Konten dari Pengguna

Memahami Perilaku Menyimpang: Pengertian dan Penyebabnya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perilaku Menyimpang. Gambar: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perilaku Menyimpang. Gambar: Pexels

Perilaku menyimpang kerap menjadi perhatian dalam kehidupan sosial karena dapat memengaruhi harmoni masyarakat. Fenomena ini tidak sekadar muncul tanpa sebab, melainkan dipengaruhi oleh beragam faktor yang kompleks. Agar tidak salah menilai, penting mengetahui apa itu perilaku menyimpang beserta penyebab utamanya.

Definisi Perilaku Menyimpang

Pemahaman mengenai perilaku menyimpang sangat dibutuhkan untuk mengidentifikasi pola perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial.

Pengertian Menurut Para Ahli

Menurut Safuwan, S.Ag., M.Psi dan Subhani, S.Sos., M.Si dalam artikel Perilaku Menyimpang dalam Perspektif Kesehatan Mental (2009), perilaku menyimpang identik dengan perbuatan, tindakan atau aktivitas anti sosial, melanggar etika, norma atau nilai-nilai yang dianut masyarakat. Perilaku menyimpang merupakan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan sosial; baik nilai atau norma yang berorientasi pada ajaran agama maupun aturan berperilaku yang dibuat negara (Safuwan & Subhani, 2009).

Beberapa definisi dari para ahli yang dikutip dalam dokumen sumber memperkaya pemahaman ini. Cohen (Sadli, 1977: 35, dalam Safuwan & Subhani, 2009) membatasi perilaku menyimpang sebagai tingkah laku yang melanggar, bertentangan dan menyimpang dari aturan-aturan normatif, dari pengertian-pengertian yang normatif maupun dari harapan-harapan lingkungan sosial yang bersangkutan. Menurut Kartono (2005: 15, dalam Safuwan & Subhani, 2009), perilaku menyimpang dipahami sebagai perilaku abnormal karena tingkah laku yang diperankan itu tidak adekuat, tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya dan tidak sesuai dengan norma sosial yang ada.

Dari kajian Evi Ramida, Izhar Salim, dan Parijo dalam Analisis Faktor Penyebab dan Pengendalian Perilaku Menyimpang Siswa Kelas X Minat Ilmu Pengetahuan Alam), penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat (Horton dan Hunt, 1991: 191, dikutip dalam Ramida dkk.).

Pendekatan Studi Perilaku Menyimpang

Safuwan dan Subhani (2009) mengidentifikasi empat pendekatan utama dalam studi perilaku menyimpang: (1) Pendekatan Biologis dan Patologis — asumsi bahwa ada sesuatu di dalam diri manusia yang berperilaku menyimpang yang membedakan pelaku dari mereka yang tidak bertingkah laku menyimpang; (2) Pendekatan Konsepsi Analitis — perbuatan menyimpang dipandang sebagai tindakan yang mengancam kehidupan bermasyarakat; (3) Pendekatan Teori Anomie — perilaku menyimpang disebabkan oleh situasi diskontinuitas dalam suatu masyarakat yang menghambat proses berpikir anggotanya; dan (4) Pendekatan Reaksi Sosial — perilaku menyimpang terjadi karena adanya pengaruh dari luar individu, seperti situasi atau pranata sosial yang tidak terakomodir.

Ciri-ciri Perilaku Menyimpang

Kartono (2005, dalam Safuwan & Subhani, 2009) menjelaskan dua aspek yang mendasari perilaku menyimpang: (1) aspek lahiriah yang bisa diamati dengan jelas, seperti kata-kata makian, tidak senonoh, cabul atau kata-kata kotor lainnya; dan (2) aspek simbolik yang tersembunyi, seperti sikap dalam hidup, emosi, sentimen, itikad tidak baik, motif kejahatan tertentu, dan sebagainya. Dalam perspektif kesehatan mental, pelaku perilaku menyimpang dikategorikan ke dalam orang-orang yang tidak sehat mental karena kondisi keseimbangan jiwa pelaku resah, susah atau penuh tekanan sehingga tidak mampu berpikir jernih, tidak pernah merasa puas dalam hidupnya, tidak mampu melakukan penyesuaian diri, tidak mampu menerima kekalahan (Safuwan & Subhani, 2009).

Penyebab Perilaku Menyimpang

Ada banyak hal yang bisa memicu munculnya perilaku menyimpang dalam masyarakat. Faktor penyebabnya dapat berasal dari dalam diri seseorang ataupun pengaruh lingkungan sekitar.

Faktor Internal

Perilaku menyimpang dalam wujud internal individu biasanya digerakkan oleh persoalan kesehatan, konsep diri, merasa keterasingan, terkontaminasi dengan beragam keinginan atau hayalan individu yang ingin diwujudkan, pengalaman hidup atau beragam tekanan dalam kehidupan dapat berpengaruh pada perilaku seseorang (Safuwan & Subhani, 2009).

Dari penelitian Ramida dkk. di SMA Negeri 4 Pontianak, faktor internal yang menyebabkan perilaku menyimpang siswa adalah krisis identitas dan kontrol diri yang lemah — yaitu kurangnya kontrol diri siswa dalam membatasi diri mereka terhadap pengaruh negatif (Ramida dkk., Simpulan. Becker (dalam Horton dan Hunt, 1991 dikutip dalam Ramida dkk.,) menyatakan bahwa penyimpangan disebabkan oleh adanya gangguan (disrupsi) pada proses penghayatan dan pengalaman nilai-nilai tersebut dalam perilaku seseorang.

Faktor Eksternal

Lakon perilaku menyimpang dari aspek eksternal bermunculan akibat: ketidak-akuratan informasi dari berinteraksi sosial, pengaruh media massa, atau keadaan dan situasi sosial ekonomi ikut memberi andil kepada orang sehingga melenceng dari aturan berperilaku yang sebenarnya (Safuwan & Subhani, 2009).

Dalam penelitian Ramida dkk., faktor eksternal yang teridentifikasi adalah faktor keluarga (kurangnya perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang kurang antara orang tua dan anak) serta lingkungan pergaulan (siswa terpengaruh oleh teman mereka baik di sekolah maupun di luar sekolah) (Ramida dkk., Simpulan). Pola asuh yang kurang perhatian dari orang tua membuat siswa berperilaku bebas sehingga perilaku menyimpang yang mereka dapatkan dari pengaruh lingkungan luar dibawa ke sekolah (Ramida dkk.).

Fenomena tampilan perilaku individu seperti ini dalam kajian psikologi sosial dinamakan dengan proses belajar ikut-ikutan atau mencontoh orang lain (modelling learning) dan proses belajar sosial (social learning). Bila lingkungan baik, maka baiklah keadaan perilaku orang; namun bila sebaliknya keadaan pranata sosial, kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang berlaku sering diabaikan dan tidak diindahkan, maka kondisi tampilan perilaku orang dalam realitas juga sesuai dengan lingkungan yang melingkupinya (Safuwan & Subhani, 2009).

Pengendalian Perilaku Menyimpang

Untuk mengantisipasi perilaku menyimpang dan kesehatan mental, paling tidak secara empiris dapat ditangani melalui tiga pendekatan metodologis: (1) usaha pencegahan (preventif) — kegiatan untuk menciptakan suasana yang sehat guna mengembangkan diri, baik secara fisik, psikis, sosial maupun agamis; (2) usaha penyembuhan/perbaikan (rehabilitatif) — upaya terapi atau pengobatan dalam berbagai wacana agama, konseling, pendidikan atau latihan-latihan; dan (3) usaha pemeliharaan (preservatif) — kegiatan memotivasi, menyemangati dan mengembangkan kondisi aktualisasi diri sehingga kondisi yang sudah stabil, baik dan sehat dapat terjaga (Safuwan & Subhani, 2009).

Dari konteks pendidikan, pengendalian yang dilakukan guru di SMA Negeri 4 Pontianak mencakup pembinaan dan pencontohan, konseling individu, surat panggilan orang tua, dan konferensi kasus. Hasil dari pengendalian tersebut terbukti efektif dalam mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik (Ramida dkk.). Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya kerjasama orang tua siswa dengan sekolah, besarnya pengaruh dari lingkungan luar, dan siswa sering mengulang kesalahan (Ramida dkk.).

Kesimpulan

Perilaku menyimpang merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat — baik norma agama, etika, maupun hukum — yang dapat dipicu oleh faktor internal maupun eksternal. Dalam perspektif kesehatan mental, perilaku menyimpang berkaitan erat dengan kondisi jiwa yang tidak seimbang. Memahami pengertian, pendekatan studi, dan penyebab perilaku menyimpang sangat penting agar masyarakat dan institusi pendidikan dapat mengambil langkah pencegahan dan pengendalian yang tepat. Hal yang paling krusial dalam pembenahan kesehatan mental dan perilaku menyimpang adalah adanya niat, usaha, dan aksi pelaku untuk berubah dan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik (Safuwan & Subhani, 2009).