Konten dari Pengguna

Pengertian Tembang Macapat Kalebu Tembang Jawa dan Berbagai Jenisnya

R

Ruang Informasi

Membahas berbagai informasi dari beragam topik.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tembang Macapat Kalebu Tembang. Unsplash.com/Ramadhany DS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tembang Macapat Kalebu Tembang. Unsplash.com/Ramadhany DS

Tembang macapat kalebu tembang adalah warisan budaya Jawa yang sangat terkenal. Macapat adalah puisi tradisional bahasa Jawa yang disusun dengan menggunakan aturan tertentu.

Dikutip dari buku berjudul Macapat Tembang Jawa, Indah, dan Kaya Makna, Zahra Haidar, 2018, 3, penulisan tembang macapat memiliki aturan dalam jumlah baris, jumlah suku kata, ataupun bunyinya. Termasuk sajak akhir tiap baris yang disebut guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.

Pengertian Tembang Macapat Kalebu Tembang Tradisional Jawa

Ilustrasi Tembang Macapat Kalebu Tembang. Unsplash.com/Maximus Beaumont

Tembang macapat kalebu tembang merupakan bagian dari tembang Jawa. Tembang ini tergolong sebagai “tembang cilik”. Di samping tembang cilik, dalam budaya Jawa dikenal juga “tembang tengahan” dan “tembang gedhe”.

Tembang macapat berisi petuah atau wejangan (nasihat) yang disampaikan dengan bahasa dan cara bijak. Terdapat banyak sekali amanat dan pelajaran berharga yang terkandung di dalam tembang ini.

Pada zaman dahulu, tembang macapat digunakan oleh orang tua sebagai sarana untuk menasihati anak-anaknya agar mengerti makna kehidupan. Melalui tembang macapat, ajaran agama dan nilai moral dari leluhur dapat diterima dengan mudah.

Hal ini karena disampaikan dalam bentuk rangkaian kata yang disusun dengan indah. Tembang macapat juga merupakan warisan leluhur yang kaya dengan makna.

Jenis-jenis Tembang Macapat

Ilustrasi Tembang Macapat Kalebu Tembang. Unsplash.com/Krisna Yuda

Tembang macapat memiliki sebelas jenis. Tiap-tiap tembang macapat mengisahkan kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Setiap jenis tembang memiliki ciri-ciri dan watak tersendiri, yaitu gembira, sedih, bijaksana, dan jenaka. Berikut adalah penjelasannya.

1. Tembang Maskumambang

Tembang macapat maskumambang menceritakan tahap pertama perjalanan hidup manusia. Maskumambang berasal dari kata “mas” dan “kumambang”. Dalam bahasa Indonesia, kata tersebut dimaknai emas terapung.

Maskumambang menggambarkan anak yang masih di dalam kandungan saat ruh ditiupkan di dalam rahim ibu. Tembang ini berisi nasihat kepada seorang anak agar senantiasa berbakti kepada orang tua.

2. Tembang Mijil

Mijil berasal dari bahasa Jawa “wijil” yang bermakna keluar. Tembang mijil bermakna saat manusia terlahir ke dunia dari rahim ibu. Tembang macapat mijil bercerita tentang welas asih, pengharapan, perilaku prihatin, ketabahan, dan cinta.

3. Tembang Sinom

Sinom artinya daun yang muda. Tembang macapat sinom menggambarkan masa muda, yaitu masa yang indah, masa penuh dengan harapan, dan angan-angan. Tembang macapat sinom menggambarkan arti pentingnya masa muda.

4. Tembang Kinanti

Kinanti berasal dari kata “kanthi” atau “tuntun” (bimbing). Artinya, manusia membutuhkan tuntunan atau bimbingan. Tuntunan dapat berupa norma agama, adat istiadat, bimbingan dari guru dan orang tua, agar dapat meraih kebahagiaan dan keselamatan dalam hidup. Tembang kinanti menggambarkan perasaan senang dan kasih sayang.

5. Tembang Asmarandana

Tembang asmarandana berasal dari kata “asmara” dan “dahana api”, artinya api asmara atau cinta kasih. Tembang asmarandana menggambarkan perasaan hati yang berbahagia atas rasa pilu dan sedih karena sedang dirundung cinta.

6. Tembang Gambuh

Gambuh artinya cocok atau jodoh. Tembang gambuh menceritakan seseorang yang bertemu dengan pasangan hidupnya. Tembang gambuh menggambarkan keselarasan dan sikap bijaksana. Tembang ini digunakan untuk menyampaikan cerita dan nasehat kehidupan, contohnya seperti rasa persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

7. Tembang Dandanggula

Tembang dandanggula merupakan jenis tembang macapat yang mempunyai Gatra atau baris paling banyak, yaitu 10 baris. Tembang ini digunakan sebagai tembang pembuka yang menjabarkan berbagai ajaran kebaikan dan ungkapan rasa cinta serta kebahagiaan.

8. Tembang Durma

Tembang macapat durma digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat amarah, berontak, dan nafsu untuk berperang. Tembang ini menunjukkan watak manusia yang sering sombong, angkuh, serakah, sering mengumbar hawa nafsu, mudah emosi, dan berbuat semena-mena terhadap sesama.

9. Tembang Pangkur

Tembang pangkur sering digunakan oleh orang Jawa sebagai pitutur atau nasehat yang disampaikan dengan kasih sayang. Nasihat tersebut menggambarkan kehidupan yang seharusnya menjauhi hawa nafsu dan Angkara murka.

10. Tembang Megatruh

Tembang megatruh berisi nasehat agar setiap manusia mempersiapkan diri menuju alam baka yang kekal dan abadi. Tembang ini sering digunakan untuk menggambarkan rasa penyesalan, duka cita, dan kesedihan.

11. Tembang Pucung

Tembang Pucung diibaratkan tahapan akhir dalam kehidupan manusia, yaitu alam baka. Kata “pucung” atau “pocong” ditafsirkan sebagai orang meninggal yang berada di alam kubur. Tembang ini biasanya menceritakan hal-hal yang lucu atau berisi tebak-tebakan untuk menghibur hati.

Meskipun bersifat jenaka, tembang pucung berisi nasihat bijak untuk menyelaraskan kehidupan antara manusia, alam, lingkungan, dan Tuhan Sang Pencipta.

Dahulu, tembang ini disenandungkan begitu saja tanpa menggunakan iringan apa pun. Pembacaan tembang macapat lebih diutamakan pada makna yang terkandung di dalam setiap syairnya.

Seiring perkembangan zaman, tembang macapat kalebu tembang yang dinyanyikan dengan menggunakan nada tertentu dengan diiringi alat musik tradisional seperti gamelan. Hingga saat ini, tembang ini masih terus dilestarikan sebagai budaya turun temurun, khususnya di lingkungan masyarakat Jawa. (Win)

Baca juga: Tari Kreasi Daerah adalah Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya