Microaggression: Pengertian, Dampak, dan Contoh
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah microaggression semakin sering muncul ketika orang membahas isu diskriminasi dan inklusivitas. Banyak orang mengalaminya dalam percakapan sehari-hari, namun tidak selalu sadar bahwa itu termasuk bentuk kekerasan verbal yang halus. Memahami konsep ini bisa membantu kita lebih peka terhadap kata-kata dan sikap yang berpotensi melukai orang lain.
Apa Itu Microaggression?
Dalam kajian psikologi sosial, microaggression merujuk pada komentar, gestur, atau tindakan singkat yang menyampaikan pesan merendahkan terhadap kelompok tertentu. Bentuknya sangat halus, sering dianggap bercanda, dan kerap dilakukan tanpa niat jahat yang disadari pelakunya. Pola ini biasanya muncul berulang sehingga menciptakan suasana yang membuat kelompok terpinggirkan merasa tidak dihargai.
Menurut Natasha N. Johnson dan Thaddeus L. Johnson dalam bab buku ilmiah/akademik berjudul “Microaggressions: An Introduction” yang diterbitkan oleh IGI Global pada 2019, microaggressions adalah penghinaan verbal, perilaku, atau lingkungan sehari-hari yang singkat dan umum terjadi, baik disengaja maupun tidak, yang menyampaikan hinaan atau pesan negatif kepada orang yang tidak termasuk dalam standar “normatif”. Bab ini juga menjelaskan bahwa pelaku sering tidak menyadari dampak komunikasinya, sementara korban yang memprotes dapat dianggap “defensive” atau “overly sensitive”.
Jenis-Jenis Microaggression
Secara umum, microaggression terbagi menjadi tiga jenis. Microassault adalah serangan yang lebih langsung, misalnya komentar stereotip yang dibungkus humor atau candaan. Microinsult muncul dalam bentuk komentar yang merendahkan kemampuan, nilai, atau profesionalisme seseorang karena identitasnya.
Sementara itu, microinvalidation terjadi ketika pengalaman diskriminasi seseorang dihapus atau diremehkan, misalnya dengan kalimat “kamu lebay” atau “rasisme sudah tidak ada”. Seperti dijelaskan dalam ulasan konseptual Johnson, ketiga jenis ini bekerja sebagai pesan tersembunyi yang menguatkan ketidaksetaraan sosial dalam interaksi sehari-hari.
Dampak Psikologis dan Sosial Microaggression
Dampak microaggression sering terasa seperti “luka kecil berulang”. Satu komentar mungkin tampak sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus, beban emosionalnya bisa sangat berat. Akumulasi pengalaman ini bisa memicu stres, kecemasan, rasa tidak aman, hingga kelelahan mental.
Di lingkungan kerja atau kampus, microaggression dapat menurunkan rasa memiliki dan kenyamanan seseorang. Orang yang sering menjadi sasaran mungkin enggan berpendapat, menarik diri, atau merasakan performa kerja dan akademiknya menurun.
Masih dari bab buku ilmiah/akademik “Microaggressions: An Introduction” karya Natasha N. Johnson dan Thaddeus L. Johnson, dampak microaggressions tidak hanya muncul dari satu kejadian, tetapi dari beban kumulatif yang terjadi berulang. Bab ini menjelaskan bahwa pengalaman tersebut dapat menimbulkan rasa takut, stres, luka emosional, hypervigilance, kehabisan energi, dan tekanan psikologis pada korban.
Contoh Microaggression dan Cara Meresponsnya
Dalam percakapan sehari-hari, microaggression bisa muncul lewat pertanyaan, pujian yang beracun, atau candaan yang menggeneralisasi kelompok tertentu. Untuk memahaminya, konteks kekuasaan dan stereotip sangat penting. Kalimat yang terdengar biasa bagi satu orang bisa terasa mengucilkan bagi orang lain yang sering menjadi sasaran prasangka sosial.
Microaggression juga dapat muncul di ruang publik, media sosial, hingga kebijakan informal di organisasi. Oleh karena itu, mengenali pola bahasa yang mengandung stereotip menjadi langkah awal agar interaksi sosial terasa lebih aman dan setara bagi semua pihak.
Contoh Microaggression di Berbagai Situasi
Di tempat kerja, microaggression bisa berupa komentar bahwa seseorang “terlalu emosional” hanya karena identitas gendernya, atau meragukan kompetensi karena latar belakang etnis. Ada juga situasi ketika ide seseorang diabaikan, lalu diapresiasi ketika diulang oleh rekan lain yang dianggap lebih “normatif”.
Di kampus, bentuknya bisa berupa anggapan bahwa mahasiswa dari kelompok tertentu masuk hanya karena “kuota”, bukan karena kemampuan. Di ruang publik, pertanyaan seperti “Kamu asli dari mana?” yang diarahkan berulang pada orang yang terlihat berbeda dapat terasa menyingkirkan, seolah-olah ia tidak pernah dianggap benar-benar bagian dari lingkungan tersebut.
Cara Menghadapi dan Mengurangi Microaggression
Bagi penerima, tidak semua microaggression harus direspons saat itu juga. Seseorang bisa memilih momen yang aman untuk menyampaikan keberatan dengan komunikasi asertif yang singkat, misalnya menjelaskan bagian mana yang membuatnya tidak nyaman. Di sisi lain, mencatat kejadian dan mencari dukungan dari teman tepercaya juga bisa membantu menjaga kesehatan mental.
Peran saksi (bystander) sama pentingnya. Mereka dapat menyanggah komentar bermasalah dengan cara yang suportif, misalnya mengalihkan pembicaraan atau menegaskan ulang penghargaan pada orang yang diserang. Organisasi pun perlu berperan lewat pelatihan kesadaran bias, kebijakan inklusif, dan budaya yang mendorong orang untuk saling mengingatkan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, langkah awal yang krusial adalah membangun kesadaran diri tentang bias tak sadar, lalu berkomitmen mengubah pola bahasa dan perilaku sehari-hari.
Kesimpulan
Memahami microaggression membantu kita melihat bahwa diskriminasi tidak selalu muncul dalam bentuk makian atau tindakan kasar. Kadang, ia hadir lewat komentar ringan yang beredar di kantor, kampus, atau media sosial. Kesadaran ini membuka ruang untuk berkomunikasi dengan lebih hati-hati dan saling menghargai perbedaan.
Dengan mengenali bentuk dan dampaknya, setiap orang punya kesempatan mengurangi microaggression dalam lingkungannya masing-masing. Perubahan mungkin terasa kecil, namun jika dilakukan secara konsisten, suasana kerja, belajar, dan hidup bersama bisa menjadi jauh lebih inklusif.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Psikologi Sosial: Memahami Perilaku dalam Interaksi