Konten dari Pengguna

Sajak Pantun: Fungsi, Ciri-Ciri, dan Contohnya

R

Ruang Informasi

Membahas berbagai informasi dari beragam topik.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sajak Pantun Adalah, Foto: Unsplash/Sarah Mae
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sajak Pantun Adalah, Foto: Unsplash/Sarah Mae

Sajak pantun adalah salah satu unsur penting dalam struktur pantun yang menentukan keindahan dan keteraturannya. Oleh karena itu, para pencinta pantun perlu memahami fungsi sajak, ciri-cirinya, serta berbagai contohnya agar dapat menyusunnya dengan lebih baik.

Dikutip dari Memberikan materi mengenai pengertian pantun dan jenis jenis pantun melalui Wa grup, oleh Esterina Meriahta Br Kemit (2021), dalam situs kkn.undiksha.ac.id, Pantun termasuk dalam karya sastra lama.

Pantun tersusun dalam beberapa bait, di mana setiap bait terdiri dari empat larik dan memuat bagian sampiran serta bagian isi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pantun pada umumnya terdiri atas satu bait atau kuplet berisi empat baris dengan pola rima berselang, yaitu a-b-a-b.

Fungsi Sajak Pantun

Ilustrasi Sajak Pantun Adalah, Foto: Unsplash/Arun Anoop

Sajak pantun adalah keselarasan atau kemiripan bunyi yang muncul dalam susunan katanya. Kesamaan bunyi tersebut dapat ditemukan pada bagian awal, tengah, ataupun akhir kata di setiap baris pantun.

Fungsi sajak pada pantun (umumnya rima a-b-a-b) adalah sebagai unsur estetika untuk menciptakan keindahan bunyi (ritme) saat dilantunkan, mempermudah pengingatan (memorabilitas), serta mempertegas kaitan antara sampiran dan isi.

Ciri-Ciri Sajak Pantun dan Contohnya

Ilustrasi Sajak Pantun Adalah, Foto: Unsplash/godwin leones

Ciri-ciri sajak pantun yaitu terdapat bentuk monolog atau baris-baris ungkapan tunggal. Karakteristik ini hadir karena pantun tidak disusun sebagai rangkaian kejadian, sehingga tidak memuat alur cerita maupun struktur plot.

Selain itu, sajak pantun juga memakai bahasa yang bersifat konotatif, yaitu pilihan kata yang menyiratkan makna dan menghadirkan nuansa emosional dalam setiap kalimatnya.

Selain itu, pantun biasanya disusun dalam bait-bait yang terikat oleh pola rima tertentu sehingga menciptakan irama yang khas ketika dibacakan. Keteraturan bunyi ini menjadi daya tarik utama karena memberi kesan musikal dan mudah diingat.

Contoh sajak pantun yaitu:

“Kalau ada sumur di ladang, Boleh kita menumpang mandi.”

“Kalau ada umurku panjang, Bolehlah kita berjumpa lagi.”

Dikutip dari Analisis Ciri-Ciri, Makna dan Fungsi Pantun Masyarakat Kaur Provinsi Bengkulu Relevansinya dengan Pembelajaran Pantun di SD, oleh Dedi Apriansah, dkk., (2023), dalam situs ejournal.unib.ac.id, untuk ciri pantun sendiri yaitu:

  1. Terdiri 4 baris.

  2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran.

  3. Baris 4 merupakan isi.

  4. Bersajak a-b-a-b.

  5. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.

Struktur pantun umumnya terbagi menjadi bagian pembuka dan bagian isi, di mana bagian awal berfungsi sebagai pengantar, sedangkan bagian akhir memuat pesan atau makna yang ingin disampaikan.

Di samping keindahan bentuknya, pantun juga sarat dengan nilai budaya. Ia kerap digunakan sebagai media untuk menyampaikan nasihat, sindiran halus, ungkapan perasaan, hingga hiburan dalam berbagai situasi sosial.

Itulah penjelasan sajak pantun. Melalui pilihan kata yang sederhana, tetapi penuh kiasan, pantun mampu menghadirkan pesan mendalam tanpa harus disampaikan secara langsung. (IF)

Baca juga: 80 Pantun Nasehat yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati