Konten dari Pengguna

Pengertian dan Jenis-Jenis Memori dalam Psikologi Pendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Memori. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Memori. Gambar: Pexels.

Memori merupakan salah satu elemen kognitif yang sangat berperan dalam proses pendidikan. Melalui memori, seseorang dapat menyimpan, mengolah, dan mengingat informasi yang telah dipelajari. Dalam dunia pendidikan, pemahaman mengenai memori membantu guru dan siswa dalam mengoptimalkan proses pembelajaran.

Pengertian Memori dalam Psikologi Pendidikan

Menurut buku Psikologi Pendidikan: Implikasi dalam Pembelajaran karya Fadhilah Suralaga (Rajawali Pers, 2021), inti dari teori pemrosesan informasi adalah konsep ingatan atau memori. Istilah memori dalam beberapa kasus digunakan sebagai kemampuan pembelajar untuk secara mental menyimpan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari sebelumnya selama periode waktu tertentu; dalam kasus lain istilah memori digunakan ketika berbicara tentang lokasi tertentu tempat pembelajar "meletakkan" apa yang telah mereka pelajari. Proses meletakkan apa yang telah dipelajari ke dalam memori disebut penyimpanan (storage).

Peran Memori dalam Proses Belajar

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa proses-proses kognitif memengaruhi apa yang dipelajari. Proses-proses kognitif yang dimaksud adalah hal-hal spesifik yang dilakukan para pembelajar secara mental ketika mereka berusaha menafsirkan dan mengingat apa yang mereka lihat, dengar, dan pelajari. Oleh karena pembelajar hanya mampu menangani informasi yang sangat terbatas dalam satu waktu, mereka harus memilih untuk fokus terhadap informasi tertentu dan mengabaikan informasi lainnya. Dengan memori yang baik, siswa mampu menghubungkan pengetahuan lama dengan materi baru sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.

Model Memori Manusia

Suralaga (2021), mengutip Ormrod (2020), menjelaskan bahwa memori atau ingatan manusia dapat dibedakan atas memori jangka pendek (short-term memory) — yang disebut juga sebagai memori kerja (working memory) — dan memori jangka panjang (long-term memory). Alur pemrosesan informasi dimulai dari pencatat sensori, masuk ke memori kerja, lalu disimpan dalam memori jangka panjang.

Pencatat Sensori (Sensory Register)

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa alur pemrosesan informasi dimulai dari pencatat sensori (sensory register) yang menerima stimulus seperti gambar, benda, suara, aroma, rasa atau tekstur (dari lima pancaindra). Pencatat sensori merupakan komponen memori penahan informasi yang diterima (input), dalam bentuk visual, auditori, dan lain-lain. Pencatat sensori mempunyai kapasitas sangat besar untuk menyimpan informasi yang banyak dalam satu waktu, namun penyimpanan dalam pencatat sensori ini hanya berlangsung 1 atau 2 detik. Dibutuhkan atensi atau perhatian untuk bisa memindahkan informasi ke memori kerja dengan memberikan kode-kode penyimpanan tertentu; jika tidak langsung dipindahkan, informasi tersebut akan hilang.

Memori Kerja (Working Memory / Memori Jangka Pendek)

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa ketika siswa menunjukkan perhatiannya terhadap informasi yang diterima, maka masuklah informasi tersebut dalam memori kerja atau memori jangka pendek. Memori kerja merupakan tahap di mana informasi mulai diproses secara aktif — siswa berusaha memahami lebih dalam informasi yang diterima dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. Kapasitasnya terbatas, sehingga hanya informasi yang mendapat pemrosesan mendalam yang akan dilanjutkan ke memori jangka panjang.

Memori Jangka Panjang

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa dalam pembelajaran di sekolah, memori jangka panjang adalah tempat para siswa menyimpan pengetahuan dan hal-hal yang telah dipelajari, termasuk ingatan tentang berbagai peristiwa dalam kehidupan pribadi mereka. Sebagian besar informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang saling berkaitan dan bisa bertahan lama. Banyak psikolog yang percaya bahwa setelah disimpan dalam memori jangka panjang, informasi tetap ada di sana secara permanen — meski baru-baru ini beberapa psikolog sampai pada kesimpulan bahwa informasi dapat melemah secara perlahan dan pada akhirnya hilang, terutama jika tidak digunakan secara teratur.

Jenis Pengetahuan dalam Memori Jangka Panjang

Suralaga (2021) menjelaskan bahwa dalam memori jangka panjang, jenis pengetahuan yang dapat disimpan meliputi tiga kategori: pengetahuan deklaratif (pengetahuan faktual yang bersifat eksplisit dan disadari, termasuk pengetahuan hafalan dan pengetahuan bermakna), pengetahuan prosedural (pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu yang bersifat implisit, biasanya dipelajari secara lambat dan dengan banyak latihan), serta pengetahuan/memori episodik (pengetahuan yang condong kepada pengalaman autobiografi dan peristiwa-peristiwa yang sering ditimbulkan secara emosional).

Strategi Mengoptimalkan Memori Siswa

Suralaga (2021) menjelaskan beberapa cara untuk memperkuat ingatan atau memori, di antaranya: (a) latihan pengulangan (rehearsal) — mengulang informasi yang telah diterima; dan (b) strategi mnemonic — strategi seseorang dalam mengingat sesuatu, misalnya melalui teknik akronim dan kata kunci (mengingat sesuatu dengan mengingat kata yang mirip dengan kata yang ingin diingat). Selain itu, pemrosesan mendalam yang sering berkaitan dengan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya merupakan kunci agar informasi tersimpan dalam memori jangka panjang.

Pentingnya Pemahaman Memori bagi Guru

Dengan mengetahui model memori dan alur pemrosesan informasi, guru dapat menyesuaikan metode mengajar — misalnya memberikan demonstrasi atau contoh yang hidup dan jelas untuk meningkatkan retensi siswa, menggunakan metode pembelajaran aktif yang melibatkan pengolahan mendalam, serta merancang evaluasi yang mendorong siswa untuk mengakses kembali (retrieval) informasi dari memori jangka panjang secara teratur.

Kesimpulan

Memori dalam psikologi pendidikan memiliki peran sentral dalam membantu proses belajar. Alur pemrosesan informasi dimulai dari pencatat sensori (yang menahan informasi hanya 1–2 detik), kemudian masuk ke memori kerja/jangka pendek (melalui atensi), lalu disimpan dalam memori jangka panjang (melalui pemrosesan mendalam). Tiga jenis pengetahuan — deklaratif, prosedural, dan episodik — tersimpan dalam memori jangka panjang. Guru yang memahami model memori ini mampu merancang pembelajaran yang lebih efektif dengan memanfaatkan strategi pengulangan, mnemonic, dan penghubungan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.