Fearful Avoidant Attachment: Pengertian dan Ciri-Cirinya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan dekat sering kali terasa rumit ketika seseorang ingin dicintai, namun pada saat yang sama takut disakiti. Pola tarik-ulur ini dalam psikologi dikenal sebagai fearful avoidant attachment dan bisa memengaruhi cara seseorang menjalin relasi sepanjang hidup. Memahami pola ini membantu kita melihat ulang cara berhubungan dengan pasangan, teman, maupun keluarga.
Apa Itu Fearful Avoidant Attachment?
Dalam literatur psikologi, fearful avoidant attachment adalah pola keterikatan yang ditandai kebutuhan kuat akan kedekatan, namun disertai rasa takut ditolak dan cenderung menghindar secara emosional.
Menurut Syavira Ellen dalam artikel jurnal ilmiah “Hubungan Fearful-Avoidant Attachment dan Kesepian pada Wanita Dewasa Awal dengan Fatherless sebagai Mediator” yang diterbitkan di Jurnal Pendidikan Tambusai pada 2026, fearful-avoidant attachment merupakan gaya kelekatan tidak aman yang ditandai oleh kebutuhan akan kedekatan emosional sekaligus ketakutan terhadap penolakan. Pola ini berkaitan dengan pemaknaan individu terhadap keterlibatan figur ayah, kebutuhan akan rasa aman, dukungan emosional, dan keberadaan sosok yang dapat dipercaya dalam hubungan.
Berbeda dengan attachment yang aman (secure) yang ditandai rasa percaya dan nyaman berbagi emosi, fearful avoidant attachment lebih banyak diwarnai kecemasan dan keraguan. Sedangkan pola anxious cenderung melekat dan takut ditinggalkan, dan pola dismissive tampak dingin serta menjaga jarak. Pada fearful avoidant, dorongan untuk mendekat dan menjauh hadir bersamaan sehingga relasi terasa melelahkan. Kondisi ini dapat berpengaruh pada kesejahteraan psikologis, seperti munculnya rasa kesepian, sulit percaya, dan mudah cemas dalam hubungan sosial.
Fearful Avoidant Attachment dan Dinamika Emosi Internal
Di dalam diri, individu dengan pola ini sering mengalami konflik batin: rindu kedekatan, tetapi sekaligus waspada terhadap kemungkinan terluka. Mereka bisa memandang diri kurang layak dicintai, sementara orang lain dianggap berpotensi menyakiti atau meninggalkan. Seperti dijelaskan dalam penelitian Syavira Ellen, model kerja internal yang tidak aman ini membentuk cara mereka membaca sikap orang lain dan menafsirkan dukungan emosional. Akibatnya, regulasi emosi menjadi lebih sulit, rasa aman dalam hubungan mudah goyah, dan hubungan dekat kerap diwarnai kecemasan.
Ciri-Ciri Fearful Avoidant Attachment dan Kaitan dengan Fatherless serta Kesepian
Ciri fearful avoidant attachment umumnya tampak dalam pola relasi yang tidak konsisten. Dalam hubungan romantis, seseorang bisa tampak sangat lekat dan hangat, lalu tiba-tiba menjauh ketika hubungan terasa terlalu dekat. Di pertemanan maupun keluarga, mereka mungkin hadir saat orang lain membutuhkan, namun menutup diri ketika diminta membuka perasaan sendiri. Pola ini dapat membuat orang di sekitarnya bingung dan memicu salah paham.
Artikel jurnal ilmiah yang disebutkan sebelumnya menjelaskan bahwa fatherless, baik berupa ketidakhadiran fisik maupun minimnya keterlibatan emosional ayah, berperan sebagai mediator dalam hubungan antara fearful-avoidant attachment dan kesepian pada wanita dewasa awal. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas keterlibatan ayah sejak masa perkembangan awal berkaitan dengan pembentukan pola kelekatan tidak aman serta meningkatnya risiko kesepian emosional.
Ciri Perilaku dan Relasi pada Individu dengan Fearful Avoidant Attachment
Beberapa tanda yang sering muncul antara lain sulit mengungkap kebutuhan emosional secara langsung dan cenderung menyimpan masalah sendiri. Saat terjadi konflik, respons yang muncul bisa berupa menghindar, menutup komunikasi, atau memutus kontak sementara untuk “menenangkan diri”.
Di sisi lain, mereka bisa memilih pasangan atau hubungan yang terasa aman karena jaraknya, misalnya dengan orang yang sulit berkomitmen, sehingga risiko terluka tampak lebih rendah. Dalam jangka panjang, pola seperti ini berpotensi memupuk rasa kesepian dan menurunkan kepuasan hidup karena kebutuhan kedekatan tidak pernah benar-benar terpenuhi.
Peran Fatherless dan Rasa Kesepian pada Wanita Dewasa Awal
Konsep fatherless dalam konteks ini merujuk pada ketiadaan peran ayah sebagai figur yang hadir, terlibat, dan memberi rasa aman, baik secara fisik maupun emosional. Ketika sejak kecil anak tidak mengalami hubungan yang hangat dan konsisten dengan ayah, cara mereka memandang diri dan orang lain bisa terbentuk lebih waspada dan penuh keraguan.
Seperti dijelaskan dalam artikel jurnal ilmiah karya Syavira Ellen, fearful-avoidant attachment berhubungan positif dengan kesepian pada wanita dewasa awal, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui persepsi intensitas fatherless. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas keterlibatan figur ayah sejak masa perkembangan awal berkaitan dengan pembentukan internal working model, rasa aman, dukungan emosional, dan kemampuan individu membangun hubungan yang sehat di masa dewasa awal.
Kesimpulan
Fearful avoidant attachment menggambarkan pergulatan batin antara keinginan untuk dekat dan ketakutan akan penolakan. Pola ini tampak dalam perilaku tarik-ulur, sulit percaya, dan kecenderungan menghindar ketika hubungan terasa terlalu intim.
Memahami fearful avoidant attachment membantu seseorang menyadari pola relasinya sendiri, termasuk kaitannya dengan pengalaman masa kecil dan rasa kesepian yang mungkin dirasakan. Dengan kesadaran tersebut, langkah mencari bantuan profesional, membangun batas yang sehat, dan belajar meminta dukungan emosional bisa menjadi awal perubahan ke arah hubungan yang lebih aman.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta