Mitos Gunung Tilu Pangalengan yang Belum Banyak Diketahui

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mitos Gunung Tilu Pangalengan menjadi bagian penting dalam narasi budaya dan kepercayaan masyarakat sekitar Bandung Selatan.
Kawasan ini bukan hanya dikenal sebagai cagar alam, tetapi juga lekat dengan cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun.
Cerita-cerita tersebut hidup berdampingan dengan kehidupan warga, terutama di daerah seperti Kampung Cikondang yang masih menjaga adat leluhur dengan teguh.
Mitos Gunung Tilu Pangalengan
Mitos Gunung Tilu Pangalengan menyimpan beragam kisah yang mengaitkan manusia dengan alam gaib dan kekuatan tak kasat mata.
Dikutip dari laman bbksdajabar.ksdae.menlhk.go.id, Gunung Tilu Pangalengan adalah kawasan pegunungan yang terbentang di dua kecamatan, yaitu Pasir Jambu dan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Wilayah ini memiliki tiga puncak yang membentuk siluet khas dari berbagai sudut pandang, yakni Puncak Sukmana, Puncak Gunung Tilu, dan satu puncak lain yang belum diketahui namanya.
Gunung ini berada dalam kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai cagar alam sejak 1978, dengan fungsi utama sebagai pelindung sumber mata air dan keanekaragaman hayati.
Hutan-hutan di sekitarnya masih tergolong alami, meski sebagian juga telah dibuka menjadi kebun dan permukiman. Dalam kehidupan masyarakat sekitar, kawasan ini bukan hanya bernilai ekologis, tetapi juga spiritual.
Penduduk menganggap Gunung Tilu sebagai tempat sakral yang tidak boleh dijamah sembarangan karena diyakini menjadi hunian makhluk halus penjaga alam.
Konon, Gunung Tilu kerap dijadikan lokasi mencari kekayaan secara instan dengan cara yang tak lazim.
Salah satu legenda yang paling dikenal adalah adanya Batu Naga di puncak gunung, yang dipercaya sebagai tempat tinggal makhluk gaib berbentuk naga. Batu ini dijadikan pusat ritual oleh para pencari pesugihan.
Semuanya datang membawa sesaji berupa ayam dan kambing hitam, serta benda-benda berharga untuk melakukan perjanjian dengan penghuni gaib tersebut.
Selain Batu Naga, kepercayaan lokal juga meyakini bahwa Gunung Tilu memiliki aura magis yang kuat.
Masyarakat Cikondang misalnya, menjaga area hutan yang mereka sebut sebagai hutan larangan, bagian dari kawasan Gunung Tilu, dengan cara yang sangat disiplin.
Dalam aturan adat, warga hanya diperbolehkan mengambil kayu yang jatuh ke tanah tanpa menebang pohon hidup. Keyakinan ini muncul dari anggapan bahwa di balik hutan tersebut ada kekuatan besar yang menjaga keseimbangan alam.
Sebagian besar ritual mistis yang terjadi di Gunung Tilu seringkali dikaitkan dengan keinginan cepat kaya, namun akibatnya justru berdampak buruk bagi ekosistem.
Penggunaan tumbuhan dan benda alam sebagai bagian dari upacara menyebabkan rusaknya vegetasi di sekitar Batu Naga.
Aktivitas semacam ini tidak hanya mengganggu kelestarian alam, tapi juga menggeser nilai-nilai kearifan lokal yang sebelumnya menjunjung tinggi harmoni antara manusia dan lingkungan.
Kampung Cikondang sebagai bagian dari wilayah yang dekat dengan Gunung Tilu menunjukkan bagaimana mitos dan adat dapat berjalan seiring.
Warga masih menjaga kepercayaan terhadap hutan keramat dan pantangan-pantangan adat, termasuk tidak sembarangan masuk atau mengeksploitasi kawasan hutan.
Dengan pemahaman ini, keberadaan mitos justru menjadi alat kontrol sosial agar kekayaan cerita dari Gunung Tilu Pangalengan ini tidak hanya menyimpan kisah magis, tetapi juga menunjukkan kedekatan antara alam dan nilai budaya setempat.
Mitos Gunung Tilu Pangalengan terus hidup sebagai bagian dari warisan lisan dan kepercayaan masyarakat yang menghargai kearifan lokal serta pentingnya kelestarian lingkungan. (Suci)
Baca Juga: Mitos Candi Cangkuang Garut yang Beredar di Masyarakat
