Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Asal-usul Nama Jalan di Jakarta dengan Beragam Maknanya
3 April 2025 20:54 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Jakarta memiliki beragam daerah menarik yang bisa dikunjungi. Nama jalan di Jakarta juga memiliki sejarah panjang. Untuk itu, ketahuilah asal-usul nama jalan di Jakarta dengan beragam maknanya yang mendalam.
ADVERTISEMENT
Mengutip dari situs web p2k.stekom.ac.id, nama jalan merupakan suatu nama yang diberikan untuk mengidentifikasi suatu jalan, agar mudah dikenali dan dicantumkan dalam peta jalan.
Dalam penulisan alamat surat, nama jalan ini adalah identifikasi informasi yang penting. Tak hanya itu, pada kartu tanda penduduk, kartu identifikasi lainnya, ataupun untuk keperluan lainnya nama jalan juga penting.
Asal-usul Nama Jalan di Jakarta
Nama jalan seringkali memiliki maknanya tersendiri. Mengutip laman p2k.stekom.ac.id, berikut adalah asal-usul nama jalan di Jakarta dengan beragam maknanya:
1. Jalan Haji Benyamin Sueb
Nama jalan yang pertama ini ada Jalan Haji Benyamin Sueb. Nama jalan ini diambil dari nama seorang seniman asli Jakarta yaitu Benyamin Sueb.
Jalan Haji Benyamin Sueb adalah salah satu jalan utama di Jakarta. Jalan ini memiliki panjang 3,9 km, membentang dari pintu keluar Kemayoran di Jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta, terletak di Pademangan Timur, Pademangan, Jakarta Utara.
ADVERTISEMENT
Jalan ini membentang hingga ke persimpangan Jalan Kemayoran Gempol (Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat).
Jalan ini melewati sejumlah kelurahan, termasuk Pademangan Timur di Pademangan, Jakarta Utara, serta Gunung Sahari Selatan dan Kebon Kosong di Kemayoran, Jakarta Pusat.
Di jalan ini terdapat arena Pekan Raya Jakarta dan Wisma Atlet Kemayoran. Jalan ini kerap digunakan untuk balap liar, sehingga diadakan Street Race sebagai upaya mengurangi aktivitas balapan ilegal.
2. Jalan Balap Sepeda
Selanjutnya ada Jalan Balap Sepeda. Gedung Jakarta International Velodrome yang menjadi asal usul nama Jalan Balap Sepeda.
Jalan Balap Sepeda adalah jalan utama di Jakarta. Jalan dinamakan Balap Sepeda, karena jalan ini terletak di sebelah Jakarta International Velodrome.
Jalan ini berfungsi sebagai penghubung antara Rawamangun dan Pulomas. Dengan panjang sekitar 500 meter, jalan ini membentang dari perempatan Jalan Pemuda hingga perempatan Jalan Kayu Putih.
ADVERTISEMENT
Jalan Balap Sepeda juga menjadi salah satu jalan penghubung Jalan Pemuda menuju Kelapa Gading. Jalan ini berada di Jakarta Timur. Jalan Balap Sepeda ini melintasi kelurahan Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Jalan Balap Sepeda menjadi kawasan bebas kendaraan hari Minggu untuk wilayah Kota Jakarta Timur. Di jalan ini terdapat kali kecil yang membelah Jalan Balap Sepeda dan Jalan Kayu Putih Raya.
3. Jalan Mampang Prapatan
Jalan Mampang Prapatan juga termasuk nama jalan di Jakarta. Nama jalan ini diambil dari nama daerah yang dilalui jalan tersebut.
Jalan Mampang Prapatan adalah nama salah satu jalan utama Jakarta yang menghubungkan daerah bisnis Kuningan dengan daerah Duren Tiga dan Warung Buncit.
Jalan ini membentang sejauh 2,1 kilometer, mulai dari perempatan Jalan Kapten Tendean hingga perempatan Jalan Duren Bangka.
ADVERTISEMENT
Mampang Prapatan, yang juga digunakan sebagai nama kelurahan dan kecamatan di Jakarta Selatan, diperkirakan berasal dari dua kata, yaitu "mampang," yang berarti terpampang atau terlihat jelas, serta "prapatan," yang merujuk pada perempatan jalan.
Di kawasan Land Mampang, sejak lama dikenal dengan Prapatan Mampang, yaitu sebuah persimpangan jalan yang menghubungkan Tanah Abang dengan Duren Tiga/Pejaten serta Pancoran dengan Slipi.
Dalam peta tahun 1938, jalan yang menghubungkan Mampang Prapatan ke Menteng yang kini dikenal sebagai Jalan Rasuna Said (Kuningan) dan membentang tegak lurus ke utara belum dibangun.
Jalan yang sudah ada adalah dari Prapatan Mampang ke arah barat laut menuju Tanahabang melalui Dukuh.
Seiring perkembangannya, jalan yang menghubungkan Mampang Prapatan ke arah Duren Tiga dikenal sebagai Jalan Mampang Prapatan. Sementara itu, kelanjutan jalan tersebut disebut Jalan Warung Buncit, juga dikenal sebagai Jalan Warung Rawajati Barat.
ADVERTISEMENT
Demikianlah asal-usul nama jalan di Jakarta dengan beragam maknanya yang mendalam. (IF)