Konten dari Pengguna

Trauma Bonding: Pengertian dan Contoh dalam Hubungan Intim

R

Ruang Psikologi

Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi trauma bonding. Foto Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi trauma bonding. Foto Unsplash.

Trauma bonding merupakan istilah yang kini semakin dikenal di masyarakat, terutama saat membahas hubungan yang penuh dinamika emosional. Fenomena ini sering dialami tanpa disadari, sehingga membuat individu sulit memutus hubungan yang sebenarnya tidak sehat. Memahami trauma bonding dapat membantu seseorang mengenali pola hubungan yang merugikan dan mengambil langkah yang tepat untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Definisi Trauma Bonding

Trauma bonding mengacu pada ikatan emosional yang terbentuk akibat pengalaman berulang antara perilaku baik dan buruk dalam suatu hubungan.

Menurut Fonseca dan Oliveira dalam Trauma Bonding: Concepts, Causes and Mechanisms in Intimate Relationships, trauma bonding merupakan keterikatan pada hubungan abusif yang terbentuk dalam siklus kekerasan, terutama ketika kekerasan diselingi fase “honeymoon”, penyesalan, dan permintaan maaf dari pelaku, sehingga korban semakin terikat secara emosional dan sulit melepaskan diri dari pasangan abusif.

Pengertian Menurut Studi Nicole de Queiroz Lima Fonseca

Ikatan ini berkembang karena adanya siklus perlakuan baik dan buruk yang membuat korban terus berharap akan perubahan, meskipun kenyataannya relasi tetap tidak sehat. Seseorang bisa merasa sangat tergantung secara emosional pada pelaku.

Perbedaan Trauma Bonding dengan Hubungan Sehat

Pada hubungan sehat, rasa aman dan kepercayaan menjadi dasar utama. Sedangkan pada trauma bonding, hubungan dipenuhi ketidakpastian, rasa takut, dan harapan yang sering tidak terpenuhi.

Penyebab dan Mekanisme Terjadinya Trauma Bonding

Trauma bonding tidak terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor dan mekanisme psikologis yang memperkuat keterikatan emosional ini.

Faktor-faktor Penyebab Trauma Bonding

Beberapa faktor pemicu antara lain pengalaman kekerasan emosi, manipulasi, hingga pola pengulangan siklus konflik dan rekonsiliasi. Individu yang pernah mengalami kekerasan masa kecil juga lebih rentan terjebak dalam trauma bonding.

Mekanisme Psikologis di Balik Trauma Bonding

Secara psikologis, otak korban cenderung mengingat momen-momen baik, sehingga menutupi perilaku buruk pasangan. Hal ini memicu harapan akan perubahan yang sulit terwujud.

Contoh Trauma Bonding dalam Kehidupan Sehari-hari

Trauma bonding bisa terjadi pada siapa saja, bahkan dalam hubungan yang tampak harmonis di permukaan.

Contoh Situasi dalam Hubungan Romantis

Misalnya, seseorang tetap bertahan pada pasangan yang sering memarahi atau mengontrol, karena sesekali pasangan itu menunjukkan perhatian atau meminta maaf dengan tulus.

Tanda-tanda Seseorang Mengalami Trauma Bonding

Beberapa tanda meliputi rasa bersalah jika ingin pergi, takut kehilangan meski sering disakiti, dan terus memaafkan perilaku buruk pasangan.

Kesimpulan dan Pentingnya Mengenali Trauma Bonding

Trauma bonding dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang. Ikatan ini membuat korban sulit membedakan cinta sejati dengan keterikatan yang merugikan. Mengenali tanda-tanda trauma bonding adalah langkah awal untuk mulai membangun hubungan yang lebih sehat.

Jika merasa mengalami trauma bonding, mencari dukungan profesional atau berbagi cerita kepada orang terpercaya bisa menjadi langkah pertama untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat. Dengan pemahaman yang lebih baik, peluang untuk hidup dengan relasi sehat pun semakin besar.

Reviewed by Helda Waty Sihombing

Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta