Arti Takjil dalam Islam, Ternyata Bukan Sekadar Makanan
Membahas berbagai informasi dari beragam topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ruang Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arti takjil dalam Islam kerap menjadi pertanyaan yang muncul setiap kali bulan Ramadan hadir dan suasana berbuka mulai terasa di berbagai tempat.
Banyak orang memahaminya sebagai hidangan pembatal puasa, biasanya berupa makanan manis atau minuman segar yang disantap saat azan magrib berkumandang.
Meski demikian, pemahaman tersebut sesungguhnya baru menyentuh permukaannya saja.
Arti Takjil dalam Islam
Arti takjil dalam Islam sering kali menjadi perhatian ketika Ramadan hadir dan berbagai persiapan berbuka mulai terlihat di banyak tempat.
Istilah ini begitu populer serta kerap dilekatkan pada aneka kudapan yang disantap sesaat setelah azan Magrib berkumandang, mulai dari kolak pisang, sop buah, es campur, hingga beragam makanan manis lainnya.
Pemahaman tersebut tumbuh luas di tengah masyarakat dan diwariskan melalui kebiasaan yang terus berulang, sehingga takjil kemudian identik dengan hidangan pembuka puasa yang menghadirkan rasa lega setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Dikutip dari laman rri.co.id, mengungkapkan bahwa walaupun demikian, takjil sebenarnya tidak bermakna makanan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ini diartikan sebagai tindakan mempercepat berbuka puasa. Kata tersebut berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘ajila, yang memiliki arti menyegerakan.
Oleh sebab itu, takjil mengandung pesan agar pembatalan puasa dilakukan tepat waktu tanpa penundaan.
Penekanan maknanya terletak pada kesegeraan, sehingga perhatian utamanya bukan pada apa yang disantap, melainkan pada kepatuhan terhadap waktu berbuka.
Akan tetapi, perkembangan bahasa berlangsung secara dinamis. Seiring perjalanan waktu, ajakan untuk segera berbuka perlahan berubah menjadi sebutan bagi makanan yang hadir pada awal waktu Magrib.
Pergeseran ini muncul dari praktik sosial yang dilakukan terus-menerus, kemudian membentuk pemahaman baru yang terasa wajar dalam percakapan sehari-hari.
Meskipun arti awalnya berbeda, penggunaan tersebut tetap hidup berdampingan dengan makna dasarnya.
Dalam ajaran Islam, menyegerakan berbuka puasa memang sangat dianjurkan karena dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Rasulullah biasanya berbuka dengan ruthab atau kurma muda sebelum menunaikan salat Magrib.
Jika tidak tersedia, beliau memilih tamr atau kurma matang. Bahkan apabila kurma tidak ada, beberapa teguk air telah cukup menjadi pembuka puasa.
Gambaran ini menunjukkan kesederhanaan sekaligus ketegasan terhadap anjuran untuk tidak menunda waktu berbuka.
Melalui uraian tersebut, dapat dipahami bahwa jenis hidangan bukanlah inti utama, sebab yang lebih ditekankan adalah kesegeraan sebagai bentuk ketaatan.
Pergeseran makna yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bagian dari dinamika bahasa tanpa menghilangkan pesan awalnya, sehingga pemahaman mengenai arti takjil dalam Islam tetap relevan hingga sekarang.(DANI)
Baca juga: Doa Ganti Puasa Ramadhan Lengkap dengan Artinya