Sejarah Berdirinya Kabupaten Pati dan Peran Pentingnya di Jawa Tengah

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah berdirinya Kabupaten Pati merupakan salah satu kisah penting dalam perjalanan panjang terbentuknya wilayah-wilayah administratif di Jawa Tengah.
Terletak di pesisir utara, daerah ini sejak dahulu dikenal sebagai kawasan yang memiliki perpaduan kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang khas.
Dalam catatan lama, Pati sering disebut sebagai wilayah yang memiliki peranan strategis karena posisinya yang menghubungkan jalur perdagangan darat dan laut, serta menjadi pintu masuk berbagai pengaruh budaya dari luar.
Sejarah Berdirinya Kabupaten Pati
Mengutip laman kecamatangembong.patikab.go.id, sejarah berdirinya Kabupaten Pati bermula dari kisah yang terjalin di wilayah Kadipaten Paranggaruda, ketika penguasa setempat menikahkan putra tunggalnya, R. Jaseri atau Menak Jasari, dengan Dewi Ruyung Wulan, putri Adipati Carangsoko.
Meskipun pernikahan tersebut berlangsung meriah, namun tidak dilandasi cinta, sebab Dewi Ruyung Wulan dipaksa menerima pinangan.
Karena merasa tertekan, ia pun meminta diadakan pagelaran wayang kulit dengan dalang terkenal, Ki Soponyono, yang sebenarnya merupakan siasat untuk menunda sekaligus berupaya menggagalkan pernikahan.
Ki Soponyono menerima tantangan membawakan lakon yang berakhir sedih, meskipun hal itu berbeda dari tradisi pesta pernikahan. Selama pertunjukan, Dewi Ruyung Wulan hanyut dalam cerita sehingga hatinya mulai terpaut pada sang dalang.
Ketika seluruh lampu dipadamkan, ia memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri bersama Ki Soponyono dan dua adiknya. Hal ini memicu pengejaran besar-besaran oleh prajurit Paranggaruda, yang menyebar hingga ke berbagai desa.
Pelarian membawa mereka ke Dukuh Bantengan dalam keadaan lapar dan haus, sehingga terpaksa mengambil hasil kebun. Tindakan ini membuat mereka tertangkap Raden Kembangjoyo.
Namun, setelah mendengar penjelasannya, Penewu Sukmoyono memberi perlindungan, dan sebagai tanda terima kasih, dua adik Ki Soponyono dinikahkan dengan Penewu Sukmoyono dan Raden Kembangjoyo, sedangkan Dewi Ruyung Wulan direncanakan kembali ke Carangsoko.
Ketegangan meningkat ketika prajurit Paranggaruda menyerbu Majasemi, sehingga terjadi pertempuran sengit.
Sukmoyono gugur, tetapi Raden Kembangjoyo berhasil memimpin perlawanan hingga mengalahkan musuh.
Sebagai penghargaan, ia dinikahkan dengan Dewi Ruyung Wulan dan diangkat menjadi pemimpin kadipaten gabungan Paranggaruda, Carangsoko, dan Majasemi.
Selanjutnya, Kembangjoyo bersama Ki Soponyono mencari lokasi pusat pemerintahan baru. Mereka membuka Hutan Kemiri, meskipun wilayah itu dihuni binatang buas dan kekuatan gaib, yang akhirnya berhasil mereka taklukkan.
Saat pembukaan hutan, mereka bertemu Ki Sagola, penjual minuman dawet yang terbuat dari pati aren, santan, dan gula. Terinspirasi dari bahan minuman tersebut, Kembangjoyo menamai wilayah baru itu Kadipaten Pati-Pesantenan.
Pada akhirnya, di bawah kepemimpinan Kembangjoyo, wilayah ini berkembang pesat, sehingga menjadi daerah yang makmur dan tenteram, sekaligus simbol kerukunan setelah bersatunya tiga kadipaten yang dahulu saling bertikai.
Kisah ini pun menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Pati. (DANI)
Baca juga: Sejarah Perang Khaibar dalam Perjuangan Islam di Masa Nabi Muhammad
