Konten dari Pengguna

Emotional Dependency: Pengertian, Ciri, dan Contohnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Emotional Dependency. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Emotional Dependency. Foto Unsplash.

Emotional dependency sering muncul dalam hubungan dekat tanpa langsung disadari. Seseorang bisa merasa sangat bergantung secara emosional pada pasangan, keluarga, atau teman sampai sulit berdiri sendiri. Pola ini dapat terasa wajar di awal, namun berisiko mengganggu keseimbangan hidup bila dibiarkan.

Apa Itu Emotional Dependency Menurut Psikologi

Dalam psikologi, emotional dependency menggambarkan pola kebutuhan emosional yang sangat kuat kepada orang lain.

Menurut Fernanda Dias Alves, Tábita Pires Peixoto Camacho, dan Elton Euler da Silva Reis dalam artikel ilmiah berbentuk integrative literature review berjudul “Emotional Dependency and the Impacts on the Lives of People: An Integrative Literature Review” yang diterbitkan di International Journal of Scientific Research pada 2023, emotional dependency berkaitan dengan kebutuhan kuat untuk terikat secara emosional dengan orang lain, disertai pencarian persetujuan, validasi, keamanan emosional, dukungan, dan ketakutan akan ditinggalkan atau dinilai negatif.

Definisi dan Ciri-Ciri Utama Emotional Dependency

Secara sederhana, emotional dependency adalah keadaan ketika seseorang merasa tidak tenang tanpa kehadiran atau persetujuan figur tertentu. Orang dengan pola ini cenderung sangat takut ditinggalkan dan terus-menerus mencari kepastian bahwa dirinya diterima. Di sisi lain, mereka sering kesulitan mengambil keputusan sendiri dan mudah mengorbankan kebutuhan pribadi demi menjaga hubungan tetap utuh.

Dampak Emotional Dependency pada Kualitas Hidup

Pola ketergantungan emosional yang kuat dapat memicu kecemasan, rasa tidak berharga, dan kepercayaan diri yang rapuh.

Dalam tinjauan literatur integratif yang disebutkan sebelumnya, Alves dkk. menjelaskan bahwa emotional dependency dapat berdampak pada kehidupan seseorang melalui kesulitan mengambil keputusan secara mandiri, rendahnya harga diri, ketakutan akan ditinggalkan, serta risiko gangguan psikologis seperti anxiety disorders.

Artikel tersebut juga menunjukkan bahwa individu dengan emotional dependency dapat bertahan dalam kondisi relasi yang tidak nyaman, menyakitkan, bahkan penuh penghinaan atau kekerasan, karena cenderung menempatkan kebutuhan pasangan di atas kebutuhannya sendiri.

Contoh Emotional Dependency dalam Kehidupan Sehari-Hari

Agar lebih mudah dikenali, emotional dependency dapat dilihat dari pola perilaku di berbagai jenis hubungan. Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tandanya sering muncul dalam bentuk kecemasan berlebihan saat jauh dari orang yang dianggap penting. Sementara itu, kebutuhan untuk terus diyakinkan bahwa dirinya dicintai atau dihargai juga menjadi sinyal yang patut diperhatikan.

Contoh dalam Hubungan Romantis, Keluarga, dan Pertemanan

Dalam hubungan romantis, seseorang mungkin selalu menuntut kabar, panik saat pesan tidak segera dibalas, dan rela mengabaikan nilai pribadi demi menjaga pasangan tetap bertahan.

Di keluarga, emotional dependency tampak ketika seseorang sangat sulit mengambil keputusan tanpa restu orang tua dan merasa sangat bersalah ketika berbeda pendapat. Lain halnya dalam pertemanan, ketergantungan terlihat dari rasa takut berlebihan ditinggalkan kelompok, sehingga orang tersebut terus menyesuaikan diri walau sebenarnya tidak nyaman.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Alves dkk. menggambarkan emotional dependency melalui pencarian persetujuan, validasi, keamanan emosional, dukungan, serta ketakutan akan ditinggalkan, dinilai negatif, dan kesepian.

Tanda-Tanda Awal Emotional Dependency yang Perlu Diwaspadai

Beberapa tanda awal yang bisa menjadi bahan refleksi diri antara lain:

- Sulit merasa tenang tanpa jaminan atau konfirmasi dari orang tertentu.

- Sering mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi mempertahankan hubungan.

- Merasa tidak berharga jika tidak mendapat perhatian atau respons yang diharapkan.

- Mengalami ketakutan ekstrem terhadap penolakan, konflik, atau kemungkinan perpisahan.

Jika pola-pola ini muncul terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas harian, mencari bantuan profesional bisa menjadi langkah yang bijak.

Kesimpulan

Emotional dependency menggambarkan ketergantungan emosional yang kuat pada orang lain hingga mengganggu kemandirian dan keseimbangan hubungan. Kondisi ini berkaitan dengan rasa takut ditinggalkan, kebutuhan validasi yang konstan, dan kesulitan mengambil keputusan sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut dapat muncul di hubungan romantis, keluarga, maupun pertemanan dengan ciri yang relatif mirip. Mengenali tanda-tandanya sejak awal membantu seseorang menjaga batas sehat dalam relasi, merawat harga diri, dan berani mencari bantuan ketika ketergantungan emosional terasa semakin berat.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta