Stonewalling: Pengertian, Ciri, dan Cara Mengatasinya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stonewalling sering muncul saat konflik, ketika satu pihak memilih diam dan menutup diri sepenuhnya. Sikap ini bisa membuat lawan bicara merasa diabaikan dan bingung harus bersikap bagaimana. Jika dibiarkan berulang, hubungan berisiko dipenuhi jarak emosional dan rasa tidak aman.
Apa Itu Stonewalling dalam Hubungan?
Secara sederhana, stonewalling adalah pola menarik diri secara ekstrem dalam komunikasi, misalnya mendadak diam, tidak merespons, atau menghindar saat diajak membahas masalah. Dalam psikologi hubungan, kondisi ini berbeda dengan sekadar butuh waktu menenangkan diri karena orang yang stonewalling cenderung memutus komunikasi tanpa menjelaskan batas waktu atau tujuannya. Pada dewasa muda, sikap ini sering muncul dalam relasi keluarga maupun pasangan ketika konflik terasa terlalu menekan.
Menurut Tania Dwi Afifah, Kheyene Molekandella Boer, dan Kadek Dristiana Dwivayani dalam artikel jurnal “Komunikasi Hati sebagai Strategi Mengatasi Stonewalling pada Dewasa Muda dengan Pola Komunikasi Keluarga Laissez-Faire” yang diterbitkan di Jurnal Kreativitas Pendidikan Modern pada 2025, stonewalling merupakan penarikan diri emosional dan verbal saat konflik yang dapat menghambat komunikasi serta merenggangkan kelekatan emosional.
Dalam konteks keluarga dengan pola komunikasi laissez-faire, disfungsi komunikasi juga dikaitkan dengan kesulitan menyalurkan kebutuhan emosional, stres, perasaan terasing, serta gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi pada dewasa muda.
Stonewalling pada Dewasa Muda dengan Pola Komunikasi Laissez-Faire
Pola komunikasi keluarga laissez-faire ditandai minimnya obrolan mendalam dan rendahnya keterlibatan orang tua dalam diskusi emosional. Anak terbiasa mengurus perasaannya sendiri tanpa banyak bimbingan. Di kemudian hari, dewasa muda dari keluarga seperti ini cenderung canggung mengungkapkan emosi dan lebih memilih diam saat situasi terasa tidak nyaman.
Artikel jurnal yang sama menjelaskan bahwa dewasa muda yang tumbuh dalam pola komunikasi keluarga laissez-faire sering tidak memiliki ruang komunikasi yang terbuka dan suportif. Minimnya dukungan emosional membuat mereka menghadapi tantangan dalam regulasi emosi, sehingga saat konflik muncul mereka cenderung bereaksi spontan dengan diam, menghindar, atau menutup diri sebagai bentuk stonewalling.
Ciri-Ciri Stonewalling yang Perlu Diwaspadai
Beberapa tanda yang sering muncul antara lain: diam total, jawaban sangat singkat seperti “terserah”, menghindari kontak mata, pura-pura sibuk dengan gawai, atau sengaja mengalihkan topik. Di balik sikap itu, biasanya ada emosi kuat seperti kelelahan, rasa kewalahan, atau merasa terancam oleh kemungkinan konflik yang lebih besar. Stonewalling yang kronis tampak sebagai pola berulang setiap kali ada masalah, sedangkan reaksi sesaat lebih mirip upaya spontan melindungi diri ketika stres memuncak.
Strategi Mengatasi Stonewalling dengan Komunikasi Hati
Komunikasi hati merujuk pada cara berkomunikasi yang jujur, lembut, dan berangkat dari perasaan terdalam, bukan dari kemarahan atau tuduhan. Pendekatan ini membantu menembus “dinding diam” karena lawan bicara merasa lebih aman untuk membuka diri. Tujuannya membangun rasa diterima, didengar, dan tidak dihakimi, sehingga emosi yang menumpuk pelan-pelan bisa keluar.
Dalam artikel jurnal yang telah disebutkan sebelumnya, Komunikasi Hati digambarkan sebagai proses melalui tahapan olah pikir, olah rasa, dan pembuangan “sampah hati” yang membantu individu mengelola emosi sebelum berkomunikasi. Pendekatan ini dapat menurunkan frekuensi stonewalling, memfasilitasi dialog terbuka dan empati, serta memperkuat kelekatan emosional dalam keluarga laissez-faire.
Prinsip-Prinsip Komunikasi Hati untuk Mengurangi Stonewalling
Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan. Pertama, mendengarkan secara empatik, yaitu fokus pada perasaan lawan bicara tanpa langsung menyela dengan pembelaan diri. Kedua, menggunakan bahasa “aku”, misalnya “aku sedih saat obrolan berhenti tiba-tiba”, yang terdengar lebih lembut dibanding kalimat menyalahkan. Ketiga, memilih waktu dan suasana yang tenang agar percakapan tidak terasa mengancam. Artikel Journal Versa tersebut menekankan bahwa empati dan penerimaan membuat orang yang biasa menutup diri merasa lebih aman untuk berbagi, sehingga kecenderungan stonewalling berkurang.
Langkah Praktis Menerapkan Komunikasi Hati dalam Keseharian
Saat pasangan atau anggota keluarga mulai diam, Anda bisa berkata, “Kalau kamu belum siap bicara sekarang tidak apa-apa, aku akan menunggu. Nanti saat kamu siap, aku ingin dengar apa yang kamu rasakan.” Kalimat seperti ini mengundang dialog tanpa memaksa. Jika Anda sendiri butuh jeda, sampaikan dengan jelas, misalnya, “Aku lagi sangat emosi, boleh kita istirahat 30 menit lalu lanjut bicara?” Selain itu, penting untuk mengenali pemicu pribadi yang membuat Anda memilih diam, misalnya takut ditolak atau pengalaman buruk di masa lalu. Bila pola stonewalling sudah mengakar dan memengaruhi banyak aspek hidup, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog untuk mempelajari cara komunikasi yang lebih sehat.
Kesimpulan
Stonewalling bisa merusak hubungan karena membuat masalah menggantung dan menumpuk tanpa pernah benar-benar dibicarakan. Sikap diam yang berulang juga mengikis rasa percaya dan membuat kedua pihak merasa sendirian dalam hubungan. Di sisi lain, komunikasi hati menawarkan jalan yang lebih hangat untuk mengatasi kebuntuan tersebut.
Dengan memahami apa itu stonewalling, ciri-cirinya, dan strategi komunikasi yang lebih empatik, Anda dan orang terdekat dapat mulai membangun pola dialog yang lebih sehat. Proses ini mungkin tidak instan, namun langkah kecil seperti memilih kata yang lembut, memberi ruang aman, dan berani mengungkapkan perasaan jujur sudah menjadi awal penting untuk memperbaiki kualitas relasi.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta