Sejarah Nastar, Kue Klasik dengan Rasa Manis dan Lembut

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah nastar berkaitan erat dengan pengaruh budaya kuliner Eropa yang berkembang di Indonesia. Kue ini diyakini berasal dari adaptasi tart nanas yang dibawa oleh bangsa Belanda pada masa kolonial.
Seiring waktu, nastar mengalami modifikasi dengan bahan dan ukuran yang disesuaikan dengan selera masyarakat lokal.
Kini, nastar menjadi salah satu kue khas yang sering disajikan dalam perayaan dan momen spesial, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner di Indonesia.
Sejarah Nastar
Sejarah nastar merupakan kue kering yang memiliki akar dari kuliner Eropa, khususnya dari Belanda, yang diperkenalkan ke Nusantara pada masa kolonial.
Mengutip dari buku Ragam Kudapan Jawa, Murdijati-Gardjito, dkk, (2023), nama "nastar" berasal dari bahasa Belanda, yaitu "ananas" yang berarti nanas dan "taart" yang berarti tart atau pie.
Pada awalnya, tart di Eropa biasanya berisi buah-buahan seperti apel, stroberi, atau blueberry. Namun, ketika Belanda datang ke Indonesia, buah-buahan tersebut sulit ditemukan.
Sebagai gantinya, nanas yang melimpah di Nusantara digunakan sebagai isian, sehingga terciptalah nastar dengan selai nanas.
Pada masa kolonial, nastar awalnya lebih sering disajikan di kalangan bangsawan dan dalam acara-acara khusus. Kue ini dianggap sebagai makanan mewah karena bahan-bahan pembuatannya yang berkualitas, terutama mentega dan tepung terigu yang masih menjadi barang impor pada saat itu.
Seiring waktu, dengan semakin meluasnya penggunaan bahan-bahan ini di Indonesia, nastar menjadi lebih mudah dibuat dan akhirnya populer di berbagai kalangan masyarakat.
Saat ini, nastar tidak hanya populer di Indonesia tetapi juga di negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia dan Singapura. Di sana, nastar dikenal dengan berbagai nama dan sedikit variasi dalam rasa serta bentuknya.
Meski telah mengalami banyak inovasi, nastar tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai kue kering berisi selai nanas dengan tekstur lembut dan rasa manis-asam yang khas.
Nastar menjadi salah satu contoh akulturasi kuliner, di mana resep asli dari Eropa berkembang dan beradaptasi dengan bahan-bahan lokal, menciptakan identitas baru yang tetap bertahan hingga kini.
Itulah penjelasan mengenai sejarah nastar, yang merupakan kue klasik dengan rasa manis dan lembut.
Baca Juga: Sejarah Serabi, Sudah Dikenal Sejak Zaman Kerajaan Mataram
