Mengenal Emotional Eating: Pengertian dan Dampaknya bagi Mahasiswa
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Emotional eating kini menjadi salah satu isu yang banyak dialami mahasiswa. Kebiasaan makan akibat dorongan emosi, bukan karena rasa lapar, sering muncul di tengah tekanan tugas kuliah dan dinamika kehidupan kampus. Fenomena ini penting dikenali agar mahasiswa dapat menjaga keseimbangan fisik dan mental selama menempuh pendidikan.
Definisi Emotional Eating
Emotional eating mengacu pada perilaku makan yang dipicu oleh emosi, bukan kebutuhan tubuh akan asupan gizi.
Dalam skripsi “Hubungan Antara Stres Akademik Dengan Emotional Eating Pada Mahasiswa”, Imam Rizqi Ramadhani mengutip Van Strien dkk. yang menjelaskan bahwa emotional eating adalah perilaku makan berlebihan sebagai respons terhadap emosi negatif seperti stres, depresi, dan cemas. Skripsi tersebut juga memuat penjelasan dari D’Arrigo bahwa emotional eating dapat dipahami sebagai bentuk regulasi emosi yang kurang adaptif, ketika seseorang mencari kenyamanan sesaat melalui makanan setelah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.
Pengertian Emotional Eating Menurut Penelitian
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa emotional eating terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan sebagai respons atas emosi tertentu, misalnya saat merasa tertekan, bukan karena lapar secara fisik. Biasanya, makanan yang dipilih cenderung tinggi kalori dan lemak.
Faktor Penyebab Emotional Eating
Ada beberapa faktor yang mendorong perilaku ini, salah satunya adalah tekanan akademik yang sering dialami mahasiswa. Selain itu, emosi negatif seperti kecemasan atau kemarahan juga bisa menjadi pemicu.
Peran Stres Akademik dalam Emotional Eating
Stres akibat tuntutan akademik sangat berpengaruh terhadap munculnya emotional eating. Ketika beban tugas dan ekspektasi meningkat, mahasiswa lebih rentan mencari pelarian lewat makanan.
Emosi Negatif Lain yang Memicu Emotional Eating
Selain stres, emosi seperti sedih, marah, atau kecewa juga dapat memicu perilaku makan berlebih. Kondisi ini membuat seseorang cenderung mengonsumsi makanan secara impulsif tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh.
Dampak Emotional Eating pada Mahasiswa
Dampak dari emotional eating tidak hanya dirasakan secara fisik, namun juga memengaruhi kesehatan mental. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat memberikan efek jangka panjang yang merugikan.
Dampak Fisik dan Psikologis Emotional Eating
- Risiko Kesehatan Fisik akibat Emotional Eating
Kebiasaan makan yang dipicu emosi berisiko meningkatkan berat badan, hingga menyebabkan obesitas. Selain itu, pola makan tidak terkontrol bisa berdampak pada kesehatan jantung dan metabolisme.
- Pengaruh Emotional Eating terhadap Kesehatan Mental
Emotional eating juga dapat menurunkan kepercayaan diri dan memperparah stres. Akibatnya, mahasiswa merasa terjebak dalam siklus emosi negatif dan sulit mengendalikan pola makan.
Upaya Mengatasi Emotional Eating
Mahasiswa bisa melakukan beberapa strategi sederhana untuk mengatasi emotional eating. Fokus pada manajemen stres dan pola makan sehat adalah dua langkah utama yang disarankan.
- Strategi Mengelola Stres Akademik
Penting bagi mahasiswa memiliki waktu istirahat yang cukup dan teknik relaksasi, seperti olahraga ringan atau berbicara dengan teman. Kegiatan ini membantu meredakan tekanan sehingga keinginan makan karena emosi bisa diminimalisir.
- Tips Pola Makan Sehat untuk Mahasiswa
Menjaga jadwal makan teratur dan memilih makanan bernutrisi dapat membantu mengurangi kecenderungan emotional eating. Selain itu, membatasi konsumsi makanan tinggi gula dan lemak perlu dijadikan kebiasaan sehari-hari.
Kesimpulan
Emotional eating merupakan perilaku makan yang dipicu emosi dan sering terjadi di kalangan mahasiswa. Kebiasaan ini berdampak pada kesehatan fisik dan mental, mulai dari risiko obesitas hingga menurunnya kepercayaan diri. Dengan memahami faktor penyebab serta menerapkan strategi manajemen stres dan pola makan sehat, mahasiswa dapat mengurangi risiko emotional eating dan menjaga kualitas hidup selama masa kuliah.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta