Konten dari Pengguna

Corak Kerajaan Majapahit dalam Sejarah Peradaban Nusantara

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi corak kerajaan majapahit, sumber foto: Petra M. Greening by pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi corak kerajaan majapahit, sumber foto: Petra M. Greening by pexels.com

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu terakhir dan terbesar di Pulau Jawa, bahkan sangat penting dalam sejarah peradaban Nusantara. Corak Kerajaan Majapahit adalah Hindu-Buddha yang meninggalkan banyak bangunan suci untuk kepentingan agama.

Raden Wijaya merupakan pendiri Kerajaan Majapahit pada tahun 1293, yang terletak di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Sekitar tahun 1520-an, Majapahit terkenal sebagai kerajaan maritim yang sangat masyhur.

Dikutip dari buku Pasti Bisa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD/MI Kelas IV karya Tim Tunas Karya Guru, berikut corak dari Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan terbesar di Pulau Jawa.

Corak Kerajaan Majapahit

Ilustrasi corak kerajaan majapahit, sumber foto: Julia Volk by pexels.com

Corak Kerajaan Majapahit adalah Hindu-Buddha, yang juga berdampingan dengan masyarakat beragama Islam. Mengingat agama Islam banyak dipeluk dan berkembang di wilayah Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit memiliki dua agama resmi yang sudah ditetapkan, yaitu Buddha dan Siwa. Corak agama kerajaan Majapahit ini ada dalam Prasasti Waringinpitu yang dikeluarkan tahun 1447 oleh Raja Kertawijaya.

Prasasti Waringinpitu menyebutkan nama-nama pejabat birokrasi Kerajaan Majapahit pusat seperti Dharmmadhyaksa ring kasaiwan atau pejabat agama Siwa. Ada lagi Dharmmadhyaksa ring kasogatan atau pejabat agama Buddha.

Pada dasarnya, Kerajaan Majapahit memiliki kekuasaan yang sangat luas, sehingga kepercayaannya menjadi beragam. Ada yang memeluk Hindu, Buddha, Siwa-Buddha, dan ada juga yang memeluk kepercayaan animisme atau kejawen.

Ajaran Siwa-Buddha adalah sinkretisme dari agama Buddha dan Hindu Nusantara yang sudah dikenal sejak era Mataram Kuno. Ada banyak bukti-bukti kuat yang menunjukkan toleransi dalam Kerajaan Majapahit.

Salah satu bukti toleransi agama tersebut adalah Prabu Hayam Wuruk. Dimana ia menganut Hindu Siwassidharta dan hidup berdampingan dengan ibunya, Tribhuana Tunggadewi yang menganut Buddha.

Sayangnya peran agama Buddha semakin menghilang ketika Majapahit berada di akhir kejayaan. Tetapi toleransi dengan umat beragama lainnya, termasuk agama Islam masih kuat di Kerajaan Majapahit.

Pemerintah Kerajaan Majapahit kemudian menciptakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrua. Semboyan dari Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular ini bertujuan untuk menciptakan kerukunan beragama antara rakyat kerajaan.

Corak Kerajaan Majapahit yang sebenarnya adalah Hindu-Buddha, tetapi ada banyak kepercayaan lain yang dianut oleh masyarakat kerajaan. Meski begitu, toleransi antar umat beragama sangat kuat dalam lingkungan kerajaan. (DSI)