Memahami Relevansi Psikologi Lintas Budaya dalam Memahami Kearifan Lokal
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Psikologi lintas budaya dan kearifan lokal adalah dua konsep yang saling berkaitan erat. Dengan memahami relevansi psikologi lintas budaya, kita dapat lebih menghargai keragaman perilaku manusia dalam konteks budaya yang berbeda-beda.
Psikologi Lintas Budaya: Lahir dari Kebutuhan akan Universalitas
Psikologi Lintas Budaya lahir sebagai reaksi kenyataan bahwa banyak teori psikologi yang dikembangkan di negara Barat dan dianggap bersifat universal tidak dapat diterapkan di negara dengan budaya yang berbeda (P. Eko Noerjanto, Pr., ). Dalam perkembangan selanjutnya psikologi lintas budaya dianggap sebagai disiplin psikologi untuk mempelajari persamaan dan perbedaan dari fungsi psikologis individu di berbagai kelompok budaya dan etnik (Berry, 2002) sehingga memungkinkan para ilmuan psikologi untuk menemukan perilaku yang bersifat universal (etik) dan membedakannya dari perilaku yang bersifat khas (emik) (Noerjanto).
Ada dua tujuan yang hendak dicapai dengan menggunakan teori psikologi lintas budaya: dapat menguji apakah teori atau pengetahuan psikologi yang dikembangkan di suatu budaya dapat digeneralisasi ke konteks budaya lain, dan dapat diperoleh variasi yang lebih luas dari gejala yang diteliti sehingga para ilmuan psikologi dapat terhindar dari etnosentrisme (Noerjanto). Etnosentrisme berarti suatu kecenderungan menggunakan kelompok sendiri sebagai ukuran dalam menilai kelompok lain (Noerjanto, mengutip Setiadi, 2008).
Kearifan Lokal: Definisi dan Hakekat
Wales (1948) sebagaimana dikutip Noerjanto merumuskan local genius sebagai "the sum of the cultural characteristics which the vast majority of a people have in common as a result of their experiences in early life" — dimaksudkan sebagai substrat kebudayaan pra-India atau yang biasa disebut sebagai "pribumi."
Hakekat implisit dari local genius adalah: (1) mampu bertahan terhadap budaya luar; (2) memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; (3) mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur-unsur budaya luar ke dalam kebudayaan asli; (4) memiliki kemampuan mengendalikan; dan (5) mampu memberikan arah pada perkembangan budaya (Noerjanto, mengutip Mundardjito, 1986).
Relevansi Psikologi Lintas Budaya dan Kearifan Lokal
Kearifan lokal memiliki bentuk dalam budaya masyarakat tertentu berdasarkan fakta historis yang masih relevan saat kini dan dapat diprediksi untuk masa depan (Noerjanto, tanpa tahun). Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam suatu konteks budaya masyarakat memberikan tatanan hidup dengan akar filosofi yang khas — seperti makna dalam lagu gundul-gundul pacul yang diwariskan dalam bentuk lagu daerah Jawa (Noerjanto).
Konsep etik dan emik dalam psikologi lintas budaya merupakan pilihan tepat untuk memahami kearifan lokal. Perilaku manusia sangat beragam dan psikologi lintas budaya menggunakan pendekatan konteks budaya setempat yang mempengaruhi perilaku individu maupun kelompok — kita dapat menemukan nilai-nilai budaya setempat yang memiliki persamaan dan perbedaan terhadap kelompok budaya lain dalam berbagai bidang, misalnya bahasa, gaya kepemimpinan, dan stratifikasi sosial-ekonomi (Noerjanto)
Konsep Harmoni sebagai Kearifan Lokal Jawa
Situasi selaras disebut sebagai harmoni, dan merupakan elemen kunci dalam interaksi sosial masyarakat Indonesia. Konsep harmoni diambil dari kosmologi Jawa yang menggambarkan keseimbangan elemen-elemen di alam semesta, dalam diri, dan antara diri dan alam, dan antara diri dan Tuhan (Noerjanto). Para ahli budaya Jawa sepakat bahwa harmoni bukanlah sesuatu yang dicapai (achieved) tetapi sesuatu yang sudah ada dan harus dijaga (preserved) (Noerjanto, tanpa tahun, mengutip Suseno 1996; Mulder, 2001).
Konsep harmoni dapat ditemukan pada hampir semua masyarakat kolektivistik, terutama di Asia (Noerjanto, mengutip Hofstede & Minkov, 2010). Konsep harmoni Indonesia menjadi unik karena fokus pada mempertahankan keseimbangan daripada mencapai keseimbangan dan pada keselarasan internal selain berorientasi pada interaksi sosial (Noerjanto, tanpa tahun, mengutip Pangabean dkk., 2014).
Implikasi terhadap Dunia Kerja dan Pendidikan
Budaya guyub memiliki dampak positif dan negatif dalam lingkungan kerja. Hal positif misalnya saling mengenal dan saling berbagi akan memunculkan kedekatan sebagaimana tergambar dalam pepatah "tak kenal maka tak sayang," yang pada akhirnya akan membentuk rasa nyaman karyawan karena tempat kerja menjadi perluasan keluarga. Sedangkan hal negatif dapat ditemukan saat relasi keluarga ditempatkan di atas urusan kerja — disikapi secara emosional yang merambah ke area profesional (Noerjanto).
Tidak heranlah jika masyarakat guyub akan cenderung menghindari konflik, perbedaan pendapat dan menjunjung tinggi kesamaan pendapat dan kekeluargaan (Noerjanto).
Kesimpulan
Psikologi lintas budaya menunjukkan bahwa pemahaman nilai dan perilaku tidak bersifat universal — cara seseorang menilai suatu peristiwa atau tindakan sering dipengaruhi oleh tradisi, nilai, dan pengalaman kolektif di masyarakatnya. Memahami kearifan lokal melalui perspektif psikologi lintas budaya membantu para pemerhati dunia pendidikan untuk mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks kemajemukan sosial masyarakat, termasuk bagaimana kearifan lokal budaya di Papua Selatan dengan berbagai suku bangsa dapat memberikan dampak positif dalam berbagai bidang kehidupan (Noerjanto).