Inklusi dalam Al-Qur’an untuk Pendidikan Adil

Saya Yusuf Setyaji, saya pendidik muda asal Sragen dan guru Tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini fokus pada pendidikan Islam, karakter, dan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan modern
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yusuf Fathyr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan inklusif Sistem pembelajaran yang mengakomodasi keberagaman peserta didik tanpa membedakan latar belakang mereka sejatinya telah memiliki fondasi kuat dalam kitab suci umat Islam sejak berabad-abad silam. Pada masa kini, wacana mengenai aksesibilitas pendidikan bagi semua kalangan menjadi topik yang kerap diperbincangkan. Namun, esensi dari gagasan tersebut sebenarnya telah termaktub dalam ajaran agama Islam melalui berbagai ayat dan kisah inspiratif. Mari kita lihat bagaimana ajaran Al-Quran bisa menjadi solusi pendidikan yang adil untuk generasi milenial.
Regulasi Pemerintah Republik Indonesia
Negara telah menunjukkan komitmennya dalam memastikan hak pendidikan bagi seluruh warga negara melalui beberapa kebijakan strategis, antara lain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang mengatur tentang hak-hak penyandang disabilitas, Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 mengenai penyediaan fasilitas yang sesuai kebutuhan, serta regulasi Kementerian Pendidikan yang mengatur implementasi sistem pembelajaran yang menghargai keberagaman.
Ajaran Tauhid sebagai Dasar Kesetaraan
1. Kesetaraan Manusia
Surah Al-Hujurat ayat 13 menyampaikan pesan fundamental bahwa penciptaan manusia dari pasangan manusia pertama kemudian berkembang menjadi berbagai komunitas dan kelompok etnis memiliki tujuan mulia: membangun hubungan saling mengenal dan memahami. Ulama besar seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa variasi dalam suku bangsa, warna kulit, maupun kondisi fisik seseorang bukanlah parameter untuk menilai kualitas seseorang. Nilai sejati manusia terletak pada kualitas spiritualnya.
Konsekuensi bagi dunia pendidikan sangat jelas: diskriminasi berdasarkan asal-usul, kemampuan ekonomi, atau kondisi jasmani tidak memiliki justifikasi. Setiap individu berhak memperoleh akses pembelajaran yang berkualitas.
2. Perbedaan sebagai Rahmat
Dalam Surah Ar-Rum ayat 22, Allah menyebutkan bahwa variasi bahasa dan penampilan fisik manusia merupakan manifestasi dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa meskipun seluruh umat manusia berasal dari nenek moyang yang sama, namun terdapat keunikan pada setiap individu dan kelompok. Fenomena ini menunjukkan kemahakuasaan Sang Pencipta dan menjadi bahan refleksi bagi mereka yang menggunakan akal pikiran.
Dalam konteks pembelajaran: Kehadiran peserta didik dengan berbagai karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan spesifik dalam satu ruang belajar merupakan cerminan keagungan ciptaan-Nya yang patut disyukuri, bukan hambatan yang harus dihindari.
3. Kisah Nyata: Abdullah bin Ummi Maktum
Surah 'Abasa ayat 1-2 mengisahkan peristiwa ketika seorang sahabat yang memiliki keterbatasan penglihatan mendatangi Nabi Muhammad ﷺ untuk menanyakan ajaran Islam. Saat itu, Rasulullah sedang berdialog dengan tokoh-tokoh terkemuka Quraisy dengan harapan mereka tertarik masuk Islam. Kedatangan sahabat tersebut sempat membuat ekspresi Nabi berubah, dan Allah segera memberikan teguran melalui wahyu ini.
Ibnu Katsir merinci bahwa sahabat bernama Abdullah bin Ummi Maktum tersebut adalah salah satu penganut Islam yang terdahulu. Ia datang dengan antusias untuk belajar agama. Peristiwa ini menjadi pembelajaran berharga bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memperlakukan semua orang secara setara dalam menyebarkan ilmu pengetahuan—tidak membedakan antara orang terpandang dengan rakyat biasa, yang mampu dengan yang kurang mampu, yang sempurna fisiknya dengan yang memiliki keterbatasan.
Hikmah bagi pendidik: Peserta didik dengan kebutuhan pembelajaran khusus memiliki hak yang sama, bahkan mungkin memerlukan perhatian lebih dari pengajar. Keberadaan mereka harus disambut dengan tangan terbuka dan diberikan peluang untuk terlibat sepenuhnya dalam proses belajar mengajar.
Empat Pilar Pembelajaran yang Adil dalam Pendidikan Inklusif (PAPA)
Berdasarkan nilai-nilai Al-Quran, pendidikan inklusif menerapkan prinsip PAPA:
• Present (Kehadiran): Kehadiran anak berkebutuhan khusus harus selalu dinanti dan diterima
• Accepted (Diterima): Mereka harus diterima tanpa diskriminasi
• Participate (Berpartisipasi): Mereka berhak berpartisipasi aktif dalam pembelajaran
• Achieve (Berprestasi): Mereka mampu berprestasi sesuai potensi mereka
Solusi Praktis untuk Generasi Milenial
1. Kesadaran (Tazkiyah)
Edukasi masyarakat bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan layak. Gunakan media sosial untuk kampanye pendidikan inklusif. Pahami bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki potensi luar biasa
2. Kolaborasi (Ta'awun)
QS. Al-Maidah (5): 2: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan."
Sekolah, pemerintah, orang tua, dan mahasiswa bekerja sama. Libatkan guru pendamping khusus dan bangun komunikasi yang baik dengan semua pihak.
3. Identifikasi dan Asesmen
Guru perlu melakukan asesmen awal untuk memahami karakteristik dan kebutuhan khusus setiap siswa. Ini termasuk anak dengan kesulitan belajar spesifik seperti disleksia, disgrafia, atau diskalkulia.
4. Inovasi Teknologi
Manfaatkan aplikasi pembelajaran, video dengan subtitle, audio book, dan platform online. Akses literasi gratis di laman perbukuan.kemdikbud.go.id untuk berbagai tingkatan kemampuan membaca.
5. Pelatihan Guru Berkelanjutan
Guru perlu terus belajar metode pengajaran inklusif. Rasulullah bersabda: "Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim." Ikuti pelatihan dari Kemendikbudristek dan PMM untuk meningkatkan kompetensi.
Sistem Pendidikan: Dari Segregasi ke Inklusif
Segregasi: Anak berkebutuhan khusus hanya di SLB, terpisah dari anak normal Integrasi: Anak berkebutuhan khusus masuk sekolah regular, tapi belum ada fasilitas memadai Inklusif: Semua anak belajar bersama dengan fasilitas dan SDM yang memadai untuk semua kebutuhan
Peran Generasi Milenial
Sebagai siswa: Jadilah teman yang baik tanpa memandang perbedaan. Jangan membully, tapi rangkul dan bantu teman berkebutuhan khusus.
Sebagai calon guru: Pelajari metode inklusif, lakukan pendekatan personal, berikan diferensiasi pembelajaran berdasarkan kemampuan awal siswa, dan bersikap sabar serta adil.
Sebagai content creator: Kampanyekan kesetaraan dalam pendidikan melalui konten edukatif.
Kesimpulan
Kitab suci Al-Quran telah meletakkan fondasi kokoh mengenai prinsip kesetaraan dalam pendidikan melalui ajaran tentang kesamaan derajat manusia, apresiasi terhadap keberagaman, dan penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi. Generasi masa kini memiliki peluang emas untuk mengaktualisasikan nilai-nilai luhur tersebut dengan memanfaatkan teknologi dan keterbukaan pemikiran.
Surah Ar-Ra'd ayat 11 mengingatkan bahwa perubahan kondisi suatu masyarakat dimulai dari perubahan yang dilakukan oleh individu-individu di dalamnya.
Mari menjadi pendidik yang berkomitmen untuk terus belajar, memahami keunikan setiap peserta didik, dan membimbing mereka hingga menjadi pribadi yang berkontribusi positif bagi masyarakat. Perubahan dimulai dari diri kita sendiri untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkeadilan bagi semua!
________________________________________
Penulis: Yusuf Setyaji
Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syeikh Nurjati Cirebon
