Konten dari Pengguna

Jenis-Jenis dan Teori Motivasi dalam Psikologi Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Motivasi. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Motivasi. Gambar: Pexels.

Motivasi menjadi salah satu motor utama dalam proses belajar. Seseorang yang termotivasi cenderung lebih mudah memahami materi dan aktif terlibat selama pembelajaran. Oleh karena itu, memahami jenis-jenis dan teori motivasi sangat bermanfaat bagi siapa saja yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Pengertian Motivasi dalam Psikologi Pendidikan

Menurut buku Psikologi Pendidikan: Implikasi dalam Pembelajaran karya Fadhilah Suralaga (2021), motivasi merupakan kekuatan yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku ke arah tujuan. Suralaga (2021) juga mengutip Woolfolk (2009) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan keadaan internal yang membangkitkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Sementara Winkel (1999), sebagaimana dikutip Suralaga, menyatakan motivasi belajar sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin keberlangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu, sehingga tujuan yang dikehendaki siswa tercapai.

Peran Motivasi dalam Proses Belajar

Suralaga (2021) menegaskan bahwa motivasi merupakan aspek penting dalam belajar. Kunci dari kekuatan itu ada di tangan masing-masing individu: sebagian siswa dapat mengarahkan kekuatan itu sendiri dengan sangat baik, sementara sebagian siswa yang lain membutuhkan bantuan orang lain. Tanpa motivasi, proses belajar bisa berjalan lambat dan kurang efektif.

Jenis-Jenis Motivasi dalam Psikologi Pendidikan

Setiap individu memiliki motivasi yang unik saat belajar. Dalam psikologi pendidikan, motivasi terbagi menjadi dua jenis utama yang memengaruhi perilaku belajar siswa.

Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa motivasi intrinsik merupakan motivasi untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri. Individu dengan motivasi belajar intrinsik tidak membutuhkan hadiah atau hukuman untuk membuat mereka belajar karena aktivitas belajar itu sendiri sudah menguntungkan — mereka menikmati tugasnya atau perasaan pencapaian prestasi yang diperolehnya. Sumber motivasi intrinsik adalah faktor-faktor internal seperti minat (interest), kebutuhan (needs), kenikmatan (enjoyment), dan rasa ingin tahu (curiosity).

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Jika seorang siswa belajar keras untuk mendapatkan penghargaan orang tua atau gurunya, atau untuk mendapatkan nilai yang bagus, maka siswa tersebut memiliki motivasi ekstrinsik — alasan belajar mereka lebih karena faktor di luar dirinya.

Contoh Penerapan Motivasi dalam Pembelajaran

Suralaga (2021) mencatat bahwa imbalan eksternal dapat berguna untuk mengubah perilaku, tetapi juga dapat melemahkan pembelajaran. Hadiah yang mengandung informasi tentang kemampuan murid dapat meningkatkan motivasi intrinsik dengan cara meningkatkan perasaan bahwa diri mereka kompeten. Guru dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dengan memberikan pilihan dan tantangan yang sesuai dengan kemampuan siswa, sementara pemberian penghargaan tetap efektif jika mengandung informasi tentang penguasaan keahlian.

Teori-Teori Motivasi dalam Psikologi Pendidikan

Suralaga (2021) menyajikan motivasi dari tiga perspektif utama: behavioral, kognitif, dan humanis.

Perspektif Behavioral

Dalam perspektif behavioral, motivasi ditekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Anak akan tergerak untuk melakukan sesuatu karena adanya imbalan atau reward yang akan didapatkan jika dia melakukan sesuatu.

Perspektif Kognitif

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Perspektif ini menekankan arti penting dari penetapan tujuan, perencanaan, dan monitoring kemajuan suatu tujuan. Jika perspektif behavioris memandang motivasi siswa sebagai konsekuensi dari insentif eksternal, sebaliknya menurut perspektif kognitif tekanan eksternal jangan dilebih-lebihkan — siswa sebaiknya diberi kesempatan lebih banyak dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.

Perspektif Humanis: Hierarki Kebutuhan Maslow

Dalam perspektif humanis, Suralaga (2021) menjelaskan bahwa motivasi ditekankan pada kapasitas siswa untuk mengembangkan kepribadian dan kebebasan untuk memilih. Tokoh utamanya adalah Abraham Maslow dengan teori kebutuhan dasarnya (hierarchy of needs). Suralaga mengutip Maslow (1987) yang menyatakan bahwa motivasi dipicu oleh delapan kebutuhan dasar (bukan lima seperti versi populer), yaitu: (a) kebutuhan jasmani untuk survival, (b) kebutuhan rasa aman, (c) kebutuhan untuk memiliki dan dicintai, (d) kebutuhan akan harga diri, (e) kebutuhan untuk tahu dan mengerti, (f) kebutuhan estetis, (g) aktualisasi diri, dan (h) transcendence. Menurut Maslow, kebutuhan dasar harus dipenuhi dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi — misalnya, siswa harus memuaskan dulu kebutuhan makan, rasa aman, dan disayang sebelum kebutuhan untuk belajar dan berprestasi.

Teori Motivasi Berprestasi McClelland

Suralaga (2021) menyebutkan bahwa David McClelland (1965) mengungkapkan motivasi diasosiasikan dengan kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement). Penting dicatat bahwa sumber hanya menyebutkan dimensi need for achievement dalam konteks pembahasan motivasi belajar ini — dimensi lain dari teori McClelland (kebutuhan akan kekuasaan dan afiliasi) tidak dibahas dalam buku Suralaga.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Motivasi Belajar

Suralaga (2021) mengidentifikasi enam faktor yang memengaruhi motivasi belajar: cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan belajar, kondisi siswa (fisik dan psikologis), kondisi lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat), unsur-unsur dinamis dalam belajar (keadaan emosional, gairah belajar), serta upaya guru membelajarkan siswa.

Strategi Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Suralaga (2021) menekankan bahwa guru yang efektif memiliki strategi yang baik untuk membantu siswa menjadi termotivasi dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka. Ini paling baik dicapai dengan memberikan kesempatan belajar dalam dunia nyata, dengan kesulitan dan hal baru yang optimal untuk setiap siswa, serta memberi mereka kesempatan untuk berpikir secara kreatif dan mendalam tentang sebuah tugas atau proyek. Selain itu, guru perlu membangun harapan yang tinggi bagi prestasi siswa, karena terlalu sering anak-anak diberi penghargaan atas kinerja yang biasa-biasa saja maka mereka tidak akan mencapai potensi yang maksimal.

Kesimpulan

Motivasi dalam psikologi pendidikan memiliki peran sentral dalam mendorong proses belajar. Baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik saling melengkapi dan dapat dikembangkan melalui strategi yang sesuai. Dengan memahami perspektif behavioral, kognitif, dan humanis — serta hierarki kebutuhan Maslow yang mencakup delapan tingkatan — guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menginspirasi siswa untuk mencapai potensi terbaiknya.