Sejarah Wisata Bahari Lamongan, Tempat Rekreasi dengan Banyak Wahana Seru

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Wisata Bahari Lamongan mencerminkan transformasi kawasan pesisir menjadi taman hiburan modern. Berlokasi di Jawa Timur, tempat ini dikenal dengan wahana laut, nuansa edukatif, dan panorama pantainya yang khas.
Sebagai amusement and theme park populer, Wisata Bahari Lamongan (WBL) selalu menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Daya tarik ini tak terlepas dari perjalanan panjang pembangunan dan pengembangannya hingga kini.
Sejarah Wisata Bahari Lamongan
Berdasarkan jurnal Perkembangan Wisata Bahari Lamongan di Kabupaten Lamongan Tahun 2004 – 2020 karya Muhammad A.S Surya Passkawa (2023: 2-7), berikut adalah sejarah Wisata Bahari Lamongan dan fase perkembangannya:
1. Latar Belakang Pendirian WBL
Sebelum menjadi destinasi wisata modern, kawasan Wisata Bahari Lamongan adalah Pantai Tanjung Kodok, yang merupakan lokasi populer untuk perayaan tradisi Kupatan. Kawasan pantai ini dulunya hanya berkembang secara sederhana.
Namun, karena melihat potensi geografis dan ekonomi yang menjanjikan di wilayah pesisir tersebut, Pemkab Lamongan memutuskan bekerja sama dengan PT Bunga Wangsa Sejati untuk membangun kawasan wisata terpadu.
Gagasan ini muncul pada masa kepemimpinan Bupati H. Masfuk S.H., yang dikenal memiliki visi pembangunan berbasis potensi lokal. Karena itu, WBL dirancang bukan sekadar sebagai tempat rekreasi, tetapi juga simbol kemajuan Lamongan.
2. Periode Awal Pendirian WBL
Pembangunan WBL dimulai pada awal tahun 2004, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati H. Masfuk pada 8 April. Proyek senilai Rp50 miliar lebih ini saat itu ditargetkan rampung dalam sepuluh bulan hingga November.
Benar saja, WBL resmi dibuka untuk umum pada 14 November 2004, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Meski belum sepenuhnya selesai, pengunjung dapat menikmati sekitar 20 wahana utama dari total 32 wahana dan fasilitas.
Pembangunan baru 100% selesai pada Januari 2005, diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berkat adanya WBL—dan kawasan industri lainnya—, Kabupaten Lamongan ditunjuk sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus.
3. Sambutan Positif dan Kesuksesan WBL
Sejak awal dibuka, WBL langsung menarik perhatian masyarakat. Letaknya yang strategis di jalur pantura, konsep wahana terpadu, serta momen pembukaan saat libur panjang membuat jumlah pengunjung terus melonjak setiap tahun.
Dampaknya terasa nyata bagi perekonomian daerah. Dua tahun pertama, WBL menyumbang Pendapatan Asli Daerah hingga Rp4 miliar, lalu meningkat menjadi Rp10 miliar pada 2008. Usaha masyarakat sekitar pun tumbuh signifikan.
WBL tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga motor ekonomi lokal. Banyak warga membuka toko oleh-oleh, warung makan, dan usaha kecil lainnya. Kawasan ini mengubah wajah Paciran menjadi kawasan wisata unggulan.
4. Perkembangan WBL Hingga Kini
Memasuki dekade berikutnya (2011 - 2020), WBL terus dikembangkan. Salah satu inovasi penting adalah pengembangan Goa Maharani menjadi Maharani Zoo & Goa (Mazoola), yang menambah daya tarik wisata edukasi di Lamongan.
Fasilitas seperti Tanjung Kodok Beach & Resort juga tumbuh sebagai bagian dari ekosistem pariwisata pesisir. WBL tak lagi sekadar taman hiburan, melainkan destinasi lengkap: wahana, pantai, hotel, pusat kuliner, dan edukasi satwa.
Meski sempat terkendala pandemi COVID-19 pada 2020, WBL tetap mampu bertahan dan bangkit. Hingga kini, tahun 2025, Wisata Bahari Lamongan masih beroperasi dan terus menghadirkan berbagai penawaran segar bagi para pengunjung.
Itulah ulasan seputar sejarah Wisata Bahari Lamongan, mulai dari pembangunan hingga saat ini. Bagi yang tertarik mengunjungi tempat wisata tersebut, silakan simak informasi resmi di Instagram @wisatabaharilamonganpark. (Nida)
Baca Juga: Kisah Umar bin Abdul Aziz, Khalifah yang Adil dan Bijaksana
