Lir Ilir Berasal dari Mana? Ini Asal Daerah dan Maknanya
Membahas berbagai informasi dari beragam topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ruang Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lir Ilir berasal dari mana? Pertanyaan sederhana ini sering muncul ketika tembang tersebut dilantunkan dalam berbagai acara budaya maupun kegiatan keagamaan.
Di balik nadanya yang lembut dan terasa menenangkan, tersimpan jejak sejarah panjang yang membuat banyak orang semakin ingin mengenalnya lebih dekat.
Lir Ilir bukan sekadar lagu tradisional biasa, melainkan karya yang hidup di tengah masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi, serta terus dipelajari karena pesan moralnya dianggap tetap relevan hingga hari ini.
Lagu Lir Ilir Berasal dari Mana?
Lir ilir berasal dari mana? Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, mengungkapkan bahwa tembang ini lahir dari kebijaksanaan Sunan Kalijaga pada awal abad ke-16, ketika pengaruh Kerajaan Majapahit mulai memudar dan Islam berkembang di wilayah para adipati, terutama di pesisir Pulau Jawa.
Lir-ilir dikenal sebagai tembang dolanan dari Jawa Tengah. Meski terdengar sederhana, liriknya menyimpan kedalaman makna karena memuat berbagai perumpamaan dengan arti ganda, sehingga pesan keagamaan dapat hadir secara halus sekaligus menyentuh.
Melalui tembang tersebut, Sunan Kalijaga mengajak masyarakat Jawa untuk mengenal, menerima, dan mengamalkan ajaran Islam secara bertahap.
Cara ini ditempuh agar tradisi yang telah lama hidup tetap dihargai, sementara nilai baru diperkenalkan dengan penuh kearifan.
Pendekatan itu mengikuti teladan Nabi Muhammad dalam berdakwah, yaitu dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik sehingga perubahan berlangsung tanpa paksaan.
Walaupun anggota Walisongo lainnya juga menggunakan tembang sebagai sarana dakwah, pemanfaatan seni tetap menjadi pilihan penting.
Budaya Hindu-Buddha yang telah mengakar membuat penyampaian ajaran perlu dilakukan melalui simbol serta isyarat. Oleh karena itu, pesan yang tampak ringan justru menyimpan arti mendalam bagi siapa pun yang mau merenungkannya.
Pada awal penyebarannya, Lir-ilir diperkenalkan bersamaan dengan pertunjukan wayang purwa.
Dalam hal ini Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Giri. Dari kolaborasi tersebut lahirlah tokoh Punakawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Kehadiran mereka membuat nilai-nilai agama terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Strategi ini selaras dengan falsafah Kenå iwake ora buthek banyune, yakni meraih tujuan tanpa menimbulkan kegaduhan.
Dakwah dijalankan dengan tetap menjaga ketenteraman sosial serta menghindari benturan dengan raja dan nara praja. Ajaran Islam diperkenalkan sedikit demi sedikit melalui kebudayaan yang telah akrab.
Sesudah runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15, keadaan masyarakat dipenuhi kerusuhan serta kemerosotan moral. Dalam suasana tersebut banyak adipati memeluk Islam dan diikuti rakyat, terutama di pesisir utara Jawa.
Momentum itu dipandang sebagai saat yang terang dan lapang. Melalui tembang Lir-ilir, ajakan memperbaiki perilaku menurut syariat pun disampaikan lewat seni budaya hingga akhirnya membuahkan hasil.(FIFA)
Baca juga: Keragaman Budaya Madura yang Membanggakan Nusantara