Ngepit Trisna Jadi Ruang Kolaborasi Warga melalui Olahraga, UMKM, dan Seni Budaya
Tulisan dari Shafira Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Desa Branjang Kabupaten Semarang, 31 Oktober 2026 – Acara Ngepit Trisna diselenggarakan di Lapangan Reformasi Desa Branjang, Dusun Truko, Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Rangkaian kegiatannya dimulai dengan bersepeda bersama, lalu dilanjutkan festival yang menampilkan bazar usaha lokal, layanan kesehatan gratis, pertunjukan seni tradisional, serta hiburan bagi pengunjung dari segala usia. Acara ini berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat desa untuk memamerkan potensi lokal sekaligus melestarikan seni tradisional.

Ngepit, yang dalam bahasa Jawa berarti bersepeda, menjadi kegiatan pertama dalam rangkaian acara. Peserta mulai registrasi sejak pukul 05.30 WIB dan diberangkatkan secara bertahap dalam beberapa gelombang. Sepanjang menyusuri rute bersepeda, peserta dapat menikmati dan mengunjungi UMKM warga mulai dari sapi perah, kopi Branjang, keripik, gula aren, sapu ijuk, hingga resin dari Sigur.id sebelum mencapai finish.
Sejak awal acara, area lapangan desa dipenuhi dengan stand UMKM yang dikelola langsung oleh warga setempat. Pengunjung dapat memeriksa tekanan darah secara gratis, membeli berbagai makanan dan minuman, serta mencoba kegiatan melukis dan permainan trampolin. Para pemilik usaha lokal juga menjual pakaian santai seperti sarung. Bagi pengunjung anak-anak, panitia menyediakan area bermain yang dilengkapi dengan balon, permainan kolam ikan, dan kegiatan lainnya.
Di sisi lapangan, panggung berukuran besar disiapkan sebagai pusat rangkaian pertunjukan Rangkaian penampilan dibuka dengan tiga tarian tradisional, yaitu Sesonderan, Semarangan, dan Angguk Jos. Para penari tampil mengenakan busana kompak berwarna biru dan putih, disaksikan pengunjung yang memadati area depan panggung. Setelah sesi tari, acara dilanjutkan dengan penampilan musik vokal yang membawakan dua lagu, yakni “Negoro Angin” dan “Ciinan Bana”. Setelah penampilan nyanyian selesai, kegiatan acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah doorprize kepada para pengunjung. Pada sesi ini, panitia menyediakan tiga hadiah bagi para pengunjung yang dapat menjawab pertanyaan seputar dengan rangkaian pertunjukan yang telah ditampilkan. Pertanyaan tersebut memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk mengingat kembali pertunjukan seni yang telah disaksikan. Pembagian doorprize ini juga meningkatkan interaksi antara penyelenggara dan pengunjung, sehingga masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan sebagai penonton, tetapi juga dapat berpartisipasi langsung dalam kegiatan.
Rangkaian acara tersebut akhirnya diakhiri dengan penampilan dari kelompok Sambat Budaya yang mempersembahkan tari kuda lumping. Sambat Budaya adalah grup musik yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip). Pertunjukan kuda lumping menjadi penampilan final dalam rangkaian hiburan acara Trisna Ngepit yang diadakan di Desa Branjang. Kehadiran kelompok Sambat Budaya juga menambah variasi dalam pertunjukan seni yang ditampilkan, terutama melalui seni tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat.
Melalui Ngepit Trisna, Desa Branjang menunjukkan bahwa olahraga, seni, dan kegiatan ekonomi warga dapat berjalan dalam satu acara. Semoga kegiatan serupa dapat digelar secara rutin sehingga semakin banyak orang mengenal potensi budaya dan UMKM Desa Branjang.

