kumparan
Entertainment28 Februari 2020 11:34

'The Man Standing Next': Kala 'Soeharto' dari Korsel Dibunuh Rekan Sejawatnya

Konten kiriman user
★★★★☆ | Shandy Gasella
043DB01B-9674-4435-A323-1611E3F3FE1F.jpeg
Stil adegan film The Man Standing Next | Showbox
Bagi sebagian orang, ia dikenal sebagai sosok pembungkam jeritan rakyat, salah seorang koruptor terbesar di dunia dengan rekening-rekening gendut di Bank Swiss. Bagi sebagian yang lain, ia juga dikenal sebagai Bapak Pembangunan, Bapak yang menyejahterakan rakyatnya. Hingga sekarang kubu pemuja dan hater-nya masih berdebat tak habis-habis tentangnya.
ADVERTISEMENT
Bukan, saya tidak sedang membicarakan mantan presiden kita Soeharto, tetapi melalui film Korsel berjudul ‘The Man Standing Next’ ini saya baru mengetahui bahwa di sana juga ada sosok yang menyerupai Soeharto, yakni Park Chung-hee, menjadi presiden di Korsel setelah ia melakukan kudeta pemerintah sebelumnya di tahun 1961. Lantas ia berkuasa sebagai presiden Korsel, tak tergantikan selama 18 tahun! Hingga pada akhirnya ia dibunuh oleh rekan sejawatnya sendiri pada tangga 26 Oktober 1979.
Film yang disutradarai Woo Min-ho (‘Inside Man’, ‘The Drug King’) ini mendramatisasi 40 hari hingga ke hari H momen pembunuhan tersebut. Lee Byung-hun (‘A Bittersweet Life’, ‘I Saw the Devil’) berperan sebagai Kim Kyu-pyeong yang didasarkan pada sosok nyata bernama Kim Jae-gyu, pimpinan Badan Intelijen Korsel (KCIA), ialah orang yang membunuh presiden Park Chung-hee.
EA2C4FAE-B810-428A-BE65-E57C64BD3C00.jpeg
Stil adegan The Man Standing Next | Showbox
Di kehidupan nyata juga terjadi polemik akan perbuatan Kim yang membunuh presiden Park — apakah motifnya karena murni gelap mata, atau karena kemuakannya terhadap sikap otoriter presiden yang dianggapnya sudah mengkhianati cita-cita mereka bersama sewaktu melakukan revolusi. Nah, film yang naskahnya ditulis sutradara Woo Min-hoo sendiri ini pada akhirnya ikut melanggengkan debat tersebut. Tergantung pada interpretasi kita, motif Kim membunuh presiden dibiarkan terbuka, ia tak menyeret kita untuk mempercayai salah satu motif tertentu.
ADVERTISEMENT
Sepertinya lumrahnya film-film Korsel, cerita film ini langsung dimulai di pusara konflik. Sineas Korsel tidak suka bertele-tele menghadirkan babak satu yang hanya berisi pengenalan tokoh. Dalam sinema Korsel, tokoh-tokoh dikenalkan, berikut perangainya, beriringan bersama guliran konflik cerita. Tak ada adegan-adegan yang menampilkan misalnya siapa Kim sewaktu kecil, sewaktu sekolah, dan sebagainya, tetapi melalui rentetan kejadian selama film bergulir, melalui dialog-dialog, kita bisa mengenal dan memahaminya, luar dalam. Ini salah satu kehebatan sineas Korsel dalam penulisan skenario.
0FE15EA1-5934-46AA-A661-7AB567B2AE23.jpeg
Stil adegan The Man Standing Next | Showbox
‘The Man Standing Next’ memperlakukan sosok Kim sebagai pahlawan tragis dalam drama Shakespeare. Ia begitu menarik simpati kita dengan kompas moralnya dalam bertindak sebaik-baiknya bagi kebaikan banyak orang. Ada pergulatan batin berkecamuk dalam dirinya, juga pergulatan eksternal; tentang merasa kurang dihargai, disikut rekan kerja, yang sama-sama menguras pikiran dan tenaganya.
ADVERTISEMENT
Kim dibawakan Lee Byung-hun dengan pembawaan yang mirip kala bermain sebagai Sun-woo dalam ‘A Bittersweet Life’ yang secara prinsip karakter memiliki kemiripan satu sama lain. Di film ini sosok seorang petinggi Intelijen Korsel yang mumet, yang mesti memberikan saran-saran yang tak populis atau berseberangan dengan opini presiden sendiri — di saat yang bersamaan presiden memiliki pengawal yang suka menjilat pantatnya, Lee Byung-hun, dengan segenap pengalaman aktingnya semakin menunjukkan kecapakan akting yang bukan main.
Lihat saja adegan ketika ia pada suatu malam memasuki kediaman presiden secara sembunyi-sembunyi demi untuk menguping apa yang ia bicarakan bersama pengawal kepercayaannya, saya tak ingin terlalu detil menjelaskan adegan tersebut, tetapi itu menjadi bukti akan kehebatan Byung-hun sebagai aktor, dan Anda perlu menyaksikannya sendiri untuk mengerti apa yang sedang saya ocehkan ini.
8713B212-42C7-4FCB-A23C-611532BCD038.jpeg
Stil adegan The Man Standing Next | Showbox
Tak perlu paham-paham amat sejarah Korsel untuk dapat mengikuti kisah film ini. yang dibutuhkan hanyalah perhatian dan kecermatan kita saja kala menonton. Terasa penuh sesak akan karakter dan subplot di sepertiga awal film, tetapi percayalah usaha kita terbayarkan lunas di babak akhir. Adegan puncak, yakni momen pembunuhan sang presiden, digarap sedemikian menegangkan dan mengerikan, menguarkan rasa ketidaknyamanan tak berperi. Saya betul-betul tak siap menyaksikannya.
ADVERTISEMENT
Ini salah satu film terbaik yang bisa anda saksikan di bioskop pekan ini. Bakda kesuksesan ‘Parasite’ yang membuka mata moviegoer awam akan kehebatan film-film Korsel, sudah selaiknya anda menonton film ini juga, sebelum keburu turun layar!
‘The Man Standing Next’ tayang di jaringan bioskop CGV dan Cinepolis.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan