Pintar Tapi Biadab: Saat Nilai A Tak Lagi Menjamin Akhlak Anak Bangsa

Saya Yusuf Setyaji, saya pendidik muda asal Sragen dan guru Tafsir Al-Qur'an di Pondok Pesantren Ibnu Abbas. Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta ini fokus pada pendidikan Islam, karakter, dan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan modern
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Yusuf Fathyr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena krisis moral pelajar Indonesia kini kian memprihatinkan. Artikel berjudul Pintar Tapi Biadab: Saat Nilai -A- Tak Lagi Menjamin Akhlak Anak Bangsa ini menyoroti hilangnya adab dalam pendidikan dan merosotnya akhlak anak bangsa di tengah kemajuan teknologi. Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai adab dan spiritualitas dalam dunia pendidikan sebagai solusi yang ditawarkan oleh Al-Attas, Al-Faruqi, dan Ustadz Syafiq Riza Basalamah. Mereka
Mereka anak-anak yang lahir di era serba cepat, belajar dari YouTube, hafal teori fisika, pandai presentasi dengan AI tapi di sisi lain, tak ragu merendahkan teman, menebar hinaan di media sosial, atau bahkan mem-bully hingga korban kehilangan nyawa.
Awal tahun 2024, publik diguncang berita pilu: seorang siswa SMA di Cilacap bunuh diri setelah jadi korban perundungan. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di sekolah unggulan berakreditasi -A- tempat yang seharusnya menjadi simbol pendidikan terbaik negeri ini.
Guru berprestasi, fasilitas lengkap, reputasi mentereng, tapi gagal menanamkan yang paling mendasar: empati dan rasa hormat.
Cerdas Tapi Tanpa Hati: Krisis Akhlak Anak Bangsa
Kasus serupa bukan hal baru. Di kampus-kampus ternama, mahasiswa dengan IPK tinggi justru memakai jasa joki skripsi. Di dunia kerja, sarjana berderet gelar tapi tak sanggup jujur dalam laporan. Sementara di masyarakat, generasi digital yang fasih teknologi malah menjadi pelaku ujaran kebencian dan fitnah daring.
Fakta-fakta ini seperti cermin retak. Kita berhasil mencetak kepala yang cerdas, tapi gagal menumbuhkan hati yang beradab.
“Pendidikan yang memisahkan ilmu dari nilai spiritual hanya akan melahirkan generasi pintar tapi tanpa nurani.” Syed Muhammad Naquib Al-Attas
Data yang Bikin Geleng Kepala Fakta yang Menampar yaitu 5,4% sarjana menganggur (BPS, Feb 2024) PISA 2023: peringkat literasi Indonesia masih rendah. Kasus bullying dan intoleransi naik tajam Pendidikan kita gagal membentuk karakter
Akar Masalah: Ilmu yang Terpisah dari Nilai
Dua filosof Muslim besar, Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi, sudah mengingatkan bahaya ini sejak 40 tahun lalu. Keduanya menyoroti bahwa akar krisis pendidikan modern adalah dikotomi antara ilmu dan moralitas. Sistem pendidikan Indonesia masih terbelah:
Sekolah umum unggul dalam sains dan teknologi, tapi lemah dalam pembentukan karakter.
Madrasah atau pesantren kuat dalam agama, tapi sering dianggap tertinggal dalam sains modern.
Dikotomi ini adalah warisan kolonial dan dampaknya masih terasa. Kita melahirkan generasi yang jago berhitung, tapi gagal menghitung dosa. Hafal teori, tapi tak paham makna hidup.
Menurut data Kemendikbud (2023):
67% siswa sekolah umum menganggap pelajaran agama tidak relevan dengan kehidupan.
89% guru mengaku kesulitan menanamkan nilai moral dalam pembelajaran.
Padahal, pendidikan bukan sekadar soal transfer ilmu. Ia adalah soal membentuk manusia seutuhnya berpikir, berperasaan, dan berjiwa.
Pendidikan Menurut Al-Attas
Dalam konteks Akhlak anak bangsa, Al-Attas menyebut pendidikan sejati bukan tarbiyah (pengasuhan) atau ta’lim (pengajaran), tapi Ta’dib sebuah sistem pendidikan yang menanamkan adab sebelum ilmu.
Adab bukan sekadar sopan santun. Adab adalah kesadaran posisi manusia:
Tahu dirinya hamba Allah,
Menghormati sesama,
Dan menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan amal.
Dalam pandangan Al-Attas, kehilangan adab berarti kehilangan makna ilmu. Seseorang bisa punya IQ tinggi, tapi jika tak punya rasa takut kepada Allah, ilmunya bisa berubah jadi alat perusak bukan pemberi manfaat.
Cermin Dunia Nyata Akhlak Anak Sekarang
Kasus perundungan di Cilacap itu membuka luka lama pendidikan kita. Pelakunya bukan anak nakal jalanan tapi siswa berprestasi, dari keluarga mampu, dan punya akses pendidikan terbaik. Secara kognitif, ia tahu bahwa bullying itu salah. Secara hukum, ia tahu bahwa perbuatan itu bisa dipenjara.
Namun secara spiritual, ia mati rasa. Tak punya empati, tak takut pada Tuhan. Itulah bukti nyata bahwa pengetahuan tanpa adab bisa menjadi senjata mematikan.
Krisis Akhlak Anak di Dunia Maya
Kini krisis itu menjalar ke dunia maya, medsos yang seharusnya jadi ruang berbagi ilmu, berubah jadi ladang fitnah dan cercaan. Caci maki menjadi hiburan, menjatuhkan orang jadi konten viral.
Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Syafiq Riza Basalamah mengingatkan keras:
“Media sosial seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, tapi kini justru banyak disalahgunakan untuk mencaci, mencela, dan menebar kebencian.”
Beliau lalu mengutip hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam Bukhari:
“Dua orang yang saling mencaci satu sama lain, keduanya berdosa, dan dosa itu ditanggung oleh yang pertama kali memulai.”
Ustadz Syafiq menegaskan,
“Ketika seseorang membalas cacian dengan cacian, keduanya telah menjadi dua setan.”
Maka, diam bukan tanda lemah diam adalah bentuk kekuatan spiritual. Orang yang mampu menahan jari dari komentar jahat di dunia maya sesungguhnya sedang menundukkan nafsunya.
Beliau juga mengingatkan:
“Ketakwaan seorang mukmin itu tampak pada jari-jarinya, pada lisannya, pada pandangannya. Semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.”
Betapa banyak dosa kini lahir bukan dari mulut, tapi dari ujung jari.
Fenomena Krisis Makna Belajar
Menurut riset Pusat Kajian Kebijakan Pendidikan (2023):
• 72% mahasiswa memilih jurusan karena tren, bukan panggilan jiwa.
• 65% tidak tahu arah hidup setelah lulus.
• 58% merasa ilmu yang mereka pelajari “tidak berguna” di dunia nyata. Inilah yang disebut krisis makna belajar. Mahasiswa belajar untuk nilai, bukan untuk hidup. Belajar untuk karier, bukan untuk kebenaran.
Ismail Raji Al-Faruqi menilai bahwa fenomena ini terjadi karena ilmu modern sudah terputus dari wahyu. Ilmu dianggap netral, padahal nilai moral seharusnya menjadi rohnya.
“Tidak ada ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmu adalah ilmu Allah.” Al-Faruqi
Belajar biologi seharusnya membuat kita kagum pada ciptaan Allah. Belajar ekonomi seharusnya menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial, bukan sekadar mengejar profit. Belajar hukum seharusnya menegakkan keadilan, bukan mencari celah untuk menindas.
Peran Guru, Orang Tua, dan Siswa
Revolusi nilai tidak bisa hanya mengandalkan sistem. Ia harus dimulai dari manusia.
Untuk guru:
Jadilah teladan, bukan sekadar pengajar.
Integrasikan nilai Islam dalam setiap pelajaran, sekecil apapun.
Evaluasi bukan hanya nilai kognitif, tapi juga karakter.
Untuk orang tua:
Pilih sekolah yang seimbang antara ilmu dan iman.
Jadilah role model di rumah, karena anak meniru, bukan mendengar.
Ajarkan tanggung jawab dan rasa malu sejak dini.
Untuk siswa dan mahasiswa:
Niatkan belajar sebagai ibadah, bukan gengsi.
Tanyakan pada diri sendiri: “Untuk apa aku menuntut ilmu?”
Jadikan ilmu sebagai jalan mengenal Allah, bukan alat membanggakan diri.
Revolusi Pendidikan: Dari Cerdas ke Beradab
Masalah pendidikan kita bukan sekadar bullying, joki skripsi, atau pengangguran sarjana. Itu semua hanya gejala. Penyakit sesungguhnya adalah sistem yang memisahkan ilmu dari spiritualitas.
Pintar tanpa adab = berbahaya
Ilmu tanpa iman = buta
Prestasi tanpa integritas = sia-sia
Sistem Konvensional Sistem Ta’dib (Integratif)
Fokus: nilai akademik Fokus: ilmu + adab
Tujuan: IPK tinggi Tujuan: Insan Kamil (manusia sempurna)
Output: pintar tapi kosong Output: pintar dan beradab
Seperti ditegaskan Al-Attas:
“Tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan insan kamil — manusia sempurna dalam ilmu, iman, dan amal. Bukan robot pintar tanpa nurani.”
Kini, pilihan ada di tangan kita.
Apakah kita akan terus melahirkan generasi pintar tapi biadab,
atau berani menanam benih generasi cerdas yang beradab?
Oleh: Yusuf Setyaji, Mahasiswa Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
#PendidikanIslam #Ta’dibBukanTarbiyah #GenerasiBeradab #StopBullying #AlAttas #AlFaruqi #SyafiqRizaBasalamah
