Trauma Perselingkuhan: Apa Itu dan Bagaimana Mengenali Cirinya
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trauma perselingkuhan seringkali meninggalkan luka mendalam yang tidak selalu mudah disembuhkan. Banyak pasangan yang tetap bertahan setelah peristiwa ini, namun proses pemulihan emosi bisa menjadi perjalanan panjang.
Mengenali tanda dan memahami proses pemulihan adalah langkah awal agar hubungan tetap sehat ke depannya.
Apa Itu Trauma Perselingkuhan?
Trauma perselingkuhan mengacu pada dampak emosional dan psikologis yang dialami seseorang setelah mengetahui adanya pengkhianatan dalam hubungan. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup, pola pikir, serta hubungan dengan pasangan ke depannya.
Menurut penelitian Recovery From Infidelity: Differentiation of Self, Trauma, Forgiveness, and Posttraumatic Growth Among Couples in Continuing Relationships oleh Ashley Heintzelman et al., perselingkuhan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif seperti hilangnya kepercayaan, rusaknya harga diri, gangguan pada hubungan lain, konsekuensi finansial, dan masalah emosional.
Namun, dalam penelitian terhadap individu yang tetap bertahan dalam hubungan setelah perselingkuhan, tingkat trauma tidak ditemukan sebagai prediktor langsung dari forgiveness, kecuali ketika berinteraksi dengan differentiation of self.
Definisi Trauma Perselingkuhan
Secara sederhana, trauma perselingkuhan adalah reaksi emosional intens yang muncul setelah seseorang mengetahui pasangan tidak setia. Umumnya, reaksi ini berupa perasaan terluka, kecewa, dan kehilangan rasa aman.
Bagaimana Trauma Ini Terjadi dalam Hubungan
Trauma ini muncul saat kepercayaan yang sudah dibangun rusak akibat pengkhianatan. Dampaknya bisa langsung terasa atau baru muncul setelah waktu berlalu, tergantung pada seberapa besar keterikatan dalam hubungan.
Kutipan Sumber
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perselingkuhan dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif, seperti hilangnya kepercayaan, rusaknya harga diri, terganggunya hubungan dengan orang lain, konsekuensi finansial, dan masalah emosional. Penelitian ini juga membahas proses pemulihan pada individu yang tetap berada dalam hubungan setelah perselingkuhan terjadi.
Ciri-Ciri Trauma Perselingkuhan
Setelah mengalami pengkhianatan, seseorang bisa menunjukkan berbagai ciri trauma perselingkuhan. Ciri-ciri ini tidak selalu sama pada setiap individu, namun ada beberapa pola umum yang sering ditemukan.
Gejala Emosional
Rasa cemas berlebihan, kemarahan yang sulit dikendalikan, dan hilangnya rasa percaya kerap menjadi gejala utama. Seseorang juga bisa merasa rendah diri dan mudah curiga pada pasangan.
Gejala Fisik dan Psikologis
Perubahan pola tidur, gangguan makan, atau munculnya gejala depresi adalah reaksi yang sering dialami. Terkadang, tubuh pun turut merespons dengan rasa lelah berkepanjangan atau mudah sakit.
Dampak pada Hubungan Setelah Perselingkuhan
Memperbaiki kepercayaan menjadi tantangan besar. Seringkali, konflik kecil memicu pertengkaran besar karena luka emosional yang belum tuntas.
Kutipan Sumber
Penelitian yang sama menggunakan ukuran trauma yang mencakup gejala intrusi dan penghindaran, seperti pikiran dan gambaran yang muncul tanpa diundang, mimpi yang mengganggu, gelombang perasaan yang kuat, perilaku repetitif, denial, behavioral inhibition, serta emotional numbness, yang menunjukkan bahwa pengalaman perselingkuhan dapat dipahami dalam kerangka respons trauma psikologis.
Proses Pemulihan dari Trauma Perselingkuhan
Pemulihan trauma perselingkuhan membutuhkan waktu dan komitmen dari kedua belah pihak. Langkah-langkah yang terstruktur dan adanya dukungan emosional sangat membantu proses ini.
Tahapan Pemulihan
Prosesnya dimulai dari mengakui adanya trauma, lalu berupaya untuk memaafkan, baik diri sendiri maupun pasangan. Perlahan, hubungan dapat mengalami pertumbuhan positif setelah melewati fase sulit ini.
Faktor Penentu Pemulihan
Keberhasilan pemulihan dipengaruhi oleh keterbukaan komunikasi, dukungan pasangan, dan kemampuan untuk membangun kembali kepercayaan. Adanya ruang untuk berdialog tanpa saling menyalahkan sangat penting dalam proses ini.
Kutipan Sumber
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diferensiasi diri berperan sebagai prediktor penting dalam kemampuan memaafkan, sementara forgiveness menjadi satu-satunya prediktor signifikan terhadap post-traumatic growth pada individu yang tetap berada dalam hubungan setelah perselingkuhan.
Kesimpulan
Trauma perselingkuhan merupakan pengalaman emosional yang kompleks dan bisa berdampak panjang pada individu serta hubungan. Mengenali ciri-cirinya dan memahami proses pemulihan sangat membantu agar proses bangkit dari peristiwa ini berjalan lebih sehat.
Dengan dukungan serta komunikasi yang baik, pemulihan trauma perselingkuhan tetap memungkinkan, meski membutuhkan waktu dan kesabaran.
Reviewed by Helda Waty Sihombing
Baca Juga: Hubungan dan Relationship: Memahami, Menjaga, dan Mengembangkan Cinta