Membedah Standar Kecantikan dalam Novel Cantik Itu Luka

Saya mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tertarik pada kajian sastra , pendidikan dan budaya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sarah Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membedah standar kecantikan yang sering kali diagungkan sebagai aset sosial yang menjanjikan kemudahan hidup.

Novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan mendobrak pandangan tersebut secara tajam. Lewat kisah berbalut realisme magis, keindahan fisik yang dimiliki Dewi Ayu dan anak-anaknya justru hadir sebagai kutukan yang tak berkesudahan. Di kota Halimunda, paras menawan tidak memberikan perlindungan, melainkan memangkas kemanusiaan para perempuan hingga sebatas objek pemuas hasrat patriarki. Di tengah sejarah Indonesia yang penuh gejolak dari era kolonial, pendudukan Jepang, hingga masa pascakemerdekaan wajah cantik justru menjadi pintu masuk menuju eksploitasi dan perampasan hak atas tubuh sendiri.
Lebih jauh lagi, kecantikan dalam novel ini menjadi cermin traumatis dari kekerasan sosial dan politik yang melingkupinya. Pengalaman Dewi Ayu yang dipaksa menjadi pelacur di rumah plesiran Mama Kalabua memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan ditumbalkan demi melayani kekuasaan. Dari situlah lahir kesadaran pahit dalam diri Dewi Ayu bahwa
“kecantikan adalah kutukan... dan ia tak ingin anak-anaknya menanggung kutukan yang sama.”
Standar estetika bentukan pandangan patriarkal dan kolonial ini terbukti merusak. Semakin menawan seorang perempuan, semakin berat beban sosial serta ancaman kekerasan yang harus ditanggungnya. Kecantikan pun kehilangan makna indahnya dan berubah menjadi simbol luka bersama yang terus diwariskan antar-generasi.
Puncak dari kritik sosial ini terlihat jelas pada kelahiran anak bungsu Dewi Ayu, ia berdoa memohon semoga anaknya terlahir seburuk rupa mungkin agar tidak ada lelaki di dunia ini tak ada yang selera mengganggunya. Dipicu trauma mendalam, permohonan itu terkabul ketika
“bayi itu begitu buruk rupa sehingga tak seorang pun percaya bahwa ia adalah anak Dewi Ayu... Dewi Ayu memberi bayi itu nama yang sangat indah... Cantik.”
Kehadiran tokoh Cantik menjadi satire sekaligus perlawanan paling radikal terhadap standar kecantikan konvensional. Pada akhirnya, novel ini mengingatkan kita bahwa kecantikan bukan sekadar soal rupa, melainkan konstruksi sosial yang rawan ditunggangi penindasan. Dalam masyarakat yang sarat kekerasan, kecantikan yang dikejar-kejar itu sering kali hanyalah nama lain dari penderitaan yang berkepanjangan.
