Apa Itu Dzurriyah? Ini Penjelasannya Menurut Al-Quran
Membahas berbagai informasi dari beragam topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu dzurriyah dalam konteks pembahasan keagamaan dan keturunan dalam ajaran Islam.
Pembahasan mengenai dzurriyah juga kerap dikaitkan dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan keluarga hingga nilai-nilai yang diwariskan antar generasi.
Istilah ini sering muncul dalam percakapan, kajian, maupun literatur Islam, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih mendalam tentang makna dan konteks penggunaannya.
Apa Itu Dzurriyah Menurut Ajaran Islam
Apa itu Dzurriyah? Dikutip dari Dzurriyyat dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik), oleh Hasan Basri (2022), dalam situs etheses.iainponorogo.ac.id, dzurriyyat atau dzurriyah merujuk pada keturunan atau generasi penerus, yang mencakup baik manusia maupun jin, tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan.
Pembahasan mengenai keturunan atau generasi penerus dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah dzurriyyat. Istilah ini disebutkan sekitar 30 kali dan tersebar dalam 20 surat yang berbeda.
Secara garis besar, Al-Qur’an mengelompokkan dzurriyyat ke dalam dua bentuk, salah satunya adalah dzurriyyatan thayyibatan, yaitu keturunan yang berkualitas baik.
Konsep ini tercermin dalam firman Allah pada Q.S. Ali ‘Imran ayat 38, yang mengisahkan doa Nabi Zakariya agar dianugerahi keturunan yang saleh. Yang artinnya:
“Di tempat itulah Zakariya berdoa kepada Tuhannya dengan berkata: ‘Ya Tuhanku, karuniakanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang keturunan yang baik. Sungguh, Engkau Maha Mendengar doa.’” (Q.S. Ali ‘Imran: 38).
Dzurriyah yang kedua yaitu istilah dzurriyyatan dhi’āfan sebagaimana tercantum dalam Q.S. an-Nisa ayat 9 merujuk pada kondisi keturunan yang berada dalam keadaan lemah dan rentan.
Ayat tersebut mengingatkan agar setiap orang memiliki rasa takut kepada Allah apabila mereka membayangkan meninggalkan generasi penerus yang tidak berdaya serta dikhawatirkan kesejahteraannya.
Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah dan menyampaikan perkataan yang jujur serta benar dalam setiap keadaan.
Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 38, Allah menegaskan pentingnya memiliki keturunan yang baik (dzurriyyatan thayyibatan).
Sementara itu, pada Surah al-Nisa ayat 9, Allah mengingatkan orang-orang beriman agar tidak meninggalkan generasi yang lemah (dzurriyyatan dhi’āfan).
Kelemahan yang dimaksud mencakup berbagai aspek, yakni kelemahan dalam akidah, pengetahuan, akhlak, moral, kondisi fisik, hingga keadaan ekonomi.
Kelemahan dalam akidah dapat menjerumuskan seseorang pada perilaku yang menyimpang. Kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan akan mengakibatkan generasi tersebut tidak mampu bersaing dengan pihak lain.
Adapun kemerosotan akhlak dan moral berpotensi merusak tatanan kehidupan sosial, baik dalam lingkup masyarakat maupun negara. Di sisi lain, kondisi fisik yang tidak optimal akan menghambat seseorang dalam beraktivitas secara maksimal.
Selain itu, keterbatasan ekonomi dapat menjadikan individu bergantung pada bantuan orang lain, sehingga kemandirian tidak dapat terwujud.
Itulah penjelasan tentang apa itu dzurriyah. Dzurriyah tidak hanya dimaknai sebagai keturunan, tetapi sebagai generasi penerus yang berkualitas dalam akidah, ilmu, akhlak, fisik, dan kemandirian ekonomi. (IF)
Baca juga: Apa Itu Taqrir? Ini Penjelasan Menurut Studi Islam