Emotional Invalidation: Pengertian, Contoh, dan Dampaknya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Emosi sering kali muncul spontan, namun respons orang di sekitar ikut menentukan bagaimana kita memaknai perasaan tersebut. Ada kalanya seseorang justru merasa diremehkan saat mencoba bercerita. Kondisi inilah yang dikenal sebagai emotional invalidation dan bisa memengaruhi hubungan maupun kesehatan mental.
Apa Itu Emotional Invalidation?
Emotional invalidation adalah sikap menolak, mengabaikan, atau mengurangi nilai emosi yang sedang dirasakan seseorang. Bentuknya bisa halus, seperti mengalihkan topik, hingga terang-terangan menyebut emosi orang lain berlebihan.
Menurut Estevania Tricia, Fransisca, Caroline Loe, dan Bonar Hutapea dalam artikel jurnal ilmiah “The Role of Emotional Invalidation and Social Support as a Predictor of Individual Psychological Well-Being in Adulthood” yang diterbitkan di Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi pada 2024, invalidasi emosional terjadi ketika pengalaman emosional seseorang dihukum, diabaikan, diremehkan, ditolak, disalahartikan, atau dianggap tidak pantas. Dalam lingkungan yang tidak mendukung secara emosional, individu dapat menerima pesan bahwa perasaan, pikiran, dan emosi internalnya salah atau tidak penting.
Dalam keseharian, emotional invalidation muncul lewat kalimat seperti “ah, lebay banget”, “kamu terlalu sensitif”, atau “harusnya kamu kuat, jangan nangis”. Sementara itu, ada juga bentuk nonverbal, misalnya pura-pura tidak mendengar, mengganti topik saat lawan bicara mulai terbuka, atau sibuk dengan gawai ketika orang lain sedang curhat. Respons seperti ini membuat pengungkap emosi merasa sendirian, meski secara fisik tidak sedang sendiri.
Perbedaan Emotional Invalidation dengan Penolakan Pendapat
Tidak setuju dengan isi pendapat seseorang berbeda dengan menolak keberadaan emosi yang menyertai pendapat tersebut. Kita bisa saja mengkritik argumen teman, namun tetap mengakui bahwa ia merasa kecewa, takut, atau marah. Di sisi lain, emotional invalidation terjadi ketika fokusnya justru menghapus atau meremehkan perasaan, misalnya dengan mengatakan “nggak usah sedih, itu sepele”.
Kritik terhadap isi pikiran bisa bersifat konstruktif jika disampaikan dengan empati. Sementara itu, menolak emosi membuat orang ragu pada perasaannya sendiri dan dapat merusak rasa aman dalam hubungan. Oleh karena itu, perbedaan ini penting dipahami agar diskusi tetap sehat tanpa mengorbankan kebutuhan emosional.
Dampak Emotional Invalidation terhadap Kesejahteraan Psikologis
Emotional invalidation berhubungan erat dengan penurunan kesejahteraan psikologis. Ketika emosi terus-menerus dianggap tidak sah, seseorang bisa merasa tidak berharga dan enggan membuka diri lagi. Dalam jurnal Psikoneo yang ditulis Estevania Tricia, emotional invalidation dijelaskan sebagai salah satu prediktor yang dapat menurunkan psychological well-being pada masa dewasa, mulai dari rasa puas terhadap hidup hingga kesehatan mental secara umum.
Di sisi lain, kebutuhan akan dukungan emosional tetap ada, sehingga penolakan berulang dapat menimbulkan konflik batin. Orang mungkin mulai mempertanyakan apakah perasaannya valid atau hanya “bermasalah”. Jika berlangsung lama, pola ini bisa memengaruhi cara ia memandang diri sendiri dan orang lain.
Konsekuensi Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, emotional invalidation sering memicu perasaan tidak dimengerti, sedih, marah, atau bingung terhadap emosi sendiri. Seseorang mungkin keluar dari percakapan dengan perasaan “harusnya aku nggak cerita tadi” atau menyesal sudah jujur. Reaksi ini membuat proses menenangkan diri menjadi lebih sulit.
Dalam jangka panjang, risiko yang muncul bisa lebih luas. Orang dapat kesulitan mengenali dan mengelola emosi karena terbiasa menganggap perasaannya salah. Harga diri berpotensi menurun, lalu muncul gejala stres atau masalah psikologis lain.
Menurut artikel yang sama, invalidasi emosi dan dukungan sosial berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis individu pada masa dewasa awal. Dukungan sosial yang mencakup empati, kepedulian, perhatian, dan perasaan didengarkan dapat mendukung kesejahteraan psikologis, sedangkan invalidasi emosi berpengaruh negatif karena individu tidak memperoleh kesempatan yang memadai untuk mengalami, mengekspresikan, dan menerima respons yang memvalidasi emosinya.
Kesimpulan
Memahami emotional invalidation membantu kita lebih peka terhadap cara merespons perasaan orang lain. Emosi yang diakui tidak selalu harus diiyakan, namun butuh dihargai sebagai pengalaman yang nyata. Sikap sederhana seperti mendengarkan, mengucap “aku mengerti kamu lagi sedih”, atau memberi waktu untuk menenangkan diri sudah menjadi bentuk validasi.
Di sisi lain, menyadari dampak emotional invalidation penting agar kita lebih berhati-hati dalam berkomentar. Kesejahteraan psikologis tidak hanya ditentukan oleh apa yang dirasakan, tetapi juga bagaimana lingkungan menanggapi emosi tersebut. Dengan komunikasi yang lebih hangat dan empatik, hubungan bisa terasa lebih aman bagi semua pihak.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta