Konten dari Pengguna

Teori Daryl Bem: Konsep Self-Perception dan Perjalanan Kariernya

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Self-Perception. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Self-Perception. Gambar: Pexels.

Daryl Bem dikenal luas sebagai tokoh penting dalam dunia psikologi sosial. Ia membawa pendekatan unik melalui teori self-perception yang hingga kini masih menjadi rujukan. Artikel ini membahas perjalanan karier Daryl Bem, pokok gagasan dalam teorinya, bukti empirisnya, serta pengaruhnya di bidang psikologi.

Profil Singkat Daryl Bem

Daryl J. Bem adalah psikolog sosial Amerika yang dikenal melalui pengembangan self-perception theory. Dalam artikelnya pada tahun 1967, ia berafiliasi dengan Carnegie Institute of Technology. Ia kemudian melanjutkan karier akademiknya sebagai profesor psikologi di Cornell University sejak 1978 hingga menjadi profesor emeritus (Bem, 1967)

Kontribusi dalam Psikologi Sosial

Kontribusi utama Bem adalah mengemukakan teori self-perception sebagai alternatif terhadap penjelasan dalam teori disonansi kognitif Festinger (Bem, 1967). Sebelumnya, ia telah menyajikan bukti eksperimental awal terkait self-persuasion (Bem, 1965), dan kemudian mengembangkan teorinya secara lebih komprehensif dalam bab Self-Perception Theory (Bem, 1972).

Teori Self-Perception Daryl Bem

Teori Daryl Bem tentang self-perception memberikan sudut pandang baru dalam memahami perilaku manusia. Menurut penjelasan dalam jurnal Self-Perception: An Alternative Interpretation of Cognitive Dissonance Phenomena, teori ini menawarkan pemahaman berbeda dari teori yang sudah ada sebelumnya.

Konteks Teoritis: Tantangan terhadap Teori Disonansi Kognitif

Untuk memahami teori self-perception Bem, penting untuk memahami konteksnya. Teori disonansi kognitif Festinger (1957) adalah teori yang mendapat perhatian paling luas dari psikolog kepribadian dan sosial dalam 10 tahun setelah penerbitannya. Teori ini menyatakan bahwa jika seseorang memegang dua kognisi yang tidak konsisten satu sama lain, ia akan mengalami tekanan dari keadaan motivasional yang disebut disonansi kognitif, dan berupaya menghilangkan tekanan tersebut dengan mengubah salah satu kognisi yang "disonan" (Bem, 1967).

Bem hadir dengan proposisi yang menantang asumsi mendasar teori ini — bahwa tidak perlu mendalilkan dorongan motivasional aversi menuju konsistensi untuk menjelaskan perubahan sikap yang diamati (Bem, 1967).

Pengertian dan Proposisi Inti Teori Self-Perception

Dalam Self-Perception: An Alternative Interpretation of Cognitive Dissonance Phenomena, Bem mengusulkan bahwa pernyataan sikap dan keyakinan seseorang seringkali secara fungsional serupa dengan atribusi yang akan diberikan pengamat luar terhadapnya — keduanya merupakan "inferensi parsial" dari bukti yang sama: perilaku publik dan petanda stimulus yang menyertainya yang telah diandalkan komunitas dalam melatihnya untuk membuat pernyataan deskriptif diri semacam itu sejak awal (Bem, 1967).

Bem mengilustrasikan proposisi ini dengan contoh sederhana yang kuat: ketika seseorang menjawab pertanyaan "Apakah Anda suka roti gandum?" dengan "Sepertinya iya, saya selalu memakannya" — jawabannya secara fungsional setara dengan jawaban yang istrinya mungkin berikan untuknya: "Sepertinya ia suka, ia selalu memakannya." Tidak perlu menginvokasi sumber pengetahuan diri yang istimewa untuk menjelaskan respons tersebut (Bem, 19677).

Pendekatan Radical Behaviorism

Berbeda dengan disonansi kognitif yang menekankan fenomenologi individual, formulasi alternatif Bem menghindari referensi pada proses internal hipotetis apa pun dan berupaya menjelaskan hubungan fungsional antara stimulus dan respons saat ini berdasarkan riwayat pelatihan individu. Pendekatan ini disebut "radical" behaviorism — posisi yang paling sering diasosiasikan dengan nama B.F. Skinner (Bem, 1967).

Self-perception sendiri didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk merespons secara diferensial terhadap perilakunya sendiri dan variabel pengontrolnya, yang merupakan produk interaksi sosial (Mead, 1934; Ryle, 1949; Skinner, 1957, dalam Bem, 1967).

Bukti Empiris: Eksperimen Replikasi Interpersonal

Kontribusi empiris utama artikel Bem (1967) adalah eksperimen replikasi interpersonal terhadap studi klasik Festinger & Carlsmith (1959). Bem berargumen: jika analisis self-perception benar, maka harusnya memungkinkan untuk mereplikasi hubungan terbalik antara jumlah kompensasi dan pernyataan sikap akhir dengan membiarkan pengamat luar mencoba menyimpulkan sikap seseorang dalam studi aslinya (Bem, 1967).

Dalam eksperimen ini, 75 mahasiswa S1 berperan sebagai pengamat luar dan diminta menilai sikap seorang mahasiswa bernama "Bob Downing" terhadap tugas laboratorium. Hasilnya mereplikasi hubungan terbalik: replikasi interpersonal ini memberikan dukungan bagi analisis self-perception. Subjek asli dapat dipandang sebagai orang yang semata-mata membuat penilaian diri berdasarkan jenis bukti publik yang sama yang semula digunakan komunitas untuk melatih mereka menyimpulkan sikap siapa pun — termasuk diri mereka sendiri. Tidak perlu mendalilkan dorongan motivasional aversi menuju konsistensi (Bem, 1967).

Dampak Teori Self-Perception di Dunia Psikologi

Teori self-perception Bem membuka jalan bagi penelitian-penelitian penting berikutnya. Valins (1966) dalam jurnal Cognitive effects of false heart-rate feedback memperluas prinsip self-perception ke domain fisiologis: menunjukkan bahwa individu menggunakan umpan balik detak jantung yang dipersepsikan (bahkan yang palsu) untuk menyimpulkan ketertarikan mereka terhadap stimulus. Bem (1972) kemudian mengembangkan teorinya secara komprehensif dalam Advances in Experimental Social Psychology, memperluas bukti empiris dan implikasi teoretis lebih jauh.

Teori ini memberikan pengaruh besar dalam riset motivasi, perubahan sikap, dan psikologi diri (self-psychology). Banyak peneliti mengadopsi kerangka berpikir ini untuk memahami bagaimana perilaku dapat membentuk — bukan hanya mencerminkan — sikap dan keputusan seseorang.

Karier dan Pencapaian Daryl Bem

Daryl Bem mengawali karier di Carnegie Institute of Technology sebelum pindah ke Cornell University. Di Cornell, ia menjadi profesor psikologi yang produktif dan dihormati. Sebelum artikel teorinya yang paling berpengaruh, Bem telah mempublikasikan dua karya empiris pendahuluan: An experimental analysis of self-persuasion (1965) yang menunjukkan bahwa individu mendasarkan keyakinan selanjutnya pada perilaku yang diamati sejauh perilaku tersebut dilakukan dalam kondisi yang secara historis memfasilitasi penyampaian kebenaran; dan Inducing belief in false confessions (1966) yang membuktikan bahwa individu dapat diinduksi untuk mempercayai "pengakuan palsu" jika ada isyarat eksternal yang hadir yang biasanya menjadi kesempatan untuk berkata jujur (Bem, 1967).

Kesimpulan

Teori Daryl Bem memperkaya pemahaman tentang bagaimana manusia membentuk sikap dan perilaku dengan cara yang radikal — menolak pendalilkan proses motivasional internal yang tidak dapat diamati, dan sebaliknya menjelaskan perubahan sikap berdasarkan observasi individu terhadap perilaku dan konteks situasionalnya sendiri. Bem menunjukkan bahwa individu tidak memerlukan "pengetahuan diri yang istimewa" untuk memahami sikapnya — melainkan menggunakan bukti publik yang sama yang digunakan orang lain untuk menilainya. Teori ini tetap relevan sebagai salah satu tantangan teoritis paling elegan terhadap dominasi teori disonansi kognitif dalam psikologi sosial.