Pendidikan yang Kehilangan Jiwa

Saya Yusuf Setyaji, saya pendidik muda asal Sragen dan guru Tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini fokus pada pendidikan Islam, karakter, dan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan modern
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Yusuf Fathyr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah krisis karakter dan kebingungan arah pendidikan modern (Baca juga: Pendidikan Moder) , kita kerap lupa bahwa jawaban atas persoalan itu mungkin sudah lama ditulis di lembar-lembar sejarah. Bayangkan sebuah perpustakaan kuno di tengah gurun, tempat tersimpannya naskah-naskah penuh kebijaksanaan tentang bagaimana mendidik manusia secara utuh bukan sekadar mengisi pikiran, tetapi juga menumbuhkan jiwa. Di antara warisan itu, pemikiran dua tokoh besar, Imam Burhanuddin Al-Zarnuji dan Imam Badruddin Ibnu Jama’ah, kembali relevan untuk kita renungkan hari ini Di tengah krisis nilai dan arah pendidikan modern, pemikiran klasik para ulama ini memberi napas baru bagi pendidikan yang lebih manusiawi dan berakar pada kebijaksanaan.
Menemukan Kembali Esensi Pendidikan: Ketika Kebijaksanaan Klasik Menjawab Krisis Modern
Bayangkan sebuah perpustakaan kuno di tengah gurun pasir, dimana gulungan-gulungan manuskrip berusia ratusan tahun tersimpan rapi. Di dalamnya terkandung rahasia tentang bagaimana mendidik manusia seutuhnya bukan sekadar mengisi kepala dengan data, tetapi membentuk jiwa yang berkarakter. Inilah warisan berharga yang ditinggalkan oleh dua maestro pendidikan Islam: Imam Burhanuddin Al-Zarnuji dan Imam Badruddin Ibnu Jama'ah.
Keduanya hidup di era ketika peradaban Islam bersinar cemerlang, namun karya mereka justru terasa sangat kontemporer ketika kita membacanya hari ini. Bukankah ironis? Di tengah kemajuan teknologi pendidikan yang pesat, kita justru mengalami krisis karakter yang mendalam. Perkelahian pelajar, kecurangan akademik, bahkan kasus-kasus ekstrem seperti pembunuhan antar siswa seolah menjadi pengingat pahit bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan kita.
Ketika Ilmu Kehilangan Ruhnya
Al-Zarnuji menulis Ta'limul Muta'allim karena kegelisahan yang sama: banyak pelajar di zamannya yang tekun belajar, namun ilmu mereka hampa makna. Mereka seperti perpustakaan berjalan yang penuh dengan buku, tetapi tidak memiliki hikmat untuk membacanya. Fenomena ini seperti cerminan sempurna dari kondisi kita saat ini banyak lulusan berprestasi akademis tinggi, tetapi miskin integritas dan empati.
Yang membuat pemikiran Al-Zarnuji begitu revolusioner adalah penekanannya pada "niat" sebagai fondasi pembelajaran. Ini bukan sekadar ritual ucapan di awal kelas, melainkan kompas spiritual yang mengarahkan seluruh perjalanan intelektual seseorang. Dalam bahasa modern, kita menyebutnya "mindfulness" atau kesadaran penuh. Tanpa niat yang jernih, ilmu menjadi seperti pedang di tangan orang yang tidak bertanggung jawab berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain.
Seni Memilih dalam Era Informasi yang Membanjiri
Salah satu nasihat paling brilian dari Al-Zarnuji adalah tentang selektivitas: memilih ilmu yang tepat, guru yang bijak, dan teman yang mendukung pertumbuhan. Di era dimana kita dibanjiri informasi dari media sosial, YouTube, dan berbagai platform digital, kebijaksanaan ini terasa sangat relevan. Kita tidak kekurangan informasi kita tenggelam di dalamnya. Yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk memilah mana yang bernilai dan mana yang sekadar kebisingan digital.
Ibnu Jama'ah melengkapi pemikiran ini dengan membagi etika pendidikan menjadi tiga dimensi: hubungan dengan diri sendiri, dengan guru, dan dengan ilmu itu sendiri. Bayangkan pendidikan sebagai segitiga yang harmonis ketiga sisinya harus seimbang agar bangunan pengetahuan kokoh berdiri. Jika salah satu sisi lemah, seluruh struktur akan runtuh.
Guru Bukan Robot Pengajar, Murid Bukan Wadah Kosong
Yang paling mencerahkan dari pemikiran kedua tokoh ini adalah visi mereka tentang hubungan guru-murid. Mereka tidak memandangnya sebagai relasi otoriter antara "yang tahu" dan "yang tidak tahu", melainkan sebagai kemitraan spiritual dalam pencarian kebenaran. Guru adalah teladan hidup, bukan sekadar penyampai materi. Murid adalah pembelajar aktif yang kritis, bukan penghafal pasif.
Ibnu Jama'ah bahkan menekankan bahwa guru harus memiliki kualitas moral yang tinggi: 'alim (berilmu), wira'i (hati-hati), dan saleh (berakhlak mulia). Ini mengingatkan kita bahwa mengajar bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup yang membutuhkan integritas total. Seorang guru yang korup dalam perilaku tidak akan pernah bisa melahirkan murid yang berintegritas, betapapun pintarnya ia menyampaikan teori tentang kejujuran.
Wara': Benteng di Tengah Badai Informasi
Konsep "wara'" yang ditekankan Al-Zarnuji kehati-hatian dalam menuntut ilmu terasa sangat mendesak di era digital ini. Kita hidup di zaman dimana hoaks bisa tersebar lebih cepat daripada kebenaran, dimana konten clickbait lebih menarik perhatian daripada kajian mendalam. Wara' mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, memverifikasi, dan berpikir kritis sebelum menelan mentah-mentah informasi yang kita terima.
Lebih dari itu, wara' juga berarti menjaga hati dari kotoran seperti iri hati, kesombongan intelektual, dan kompetisi yang tidak sehat. Berapa banyak komunitas akademis yang hancur karena rivalitas ego? Berapa banyak ilmuwan brilian yang jatuh karena arogansi intelektual mereka?
Dialog Antara Masa Lalu dan Masa Depan
Yang memukau adalah ketika kita menempatkan pemikiran Al-Zarnuji dan Ibnu Jama'ah bersebelahan dengan Peraturan Presiden RI No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Ternyata, 18 nilai karakter yang dirumuskan pemerintah dari religius, jujur, toleran, hingga peduli sosial semuanya sudah terangkum dalam pemikiran kedua ulama klasik ini. Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti bahwa nilai-nilai universal dalam pendidikan bersifat timeless, melampaui batas ruang dan waktu.
Namun, kita tidak boleh naif. Mengimplementasikan pemikiran klasik di konteks modern memerlukan seni kontekstualisasi. Beberapa aspek memang perlu disesuaikan misalnya, formalitas ekstrem dalam hubungan guru-murid yang bisa jadi tidak cocok dengan budaya tertentu. Atau konsep bahwa guru sebaiknya tidak mencari nafkah dari mengajar, yang di era modern justru berpotensi menurunkan kualitas profesi keguruan.
Pendidikan sebagai Transformasi, Bukan Transaksi
Inti dari pemikiran Al-Zarnuji dan Ibnu Jama'ah adalah visi pendidikan sebagai proses transformasi total intelektual, moral, dan spiritual. Bukan sekadar transaksi transfer pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Bukan sekadar mengejar ijazah sebagai tiket menuju pekerjaan bergaji tinggi. Melainkan sebuah perjalanan panjang membentuk manusia yang paripurna, yang ilmunya bermanfaat, karakternya mulia, dan kehadirannya menjadi berkah bagi semesta.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dimana pendidikan sering tereduksi menjadi sekedar pengejaran nilai tinggi, ranking universitas, dan sertifikat pemikiran kedua tokoh ini mengajak kita untuk kembali ke esensi. Mereka mengingatkan bahwa tujuan tertinggi pendidikan adalah membentuk insan yang bermanfaat, yang ilmunya menjadi cahaya bagi kegelapan, dan karakternya menjadi inspirasi bagi perubahan.
Mungkin inilah yang paling kita butuhkan saat ini: bukan sistem pendidikan yang lebih canggih, melainkan pendidikan yang lebih berakar pada kebijaksanaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang abadi. Sebagaimana kata pepatah Arab: "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu" barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Pendidikan sejati dimulai dan berakhir di sana: pada pengenalan diri yang mendalam dan kesadaran spiritual yang utuh. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kita perlu kembali merenungkan tujuan sejati pendidikan bukan sekadar mengejar nilai, tetapi membentuk manusia berjiwa luhur yang memberi manfaat bagi sesama.
By Penulis: Yusuf Setyaji, Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Fokus : "Pemikiran Pendidikan Islam Klasik dan Relevansinya dengan Pendidikan Kontemporer
