pengembangan Social Relationship Expectations Scale menunjukkan bahwa hubungan sosial semakin dipahami sebagai sesuatu yang kompleks. Relasi manusia tidak bisa hanya diukur dari jumlah teman, frekuensi bertemu, atau seberapa ramai kehidupan sosial seseorang terlihat dari luar.

Yang tidak kalah penting adalah apakah hubungan itu memenuhi harapan seseorang. Apakah ia merasa didengarkan? Apakah ia merasa dihargai? Apakah ia merasa bisa mengandalkan orang lain? Apakah ia merasa punya peran yang bermakna?

Pendekatan ini juga membantu menjelaskan mengapa standar hubungan sosial dapat berbeda antara satu orang dengan orang lain, bahkan antara satu budaya dengan budaya lain. Apa yang dianggap sebagai hubungan yang dekat, suportif, atau ideal dalam satu lingkungan belum tentu sama dengan lingkungan lainnya.

Kesimpulan

Ekspektasi sosial hubungan adalah harapan seseorang terhadap kualitas relasi yang ia anggap penting dan bermakna. Harapan ini dapat mencakup kebutuhan untuk merasa didukung, dipahami, dihargai, dilibatkan, dan memiliki hubungan yang menyenangkan serta bermakna.

Memahami ekspektasi sosial hubungan dapat membantu seseorang melihat relasinya dengan lebih jernih. Kadang, yang membuat seseorang merasa kesepian bukan karena ia benar-benar tidak punya siapa-siapa, melainkan karena hubungan yang ada belum memenuhi kebutuhan emosional yang ia harapkan.

Dengan mengenali ekspektasi ini, seseorang dapat lebih mudah memahami sumber kekecewaan dalam hubungan, mengomunikasikan kebutuhan dengan lebih baik, dan membangun relasi yang lebih sehat serta realistis.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta