Mengenal Kesejahteraan Emosional dan Pentingnya dalam Kehidupan Sehari-hari
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang tentu pernah mengalami perubahan suasana hati, stres, atau tantangan yang datang silih berganti. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk mengelola perasaan dan tetap berpikir jernih menjadi salah satu kunci agar tidak mudah goyah. Di sinilah konsep kesejahteraan emosional memainkan peran penting, khususnya dalam konteks dunia pendidikan.
Pengertian Kesejahteraan Emosional
Kesejahteraan emosional merupakan kondisi ketika seseorang mampu memahami, menerima, dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat. Menurut Fadhlan Mubarak dan Yullys Helsa dalam Pentingnya Kesejahteraan Emosional di Dunia Pendidikan (2025), kesejahteraan emosional merupakan aspek fundamental dalam dunia pendidikan yang berperan penting dalam menunjang prestasi akademik, motivasi belajar, dan perkembangan sosial siswa. Menurut OECD (2020, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025), kesejahteraan emosional merujuk pada keadaan psikologis yang stabil, kemampuan mengelola emosi, serta merasakan makna dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah. Konsep ini membantu seseorang tetap stabil secara psikologis meski menghadapi berbagai tantangan.
Definisi Kesejahteraan Emosional
Secara sederhana, kesejahteraan emosional adalah kemampuan untuk mengelola emosi agar tidak mendominasi pikiran dan tindakan. Keyes (2019, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025) mendefinisikannya sebagai kondisi psikologis individu dalam hal kemampuan mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sehat, yang mencakup kemampuan untuk beradaptasi dengan berbagai tekanan dan tantangan belajar (Suldo dkk., 2020, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025). Kerangka Social Emotional Learning (SEL) dari CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning) mengidentifikasi lima kompetensi inti dalam pengembangan kesejahteraan emosional, yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (Durlak dkk., 2020, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025). Dengan demikian, seseorang dapat menjalani hidup secara lebih seimbang dan harmonis.
Pentingnya Kesejahteraan Emosional
Kesejahteraan emosional tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memengaruhi lingkungan sekitar. Dalam konteks pendidikan, keberadaan kesejahteraan emosional yang stabil tidak hanya mendukung proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun karakter dan moral peserta didik. Siswa yang secara emosional sehat lebih mampu mengelola stres, menjalin hubungan sosial yang baik, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi (Suldo, 2019, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025).
Dampak Kesejahteraan Emosional terhadap Kehidupan
Mubarak dan Helsa (2025) secara spesifik membahas dampak kesejahteraan emosional dalam konteks pendidikan (siswa dan guru). Individu yang memiliki kesejahteraan emosional cenderung lebih mudah membangun hubungan yang suportif — konsep kesejahteraan emosional juga melibatkan dimensi sosial, seperti dukungan teman sebaya dan hubungan positif dengan guru (Schonert-Reichl dkk., 2019, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025). Selain itu, studi terbaru menunjukkan bahwa individu dengan kesejahteraan emosional yang baik cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dan ketahanan psikologis yang lebih tinggi (Durlak dkk., 2021, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025).
Kesejahteraan Emosional di Dunia Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, kesejahteraan emosional sangat berperan bagi pelajar dan pendidik. Menurut Mubarak dan Helsa (2025), kondisi emosional yang stabil membantu siswa menjaga fokus dan konsentrasi, yang pada akhirnya meningkatkan hasil belajar mereka (OECD, 2020, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025). Siswa yang merasa aman secara emosional dan didukung secara sosial akan lebih termotivasi untuk aktif dalam proses belajar, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan lebih tahan terhadap kegagalan (Suldo dkk., 2020, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025). Guru yang memiliki kompetensi sosial dan emosional dapat menciptakan hubungan yang positif dan suportif dengan siswa, yang membantu siswa merasa aman dan dihargai secara psikologis (Brown dkk., 2021, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025). Keterlibatan orang tua juga menjadi strategi kunci — program edukasi bagi orang tua mengenai pentingnya kesejahteraan emosional dan cara mendukung anak secara efektif dapat meningkatkan sinergi antara rumah dan sekolah (Schonert-Reichl dkk., 2019, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025).
Cara Menjaga Kesejahteraan Emosional
Mubarak dan Helsa (2025) tidak merekomendasikan langkah-langkah individual generik seperti "rutin mengevaluasi perasaan" atau "berlatih relaksasi", melainkan strategi dan kebijakan pada tingkat institusi pendidikan. Berdasarkan artikel tersebut, langkah-langkah untuk menjaga dan meningkatkan kesejahteraan emosional di lingkungan pendidikan meliputi: integrasi pembelajaran sosial dan emosional (SEL) ke dalam kurikulum, sebagaimana diterapkan dalam Kurikulum Merdeka di Indonesia melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila (Kemendikbudristek, 2022, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025); penyediaan pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru agar memiliki kompetensi dalam mendukung kesejahteraan emosional siswa (Jennings & Greenberg, 2021, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025); penyediaan layanan konseling dan intervensi psikososial yang mudah diakses di sekolah (WHO, 2021, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025); serta keterlibatan orang tua dan masyarakat melalui program edukasi dan dukungan komunitas yang konsisten (Schonert-Reichl dkk., 2019, dikutip dalam Mubarak & Helsa, 2025).
Kesimpulan
Kesejahteraan emosional adalah fondasi penting dalam menjalani kehidupan yang seimbang dan produktif, khususnya dalam konteks pendidikan. Melalui penerapan Social Emotional Learning (SEL) dan peran aktif guru sebagai fasilitator, kesejahteraan emosional dapat ditingkatkan secara signifikan di lingkungan sekolah (Mubarak & Helsa, 2025). Namun, tantangan seperti keterbatasan sumber daya, tekanan kurikulum, dan perbedaan budaya perlu diatasi dengan strategi dan kebijakan pendidikan yang terintegrasi, melibatkan berbagai pihak termasuk guru, orang tua, dan pemerintah. Investasi dalam kesejahteraan emosional tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa peningkatan hasil belajar, tetapi juga manfaat jangka panjang bagi kesehatan mental, hubungan interpersonal, dan kesiapan siswa menghadapi tantangan masa depan.