Konten dari Pengguna

Parent's Camp: Ketika Orang Tua Merasakan Jadi Siswa di Sekolah Anaknya

Septi Peni Wulandani

Septi Peni Wulandani

Praktisi pendidikan anak dan keluarga, senang menulis dan berpetualang di alam.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Septi Peni Wulandani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana parent's camp School of Life lebah Putih dan Sekolah Menengah Arunika ( sumber : Dok. Lebah Putih)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana parent's camp School of Life lebah Putih dan Sekolah Menengah Arunika ( sumber : Dok. Lebah Putih)

Pernahkah kita bertanya—untuk siapa sebenarnya sekolah didirikan? Untuk anak-anak, jawab banyak orang tanpa ragu. Tapi bagaimana kalau jawabannya tak sesederhana itu? Bagaimana jika sekolah justru lebih dulu perlu “mendidik” orang tua—mereka yang datang dengan warisan pola asuh lama, kadang tak utuh, sering luka, dan hampir selalu meyakini “sekolah lebih tahu cara mendidik anak”?

Awal Juli lalu, di lereng Gunung Merbabu, Salatiga yang sejuk, School of Life Lebah Putih dan Sekolah Menengah Arunika menggelar sebuah peristiwa yang jarang terdengar di republik ini: Masa Orientasi Sekolah bukan untuk murid, melainkan untuk orang tua.

Orangtua mengikuti kegiatan outbound untuk membangun bonding diantara mereka ( sumber : dok. Lebah putih)

Namanya Parent’s Camp Kumpul Bocah. Kegiatan dua hari ini seakan cuma rekreasi keluarga. Tapi jika Anda hadir, Anda akan mafhum: inilah ruang terapi kolektif, tempat 43 orang tua duduk bersila, bermain engklek, meniup balon, lalu menangis pelan saat dihadapkan pada pertanyaan yang tak pernah benar-benar mereka jawab:

Apakah Anda sudah berdamai dengan masa kecil Anda sendiri sebelum mendidik anak Anda?

Pertanyaan itu bukan retorik. Data yang mereka bawa cukup membuat kening berkerut. Dari survei internal School of Life Lebah Putih, 80% orang tua mengaku gelisah dan tak siap terlibat aktif dalam proses belajar anak. Mereka datang dengan prasangka bahwa sekolah akan mengambil alih semua tanggung jawab mendidik.

Baca Juga : Ketahanan Keluarga Yang Retak di Meja Makan

Padahal riset Harvard Family Research Project (2017) sudah membunyikan alarm: Kolaborasi keluarga dan sekolah meningkatkan peluang keberhasilan akademis dan sosial-emosional anak sebesar 86%. Sebaliknya, Indonesia Family Life Survei (2022) mencatat, 73% orang tua di Indonesia tak percaya diri mendampingi belajar anak karena pola asuh masa lalu yang otoriter atau abai.

Jadi siapa sebenarnya yang butuh orientasi? Anak-anak yang baru belajar membaca, atau orang tua yang belum selesai dengan trauma masa kecilnya?

Di Parent’s Camp, pertanyaan itu tak disimpan dalam buku saku. Ia dibentangkan di depan semua peserta. Hari pertama dimulai dengan permainan kelereng, dakon, lompat tali, membuat layangan. Sepintas seperti nostalgia. Namun di balik tawa canggung, ada kesadaran yang muncul perlahan: Betapa sulitnya orang dewasa mengizinkan diri sendiri bersenang-senang tanpa beban.

Seorang ayah bernama Wahyu berbisik, “Awalnya malu. Tapi ketika main kelereng, rasanya seperti pulang ke kampung.” Mungkin kita semua begitu: anak-anak yang tumbuh dewasa terlalu cepat, lalu lupa rasanya bermain.

Suasana saat para orangtua berefleksi dengan masa kecilnya (sumber: dok pribadi)

Selepas permainan, ruangan menjadi sunyi. Para peserta menerima setumpuk kartu refleksi. Pertanyaan-pertanyaan itu tak berbasa-basi:

Apa pengalaman masa kecil yang paling Anda sesali?

Bagaimana orang tua Anda memperlakukan Anda ketika gagal?

Pola apa yang tanpa sadar ingin Anda wariskan pada anak?

Tak sedikit yang menunduk lama, mengusap pipi basah. Sesi ini lebih mirip ruang pengakuan dosa ketimbang orientasi sekolah. Tapi barangkali di situlah letak keberanian yang paling jarang kita miliki: mengakui bahwa cinta kita pada anak sering tercampur trauma yang belum sembuh.

Malamnya, diskusi semakin hangat. Septi Peni Wulandani, pendiri School of Life Lebah Putih, berdiri di lingkaran. Sambil tersenyum, ia melontarkan kalimat yang separuh candaan, separuh teguran:

“Kalau sudah masuk di Lebah Putih dan Arunika, siap-siap anak kita jadi banyak. Karena anakku ya anakmu, anakmu ya anakku.”

Ucapan itu terdengar indah, tapi juga menyinggung satu fakta yang sering luput: Pendidikan adalah kerja kolaborasi. Bukan kontrak sekali bayar. Bukan transaksi antara wali murid dan institusi.

Diskusi hangat dengan founder School of Life Lebah Putih Septi Peni dan Dodik Mariyanto ( Sumber : Dok. Pribadi)

Pertanyaannya: berapa banyak sekolah di negeri ini yang benar-benar percaya kalimat itu? Berapa banyak yang berani mengundang orang tua pulang dulu ke luka masa kecilnya, sebelum sibuk menuntut anak menjadi juara kelas?

Faktanya, American Psychological Association sudah menyebut: Konflik pola asuh di rumah berkontribusi pada penurunan 42% kesejahteraan emosional anak. Namun, sebagian besar sekolah tetap berpikir tugas mereka hanya berhenti di rapor dan kurikulum.

Joyce Epstein, pakar keterlibatan orang tua, menegaskan: Keterlibatan keluarga adalah prediktor paling kuat keberhasilan anak, bahkan lebih kuat daripada status ekonomi atau fasilitas sekolah.

Lalu kita bertanya lagi—mengapa lebih banyak sekolah memilih seremonial orientasi yang kosong, alih-alih menciptakan ruang refleksi yang sesungguhnya dibutuhkan orang tua? Apakah kita takut bercermin pada masa lalu sendiri?

Baca juga : Kesetaraan Gender yang Menculik Masa Depan Anak-Anak Kita

Parent’s Camp mungkin hanya langkah kecil di satu sudut Semarang. Tapi ia memprovokasi pertanyaan-pertanyaan penting:

Apakah kita benar-benar siap hadir sebagai orang tua, bukan hanya sebagai penonton?

Beranikah kita pulang dulu pada diri sendiri sebelum mendampingi anak belajar?

Dan benarkah kita sudah paham, sekolah itu bukan pengganti keluarga—melainkan perpanjangan tangannya?

Mungkin jawabannya belum kita temukan. Tapi setidaknya, di Lebah Putih dan Arunika, keberanian itu sudah mulai dicoba.

Dan barangkali di situlah revolusi pendidikan paling jujur lahir—bukan di ruang rapat pejabat, melainkan di tikar rotan, di antara tawa dan tangis orang dewasa yang akhirnya berani menjadi anak kecil lagi.