Anak-Anak Kita dan Kekacauan Struktur Berpikir

Praktisi pendidikan anak dan keluarga, senang menulis dan berpetualang di alam.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Septi Peni Wulandani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda mengamati bagaimana anak-anak sekarang menjawab pertanyaan sederhana seperti: “Mengapa kamu memilih jawaban itu?” Sebagian besar akan terdiam, gelisah, atau menjawab dengan kalimat pendek yang tak menjelaskan apa-apa. Mereka tak salah. Mereka hanya tak tahu caranya berpikir secara runtut.
Kita hidup di zaman yang tergesa-gesa. TikTok mendidik dalam 15 detik. Reels mengajari untuk cepat puas. Kita menjadi bangsa yang cekatan membaca singkatan, tapi gagap menjelaskan alasan.
Di sekolah, mereka dijejali informasi. Tapi tak dibekali peta untuk menavigasi pikiran. Dalam rumah, mereka diminta patuh. Tapi jarang diajak menyusun pendapat. Kita bangga jika anak bisa menjawab soal, tapi lupa bertanya: "Apakah mereka mengerti apa yang mereka pikirkan?"
Di mana hilangnya struktur berpikir?
Struktur berpikir bukan sekadar kemampuan logika. Ia adalah jembatan antara fakta dan pemahaman, antara emosi dan ekspresi. Anak yang mampu menyusun pikirannya akan mampu menyusun hidupnya.
Laporan World Economic Forum (2023) menempatkan analytical thinking dan creative thinking sebagai dua keterampilan paling dibutuhkan di abad ini. Tapi Indonesia masih berada di urutan ke-62 dari 81 negara dalam Indeks Pendidikan Global 2022, terutama lemah dalam hal critical thinking dan reasoning.
Sebuah riset dari OECD dalam program PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa hanya 1 dari 10 siswa Indonesia yang mampu menyusun argumen logis dalam bentuk tulisan. Dan hanya 12% siswa yang bisa membaca secara kritis untuk menarik kesimpulan dari bacaan.
Anak-anak ini bukan tak cerdas. Mereka hanya belum diberi alat untuk merapikan pikirannya.
Di Finlandia, struktur berpikir diajarkan sejak usia dini, bahkan sebelum anak bisa menulis lengkap. Anak-anak diminta membedakan sebab dan akibat, pendapat dan fakta, kesimpulan dan argumen. Di Jepang, metode Socratic dialogue dimasukkan dalam pendidikan dasar untuk menumbuhkan logika bertahap.
Di Indonesia? Kita bangga anak bisa menjawab soal pilihan ganda. Tapi tak pernah mendengarnya berargumen mengapa ia memilih opsi itu. Sekolah mengukur benar atau salah, tapi jarang menanyakan bagaimana prosesnya.
Tanpa struktur berpikir, anak-anak akan mudah ditipu, dibenturkan, dan dijinakkan.
Anak yang berpikir terstruktur tak mudah termakan hoaks. Ia tahu bagaimana menelusuri fakta, menyaring informasi, dan menyampaikan pendapat tanpa mencaci. Anak-anak seperti itu bukan sekadar cerdas. Mereka merdeka.
Kita butuh anak-anak yang bisa menjelaskan alasan, bukan sekadar menirukan suara. Yang bisa menyusun gagasan, bukan sekadar mengutip orang lain. Yang bisa membedakan suara nurani dari keramaian sosial media.
Kita bukan bangsa bodoh. Tapi kita sering gagal menyusun pikiran.”
Saya teringat ucapan itu saat ngeteh sore dengan suami saya di halaman belakang rumah . Anak-anak saat ini mungkin kalau dikasih soal ujian bisa dijawab dengan benar, tapi tak satu pun yang tahu mengapa jawabannya benar. Di sanalah saya mulai menyadari: anak-anak kita mungkin bisa menjawab, tapi belum tentu bisa berpikir.
Di ruang-ruang kelas Indonesia hari ini, struktur berpikir adalah barang mewah. Kurikulum telah berubah—dari KTSP ke K-13, dari K-13 ke Kurikulum Merdeka, dari Kurikulum Merdeka ke Kurikulum yang katanya Nasional ( jujur saya belum banyak paham tentang kurikulum yang akan dipakai saat ini, menggantikan kurikulum merdeka) —apapun itu nama kurikulumnya namun kegemaran menjejalkan informasi tetap lestari. Anak diajari apa yang harus diketahui, tapi tidak bagaimana cara memahami.
Baca Juga : Parent's Camp: Ketika Orang Tua Merasakan Jadi Siswa di Sekolah Anaknya
Krisis Nalar Sejak Dini
Mari bicara data. Hasil PISA 2022 yang dirilis OECD menunjukkan bahwa skor literasi membaca siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Dari 81 negara, Indonesia menempati urutan ke-72 dalam kemampuan memahami bacaan dan menalar isi teks. Ini bukan hanya soal tidak suka membaca. Ini soal tidak mampu berpikir kritis dari apa yang dibaca.
Padahal, keterampilan bernalar adalah fondasi untuk semua pembelajaran. Tanpa struktur berpikir, matematika berubah jadi hafalan rumus. Ilmu pengetahuan menjadi tumpukan definisi. Bahasa Indonesia pun sekadar latihan menyusun kalimat pasif dan aktif, tanpa tahu mengapa ia digunakan.
Penelitian dari Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek tahun 2023 memperlihatkan bahwa mayoritas siswa sekolah dasar tidak mampu menyusun argumen yang logis dan tidak bisa menjelaskan alasan dari pilihan jawabannya. Bahkan dalam Asesmen Nasional pun, indikator bernalar menjadi salah satu yang paling lemah nilainya.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Tentu, bukan sepenuhnya salah anak. Kita—orangtua, guru, pembuat kebijakan—yang membentuk sistem ini. Kita lebih suka anak cepat membaca, tapi tak sabar mendengarnya menjelaskan. Kita tepuk tangan saat anak bisa menjawab “B” dalam ujian, tapi tak sempat menanyakan bagaimana ia sampai pada pilihan itu.
Sekolah-sekolah unggulan pun, dalam banyak kasus, justru membentuk budaya berpikir instan. Anak dilatih menjawab cepat, menghafal soal try out, meraih skor tinggi, tapi tidak pernah diajak berdiskusi dengan pertanyaan terbuka seperti: “Apa menurutmu?”, “Kenapa kamu berpikir begitu?”, atau “Apa yang bisa kamu simpulkan dari cerita ini?”
Menanamkan Nalar, Menumbuhkan Bangsa
Ada harapan. Di beberapa sekolah alternatif dan komunitas belajar mandiri, mulai muncul pendekatan yang mengedepankan struktur berpikir sejak dini. Di Salatiga , misalnya, ada sekolah dasar formal berbasis inquiry-based learning telah melatih anak usia 6 tahun membedakan antara fakta dan opini. Hal ini membuat sekolah menengahnya bisa melatih anak berpikir melalui problem-solving circle setiap hari. Anak-anak SMP sudah paham bagaimana menerapkan Double Loop Problem Solving, terjun ke masyarakat untuk melihat permasalahan yang ada di sana.
Namun pendekatan ini masih jadi pengecualian, bukan arus utama. Sementara itu, 80% sekolah dasar di Indonesia masih terjebak dalam metode satu arah. Guru bicara, murid mencatat. Guru bertanya, murid menjawab singkat. Tak ada ruang berpikir.
Padahal, mengajarkan struktur berpikir tidak harus menunggu anak remaja. Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, 2019) menunjukkan bahwa usia 5–9 tahun adalah masa krusial untuk menanamkan pola pikir logis dan reflektif. Di sinilah fondasi dibangun—jika tidak, anak akan tumbuh dengan kemampuan akademik yang rapuh, mudah terombang-ambing arus informasi.
Politik, Media, dan Generasi yang Tak Bertanya
Dan kita telah melihat akibatnya. Bangsa yang tidak terbiasa menyusun pikiran, akan mudah dikuasai narasi kosong. Tak heran jika ujaran kebencian, hoaks, dan propaganda politik tumbuh subur di media sosial kita—karena sebagian besar penontonnya tak terbiasa berpikir runtut.
Di sinilah urgensi pendidikan berpikir struktural bukan hanya soal akademik. Ia adalah urusan masa depan bangsa. Karena tanpa nalar, demokrasi pun akan kehilangan ruhnya. Kita akan menjadi bangsa yang ramai bicara, tapi tak sanggup mendengar argumen. Bangsa yang senang mencela, tapi tak bisa menjelaskan.
Penutup: Mengapa Ini Harus Dimulai Sekarang
Struktur berpikir adalah alat yang membebaskan. Anak yang mampu berpikir runtut akan lebih percaya diri, lebih jernih mengambil keputusan, dan lebih siap menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Mereka akan lebih tahan terhadap manipulasi, lebih terbuka pada perbedaan, dan lebih siap memimpin.
Maka mari kita mulai dari pertanyaan sederhana, bukan kepada mereka, tapi kepada diri kita:
Sudahkah kita melatih anak-anak untuk berpikir, menjadikan pemikirannya runut atau hanya untuk menurut?
