Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Sejarah Tradisi Meugang di Aceh Jelang Ramadan
28 Februari 2025 11:57 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Tradisi Meugang di Aceh merupakan salah satu kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Aceh. Tradisi ini dilakukan menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha sebagai bentuk syukur dan penghormatan terhadap hari-hari besar Islam.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari buku Adat dan Tradisi di Aceh, Nasir, 2017:112, dijelaskan bahwa Meugang bukan hanya sekadar perayaan makan daging bersama, tetapi juga memiliki makna sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Asal-usul Tradisi Meugang di Aceh
Tradisi Meugang di Aceh memiliki akar sejarah yang panjang dan berasal dari masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada abad ke-17.
Dikutip dari buku Sejarah Aceh dalam Lintasan Waktu, Abdullah, 2019:87, disebutkan bahwa pada masa itu, sultan membagikan daging kepada rakyat sebagai simbol kesejahteraan dan kepedulian terhadap sesama.
Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang terus dijaga hingga saat ini.
Selain itu, Meugang juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk menunjukkan solidaritas sosial. Mereka yang memiliki kelebihan harta akan membeli dan membagikan daging kepada keluarga, tetangga, serta fakir miskin.
ADVERTISEMENT
Tradisi ini menegaskan nilai-nilai gotong royong yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.
Pelaksanaan dan Makna Meugang
Tradisi Meugang di Aceh biasanya dimulai dengan aktivitas berbelanja di pasar, di mana masyarakat membeli daging sapi atau kambing untuk dimasak bersama keluarga.
Dikutip dari buku Budaya Kuliner Aceh, Ibrahim, 2020:134, dijelaskan bahwa pada hari Meugang, pasar-pasar di Aceh akan dipenuhi oleh pedagang daging dan masyarakat yang ingin membeli bahan makanan untuk hidangan spesial.
Daging yang dibeli kemudian diolah menjadi berbagai masakan khas, seperti gulai, semur, dan rendang. Hidangan ini kemudian disantap bersama keluarga sebagai bentuk rasa syukur atas datangnya bulan suci Ramadan atau hari besar lainnya.
Meugang juga menjadi waktu yang dinanti-nantikan oleh anak-anak, karena mereka dapat menikmati makanan lezat yang jarang tersaji dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Peran Meugang dalam Kehidupan Sosial
Dikutip dari buku Tradisi dan Adat Istiadat Aceh, Marzuki, 2018:76, disebutkan bahwa Meugang menjadi ajang silaturahmi antara anggota keluarga dan tetangga.
Mereka yang tinggal jauh akan pulang ke kampung halaman untuk merayakan tradisi ini bersama keluarga besar.
Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan pentingnya berbagi. Keluarga yang mampu akan membeli lebih banyak daging untuk diberikan kepada yang kurang mampu, sehingga semua orang dapat merasakan kebahagiaan Meugang.
Hal ini mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dalam budaya Aceh. Tradisi Meugang di Aceh merupakan warisan budaya yang tetap lestari hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Berawal dari kebiasaan Kesultanan Aceh, Meugang berkembang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam menyambut Ramadan dan hari besar Islam lainnya.
Dengan nilai kebersamaan, solidaritas sosial, dan rasa syukur yang terkandung di dalamnya, Meugang menjadi salah satu tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Phonna)