Konten dari Pengguna

Loneliness Epidemic dan Perasaan Sepi yang Semakin Dekat dengan Generasi Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Salsabilla Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto : Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Shutterstock

Menurut saya, perasaan kesepian memang benar adanya dan mungkin lebih banyak dirasakan orang daripada yang terlihat dari luar. Pada akhirnya, kita memang hanya benar-benar memiliki diri kita sendiri untuk menemani perjalanan hidup ini.

Namun, seiring waktu kita terbiasa dengan kehadiran orang lain seperti keluarga, teman, sahabat, atau pasangan. Kita tertawa bersama mereka, berbagi cerita, dan menjadikan mereka bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena terbiasa memiliki seseorang di sisi kita, kehilangan mereka terasa seperti kehilangan sebagian dari kehidupan itu sendiri.

Ketika seseorang pergi, menjauh, atau tidak lagi hadir dalam hidup kita, rasa kehilangan itu sering kali meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Menurut saya, bukan karena kita tidak mampu hidup sendiri, tetapi karena kita pernah mengetahui bagaimana rasanya memiliki seseorang untuk berbagi cerita, meminta bantuan, atau sekadar menemani hari-hari biasa.

Kesepian bukan selalu tentang sendirian, tetapi tentang tidak lagi memiliki seseorang yang dulu selalu ada.

Foto : Shutterstock

Saya sendiri merupakan seseorang yang tidak terlalu menyukai perasaan kesepian. Ada kalanya rasa itu menghadirkan kehampaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Terkadang hari tetap berjalan seperti biasa, tetapi ada bagian dari diri yang terasa kosong. Aktivitas masih dilakukan, pekerjaan tetap berjalan, tetapi rasanya berbeda dibandingkan sebelumnya.

Menurut saya, perasaan seperti ini bisa dialami siapa saja dan tidak selalu berarti seseorang itu lemah.

Kadang yang paling melelahkan bukanlah kesendirian, tetapi perasaan hampa yang datang bersamanya.

Meski begitu, saya menyadari bahwa terus terjebak dalam kesepian juga bukanlah solusi. Saya perlu bergerak, mencari aktivitas baru, bertemu orang baru, atau kembali melakukan hal-hal yang membuat hidup terasa berarti.

Bangkit bukan berarti melupakan orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita, melainkan belajar menjalani hidup sambil menerima bahwa beberapa hal memang telah berubah.

Terkadang, langkah kecil untuk bergerak maju jauh lebih penting daripada menunggu perasaan itu hilang dengan sendirinya.

Pada akhirnya, kesepian mungkin akan menjadi bagian dari kehidupan setiap orang dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun, kesepian tidak harus menjadi tempat tinggal kita selamanya.

Masih ada hal-hal baru yang bisa ditemukan, orang-orang baru yang bisa ditemui, dan alasan-alasan baru untuk kembali menikmati hidup. Karena meskipun kita sering merasa sendirian, bukan berarti kita harus menghadapi semuanya sendirian.