Konten dari Pengguna

Teori Belajar Behaviorisme: Sejarah dan Perkembangan

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Behaviorisme. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Behaviorisme. Gambar: Pexels.

Teori behaviorisme telah menjadi salah satu dasar pemikiran penting di bidang psikologi pendidikan. Fokus utama pendekatan ini adalah proses belajar yang dipengaruhi oleh lingkungan, bukan sekadar pikiran atau perasaan individu.

Sejarah Singkat Behaviorisme

Menurut buku Teori Belajar Behavirorisme (dalam Perspektif Pemikiran Tokoh-Tokohnya), behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif, dan psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak. Teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan, mendominasi argumentasi tentang fenomena belajar manusia hingga penghujung abad ke-20 (Hamruni dkk., 2021).

Awal Munculnya Behaviorisme dalam Psikologi

Pada mulanya, behaviorisme muncul di Amerika Serikat sebagai respons terhadap metode psikologi lama yang sulit diukur secara ilmiah, di mana para ilmuwan ingin memfokuskan penelitian pada hal-hal yang dapat diamati langsung.

Perkembangan Konsep Behaviorisme di Abad 20

Sepanjang abad ke-20, behaviorisme berkembang menjadi aliran utama dalam psikologi. Perubahan ini berkontribusi pada lahirnya teori dan praktik belajar yang menekankan pengaruh lingkungan terhadap perilaku.

Konsep Dasar Teori Belajar Behaviorisme

Teori belajar behaviorisme menyatakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dinilai secara konkret; perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (response) berdasarkan hukum-hukum mekanistik (Hamruni dkk., 2021). Secara teoritik, belajar dalam konteks behaviorisme melibatkan empat unsur pokok yaitu drive, stimulus, response, dan reinforcement (Hamruni dkk., 2021).

Definisi dan Prinsip Utama Behaviorisme

Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan (input) berupa stimulus dan keluaran (output) berupa respons. Proses yang terjadi antara stimulus dan respons dianggap tidak penting karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur (Hamruni dkk., 2021).

Peran Pengalaman dan Lingkungan dalam Pembelajaran

Pengalaman dan lingkungan memiliki peranan sangat besar dalam proses belajar menurut behaviorisme. Hamruni dkk. menjelaskan bahwa penguatan (reinforcement) merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan atau dihilangkan untuk memungkinkan terjadinya respons.

Tokoh-Tokoh Utama dan Pemikiran Mereka dalam Behaviorisme

Beberapa ilmuwan yang termasuk pendiri dan penganut teori ini antara lain Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, dan Skinner (Hamruni dkk., 2021).

John B. Watson: Pelopor Behaviorisme

John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat melalui karyanya Psychology as the Behaviourist Views It (1913); ia berpendapat bahwa psikologi harus menjadi ilmu yang objektif dengan membatasi kajiannya pada perilaku yang dapat diamati dan diukur (Hamruni dkk., 2021).

B.F. Skinner: Teori Penguatan

Prinsip paling penting dalam teori Skinner adalah bahwa perilaku berubah menurut konsekuensi langsungnya — konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku, sedangkan yang tidak menyenangkan akan melemahkan perilaku (Hamruni dkk., 2021). Penting dicatat bahwa Skinner tidak menganjurkan penggunaan hukuman dalam kegiatan pembelajaran; yang lebih ditekankan adalah penguatan (reinforcement) (Hamruni dkk., 2021).

Ivan Pavlov: Kondisioning Klasik

Ivan Petrovich Pavlov (1849–1936) terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons. Classical conditioning adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan (Hamruni dkk., 2021).

Penerapan Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi, dan mengembangkan kemampuannya sendiri (Hamruni dkk., 2021). Namun demikian, teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, serta senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung (Hamruni dkk., 2021).

Strategi Pembelajaran Berbasis Behaviorisme

Beberapa strategi yang sering digunakan antara lain pemberian reward dan punishment, latihan berulang, serta penggunaan penguatan positif untuk mendorong perilaku belajar.

Contoh Aplikasi di Sekolah dan Pendidikan

Di lingkungan sekolah, guru dapat menggunakan sistem hadiah untuk memotivasi siswa atau menerapkan latihan soal berulang agar siswa terbiasa merespons dengan benar.

Kesimpulan

Teori belajar behaviorisme mengutamakan perubahan perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan. Melalui pemikiran tokoh-tokoh seperti Watson, Skinner, dan Pavlov, behaviorisme telah membentuk berbagai metode pembelajaran yang masih relevan hingga kini.