Konten dari Pengguna

Pentingnya Privasi dalam Hubungan: Manajemen Privasi untuk Keharmonisan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Privasi. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Privasi. Gambar: Pexels.

Privasi dalam hubungan seringkali menjadi isu yang sensitif, baik dalam keluarga maupun antara pasangan. Setiap individu memiliki batasan mengenai informasi pribadi yang ingin dibagikan maupun disimpan untuk diri sendiri. Memahami peran privasi dan cara mengelolanya dengan baik dapat meningkatkan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Privasi dalam Hubungan

Menurut Alice Raga Dewi (Universitas Indonesia) dalam artikel Kajian Literatur Manajemen Privasi dalam Konteks Hubungan Keluarga di Facebook (2023), pengelolaan data dan informasi pribadi di media sosial telah memicu munculnya gangguan privasi (Dewi, 2023). Individu perlu melakukan pengelolaan informasi secara seimbang antara informasi yang akan diungkapkan dan disembunyikan di ruang publik (Dewi, 2023).

Privasi dalam hubungan keluarga di media sosial dipahami melalui teori Communication Privacy Management (CPM) yang dikembangkan Sandra Petronio. Teori ini pada awalnya kerap digunakan untuk menganalisis pengungkapan atau penyembunyian informasi pribadi yang dihadapi individu saat mengambil keputusan dalam konteks hubungan interpersonal (Dewi, 2023). CPM menjelaskan bahwa setiap individu memiliki batas-batas privasi yang perlu dikelola — batas mana yang boleh ditembus, batas mana yang harus dipertahankan.

Pentingnya Privasi dalam Hubungan

Pentingnya privasi dalam hubungan telah mendapat perhatian khusus dalam berbagai kajian.

Privasi dan Dinamika Hubungan Keluarga

Seiring bertambahnya anggota keluarga yang menggunakan Facebook, individu merasa khawatir jika anggota keluarganya mengetahui terlalu banyak informasi pribadi mereka di media sosial, sementara mereka juga ingin berbagi informasi pribadi tersebut dengan teman-temannya (Dewi, 2023). Hadirnya Facebook tidak hanya menyediakan cara baru bagi individu untuk meningkatkan hubungan dan berinteraksi dengan anggota keluarga, namun juga menimbulkan kemungkinan gangguan privasi, turbulensi batas, dan potensi konflik (Miller, Danielson, Parcell, Nicolini, et al., 2016, dikutip dalam Dewi, 2023). Dalam hubungan keluarga, mengelola informasi pribadi di media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi individu.

Hasil penelitian Dewi (2023) menunjukkan bahwa sebagai pemilik informasi, individu menerapkan kontrol privasi melalui aturan dan batasan privasi sebagai cara untuk memutuskan apa yang akan diungkapkan dan disembunyikan di Facebook. Keputusan pengungkapan privasi dipengaruhi oleh kualitas hubungan dalam keluarga dan topik bahasan (Dewi, 2023). Individu akan menerapkan batasan pribadi yang lebih ketat untuk informasi yang terkait seks dan penyakit HIV — menunjukkan bahwa privasi berkaitan erat dengan sensitivitas topik.

Risiko Jika Privasi Tidak Dikelola dengan Baik

Pengguna media sosial adalah ancaman terbesar atas privasi, di mana secara bebas menyebarkan informasi pribadi pada akun yang dimiliki (Liu et al., 2017, dikutip dalam Dewi, 2023). Apabila anggota keluarga mengungkapkan terlalu banyak privasi di media sosial, hal ini mengindikasikan bahwa mereka mengizinkan lebih banyak akses privasi (Dewi, 2023, Latar Belakang). Pada komunikasi termediasi komputer, jika informasi privasi telah terungkap maka kontrol atas informasi tersebut tidak berada di tangan pemiliknya lagi — kondisi tersebut menyebabkan turbulensi privasi yang lebih luas dan lebih cepat karena semua orang dapat berpartisipasi dalam percakapan (Dewi, 2023, hal. 179).

Manajemen Privasi dalam Hubungan

Manajemen privasi dalam hubungan membutuhkan komunikasi dan aturan yang jelas.

Strategi Manajemen Privasi Berdasarkan Teori CPM

Teori CPM menjelaskan bahwa individu mengelola privasi melalui sistem aturan (privacy rules) yang menentukan siapa yang boleh mengakses informasi pribadi mereka. Batasan privasi yang diterapkan individu berbeda-beda sesuai dengan tingkat keintiman dalam hubungan keluarga dan topik informasi yang akan diungkapkan (Dewi, 2023). Kontrol privasi yang dilakukan oleh individu dalam konteks hubungan keluarga di Facebook diterapkan sebagai cara untuk menghindari terjadinya turbulensi (Dewi, 2023).

Individu dengan kekhawatiran privasi yang tinggi mengenai bagaimana informasi mereka dapat digunakan atau dieksploitasi cenderung menurunkan permeabilitas batas dan kepemilikan batas mereka (Dewi, 2023). Untuk itu, penyesuaian dan perubahan aturan privasi perlu terus diperbaiki oleh pengguna demi keberlangsungan hubungan dengan anggota keluarga.

Manajemen Privasi di Media Sosial: Konteks Keluarga

Agar tetap dapat menjalin hubungan baik dan berinteraksi dengan keluarga di media sosial, individu harus membuat aturan ketat dengan membatasi akses informasi hanya kepada orang yang dipilih untuk menghindari munculnya turbulensi (Dewi, 2023). Kemungkinan turbulensi dapat sangat diperkuat oleh sifat ekspansif media sosial dan peraturan yang sering kali berubah — sehingga penyesuaian aturan privasi perlu terus dilakukan seiring perkembangan platform.

Individu dalam hubungan keluarga menerapkan batasan privasinya yang berbeda-beda di media sosial berdasarkan topik atau konteks yang akan dibicarakan (Dewi, 2023). Begitu informasi pribadi disebarkan melalui media sosial, pemilik informasi tidak dapat menghentikan penyebarannya — kesadaran ini mendorong pentingnya pertimbangan matang sebelum berbagi.

Kesimpulan

Privasi dalam hubungan adalah aspek penting yang perlu dikelola secara aktif, terutama di era media sosial. Berdasarkan kajian literatur Dewi (2023) dalam Komunikatif: Jurnal Ilmu Komunikasi, manajemen privasi dalam konteks keluarga di Facebook menjelaskan bahwa individu sebagai pemilik informasi menerapkan kontrol privasi melalui aturan dan batasan privasi yang berbeda-beda sesuai tingkat keintiman dan topik yang dibicarakan. Memahami teori CPM dan menerapkan aturan privasi yang jelas dan disepakati bersama akan membantu menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan kebutuhan privasi — sehingga hubungan keluarga tetap harmonis dan saling menghargai di era digital ini.